Membumikan Ajaran Teologi Ala Hassan Hanafi

0
23

BincangSyariah.Com – Hassan Hanafi, pemikir modern Islam dari Mesir. Seorang Guru Besar Filsafat dari Universitas Kairo. Ia utarakan sosoknya dalam Min al-Aqidah ila al-Tsuroh al-muqaddimatu al-Nazhariyah;

“Keimanan kami  adalah “tradisi dan modernisasi”. Kami berusaha mencari kemungkinan pemecahan krisis modernitas  dengan menengok kepada warisan  intelektual klasik. Dan merekonstruksi warisan klasik untuk merespons zaman modern untuk menggapai kemauan,”.

Latar Belakang Pemikiran Hanafi

Setiap pemikir tak terlepas dari pengaruh sekelilingnya. Begitu pun Hanafi. Hasil pemikirannya tak lahir dari ruang kosong. Ada dialektika-historis yang panjang untuk melahirkan magnum opusnya tersebut.

Tak dapat dipungkiri, Hanafi tumbuh dewasa tatkala Mesir sedang bergejolak. Ia saksi hidup;   kekacauan politik dan sosial di negeri seribu menara tersebut. Ia bahkan turut ambil bagian dalam pemberontakan melawan Inggris di Terusan Suez pada 1951 dan Revolusi Mesir pada 1952.

Saat usia 17 tahun ia bergabung dengan Ikhwanul Muslimin.  Ia sangat mengagumi pemikiran Muhammad Iqbal dan Jamaluddin Afghani. Pencetus Pan Islamisme itu memengaruhi jiwa nasionalisme Arab dalam dirinya.

Kesadaran nasional (national consciousness) Hanafi bersamaan pula dengan dibentuknya negara Israel atas dukungan penuh Inggris. Peristiwa itu dikenal dengan Deklarasi Balfour yang menjamin pembentukan negara Yahudi di tanah Palestina.

Seiring berjalannya waktu, seperti yang di ungkapkan Profesor Azyumardi Azra, dalam Pengantar buku Hanafi versi terjemahan Bahasa Indonesia, religious consciousness (kesadaran agama) yang ada diri Hanafi pun terkikis. Itu terjadi tatkala ia telah mendalami filsafat. Ia pun meragukan konsep gerakan (harakah) yang digemborkan para Ikhwanul Muslim. Konsep alnahdlah Islamiyah (Kebangkitan Islam), baginya tak ada relevansinya dengan relevansi zaman.

Keraguan akan gerakan Islam versi Ikhwanul Muslimin, membawa Hanafi kepada kesadaran baru; kesadaran filosofis. Kesadaran ini semakin meningkat tatkala ia melanjutkan studi ke Prancis. Peristiwa ini terjadi pada sekitar tahun 1956. Ia berkeinginan untuk merumuskan apa yang ia sebut the General Islamic Method yang berarti merumuskan Islam sebagai metode.

Pengalamannya di Perancis merupakan titik tolak dalam membentuk wacana intelektualnya. Proyek besar intelektualnya pun dimulai. Ia merumuskan at-turats wa tajdid—tradisi dan modernitas—gagasan ini untuk menghidupkan kembali tradisi Islam dan merekonstruksinya dalam bingkai modern.

Rekonstruksi Teologi

Konsep teologi merupakan tema pokok yang ia sasar dalam mewujudkan wacana metode baru pemahaman Islam. Hassan Hanafi menyadari bahwa dunia Islam kontemporer tak berdaya menghadapi modernitas. Alih-alih merespons kemajuan Barat, umat Islam  justru terjebak dalam dogma teologis yang membelenggu dan sempit.

Ia mengutuk sistem teologi klasik yang ia sebut hanya alat politik, untuk melanggengkan penguasa monarki absolut. Imbasnya kaum muslim terjebak dalam kungkungan kekuasaan politik. Untuk itu, ia ingin menjadikan teologi tidak sekadar menjadi dogma keagamaan yang kosong dan tidak bermakna. Untuk itu, Hanafi pun mewajibkan umat Islam untuk meninjau kembali konsep teologi klasik itu.

Untuk itu, Hassan Hanafi pun merumuskan teologi pembebasan. Ia menggeser konsep teologi klasik yang bersifat etnosentris, menuju  teologi modern yang antroposentris; dari Tuhan di langit kepada manusia di bumi. Suatu usaha untuk menggeser dari tekstual menjadi kontekstual. Lihat tulisannya dalam Min al-Aqidah ila al-Tsuroh al-muqaddimatu al-Nazhariyah;

“Tuhan memiliki kebebasan  dan kehendak mutlak. Untuk itu dalam pandangan teolog klasik,kebebasan manusia itu  berlawanan dengan kehendak Tuhan. Padahal sejatinya yang terbatas itu kehendak alam, bukan kehendak Tuhan. Tuhan adalah satu sisi dengan rasionalitas dalam bentuk syariah dan wahyu”

Persoalan wahyu pun ia kritik; “wahyu  menurut para teologi klasik merupakan sesuatu yang berlawanan dengan akal. Padahal sejatinya wahyu adalah satu sisi, dan akal pada sisi yang lain dari mata uang yang sama.”

Bagi Hassan Hanafi, wahyu itu ditujukan kepada manusia, untuk menjelaskan peran penting manusia di muka bumi.  Lebih lanjut, firman suci Tuhan (baca; wahyu) diproyeksikan untuk mendeskripsikan realitas fisik dan bersifat ruhaniyah. Pada peran sentralnya wahyu bertugas untuk membuka tabik; agar seorang insan dapat memanifestasikan pesan wahyu (kitab suci) yang bernilai ideal itu ke dalam tataran realitas melalui ajaran tauhid secara aktual.

Pendek kata, sejatinya, tujuan wahyu bukan untuk menjelaskan zat yang sudah terpesional dalam diri Tuhan. Para teolog klasik telah keliru. Mereka mengubah titik berat wahyu dari Tuhan kepada manusia menjadi dari manusia kepada Tuhan.

Baca: Fazlur Rahman: Tokoh Pembaharu Islam dari Pakistan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here