Membincang Filosofi Ketupat

0
190

BincangSyariah.Com – Tradisi yang menyertai perayaan Idul Fitri di Indonesia adalah ketupat. Ketupat adalah sejenis panganan bertekstur padat berbahan beras dengan pembungkus anyaman daun kelapa. Bagi masyarakat Jawa, ketupat seolah menjadi kuliner wajib Lebaran.

Penamaan ketupat pun sarat ajaran tentang kehidupan. Konon, menurut riwayat sejarahnya, ketupat diperkenalkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga, pendakwah Islam Nusantara yang terkenal persuasif dalam berdakwah dengan menggunakan jalan budaya sebagai sarananya.

Konon, dulu ketupat digunakan sebagai salah satu sesajian upacara umat Budha, sebagai simbolisasi permintaan maaf. Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari kata bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Sehingga dengan ketupat, sesama Muslim diharapkan mengakui kesalahan dan saling memaafkan serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat tersebut.

Ngaku lepat umumnya diimplementasikan dengan tradisi sungkem bersimpuh meminta maaf kepada orangtua. Dengan begitu kita diajarkan untuk senantiasa menghormati orangtua kita, tidak angkuh, dan tidak sombong. Juga sebagai tanda cinta kasih seorang anak kepada orangtua atau orangtua kepada anak-anak mereka. Proses ngaku lepat pun tidak berkutat pada sungkem kepada orangtua saja, tapi lebih dari itu dianjurkan terhadap semua sanak saudara dan tetangga kita. Sehingga di sini ketupat menjadi simbol “maaf” bagi umat Islam.

Dari segi isi, ketupat memiliki makna filosofi yang sangat dalam pula. Beras yang menjadi isi dari ketupat merupakan simbol dari nafsu dunia, sedangkan janur merupakan kependekan dari “jatining nur” atau bisa diartikan hati nurani. Jadi, ketupat adalah simbol dari nafsu dunia yang bisa ditutupi oleh hati nurani. Setiap manusia memiliki hawa nafsu, tetapi nafsu itu bisa dikendalikan atau dikekang oleh hati nurani.

Baca Juga :  Treatment Nabi Saw. Supaya Tidak Mudah Marah 

Jika dilihat dari segi bentuk, ketupat yang menyerupai hati berikut jalinan anyaman rumit yang membungkusnya, hal ini mencerminkan betapa rumitnya hati manusia dalam menyikapi kesalahan dan godaan kehidupan. Kemudian, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua, hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampun dari segala kesalahan dan dosa.

Demikianlah filosofi ketupat, makanan khas nan syarat makna yang meliputinya. Dibalik pembuatannya yang rumit tersimpan sejarah dakwah Islam yang khas ala Nusantara. Begitu juga tradisi-tradisi lebaran lain yang hanya dapat kita temukan di bumi Indonesia ini. Penting diketahui bahwa tradisi khas Nusantara seperti ketupat dan halal bi halal ini merupakan budaya dan bukanlah bagian dari agama. Meskipun jika dibedah lebih lanjut kita dapat menemukan sisi agama di dalamnya, sebagaimana telah disinggung di atas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here