Membaca Tafsir Masjid Salman ITB: Surat At-Takatsur

0
679

BincangSyariah.Com – Pada hakikatnya, cinta adalah kecenderugan hati pada sesuatu. Menurut Erich Fromm, dengan cinta manusia akan terikat secara interpersonal dengan apa yang dicintainya. Cinta pula yang akan membawa manusia pada puncak eksistensinya. Jika demikian, maka cinta tersebut harus didasarkan pada sumber pertama cinta, yang akan membawa manusia pada pengalaman tertingginya, yakni ikatan spiritual.

Namun berbeda halnya jika cinta tersebut didasarkan pada nafsu semata. Yakni, yang tenggelam dalam cinta dunia. Bukan menjadikannya lebih dekat dengan sumber pertama cinta, malah membuatnya semakin jauh. Karena hal itu mengakibatkan kelalaian, bahkan hingga kematian datang.

Seperti apa dan bagaimana cinta yang melalaikan itu, dideskripsikan dalam Alquran surat at-Takatsur. Kali ini, surat al- Takatsur akan diurai dengan sudut pandang Tafsir Salman.

Sekilas Tentang Tafsir Masjid Salman ITB

Tafsir ini disusun oleh Tim YPM (Yayasan Pembina Masjid) Salman ITB dengan orientasi suratnya adalah juz 30. Tafsir ini mengintegrasikan antara tafsir klasik dan ilmu pengetahuan modern. Sehingga, hanya ayat-ayat tertentu saja yang ditafsirkan. Atau, ayat-ayat yang berpotensi bisa ditafsirkan menggunakan pendekatan saintifik.

Sedikit gambaran untuk sistematika penafsiran dalam Tafsir Salman. Di awal pembahasannya, disuguhkan dengan “pengantar” surat, seperti jumlah ayat, maksud atau pokok isi dari surat, keterkaitan dengan surat setelahnya. Jika ada sabab an-nuzul, juga ditampilkan di bagian pengantar ini. Kemudian ditampilkan ayat berserta artinya, yang akan diurai lebih komprehensif. Lalu dijelaskan tentang “telaah kebahasaan”. Di subbab ini, dibahas mengenai kata yang menyimpan makna mendalam, sehingga ditafsirkan lebih jelas. Setelah itu, diuraikan bagaimana “tafsir ilmiah terdahulu” dari surat tersebut dengan diikuti “tafsir ilmiah Salman”. Biasanya di bagian ini, akan diurai lebih lanjut dengan pendekatan ilmu pengetahuan modern perspektif Tafsir Salman. Dan, diakhiri dengan penutup serta kontributor dari tulisan tersebut.

Baca Juga :  Metode Irfani dalam Menafsirkan Alquran Menurut Ibnu Arabi

Pesan Surat At-Takatsur: Berlindung dari Cinta yang Salah

Surat at-Takatsur terdiri dari 8 ayat, diturunkan di Mekkah setelah surat al-Kautsar. Dalam ayat pertamanya, Allah sebenarnya mengingatkan kepada manusia – yang akan atau telah- tenggelam dalam cinta pada dunia, bahkan hingga mati. Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa cinta bisa mengikat Sang Pecinta dengan yang dicintainya. Jika semakin kuat ikatan itu, maka akan menjadikan sang pencintanya bagian dari yang dicintainya. Begitu bahayanya apabila yang dicintainya adalah dunia ini, yang sifatnya sementara.

Maka dari itu, dalam ayat selanjutnya Allah mengulang bahkan menggunakan kalimat sumpah untuk memperkuat.

كَلاَّ سوفَ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah begitu, kelak kamu pasti akan tahu akibatnya” (4)

Hal ini bisa diibaratkan dengan kita sendiri. Ketika ada orang yang tidak mempercayai suatu kebenaran, kita akan mengulang-mengulang sebuah peringatan untuk memeritahukan kepadanya. Allah pun demikian. Bahkan Allah mengulanginya dalam enam ayat berikutnya. Ini mengisyaratkan kepada kita bahwa begitu dahsyatnya akibat yang akan menimpa manusia jika kelalaian telah ada dalam dirinya, sebab kecintaannya terhadap dunia.

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ *** لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yaqin (5) Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim (6).”

Dari kedua ayat tersebut, Allah mengingatkan manusia dengan nalar dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang, sehingga kita bisa mengetahui makna-makna yang ada dalam Al-Qur’an. Namun, karena ikatan cinta terhadap dunia sudah begitu kuat sehingga menutupi akal sehatnya, maka Allah memperingatkannya sekali lagi. Bahwa kelak manusia akan melihat neraka Jahim dengan pengetahuan yang hakiki (‘ainul yaqin).

Namun, peringatan-peringatan tersebut tetap saja tidak akan berimbas apapun, kecuali bagi mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat. Mereka baru akan mmengetahui akibatnya sesaat menjelang kematian. Bahwa kekuasaan, kemewahan ataupun kemegahan yang selama ini dibangga-banggakan tidaklah memberi manfaat apa pun.

Baca Juga :  Tafsir: Bagaimana Al-Qur'an menjelaskan Cahaya dan Kegelapan?

Dari surat at-Takatsur ini, kita belajar tentang kekuatan cinta. Mari berlindung dari cinta yang salah, cinta yang bisa melalaikan kita dari ingat kepada Allah. Seyogyanya, kita jadikan realitas dunia ini sebagai alat untuk mencitai-Nya. Dan, mari meminta cinta yang hakiki dari Sang Pemilik Cinta Sejati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here