Membaca Posisi Kitab Hadis Karya Imam As-Syafi’i

0
184

BincangSyariah.Com – Imam as-Syafi’i tidak hanya berperan penting dalam bidang fikih dan  ushul fikih saja, beliau juga berperan penting dalam bidang hadis dan ilmu hadis. Salah satu kitab hadis yang masyhur pada abad kedua hijriyah adalah kitab Musnad as-Syafi’i. Kitab ini tidak disusun oleh Imam Syafi’i sendiri, melainkan oleh pengikutnya yaitu al-A’sham yang menerima riwayat dari Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi dari as-Syafi’i. Hadis-hadis yang terdapat dalam Musnad as-Syafi’i merupakan kumpulan dari hadis-hadis yang terdapat dalam kitabnya yang lain yaitu al-Umm.

MusnadKendati demikian, Kitab Musnad as-Syafi’i tidaklah termasuk dalam sembilan kitab (kutub al-tis’ah) sumber hadis standar. Kutub al-tis’ah ini terdiri atas lima kitab yang disepakati para ulama sebagai kitab sumber pokok yang dikenal dengan Kutub al-Khamsah, yaitu Shahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan an-Nasa’i dan Sunan at-Tirmidzi. Ada sebuah kitab lagi yang oleh para ulama dimasukkan seagai kitab standar dalam urutan keenam, namun para ulama tidak sependapat tentang nama kitab standar yang menempati urutan keenam ini. Menurut Ibn Thahir al-Maqdisi, kitab tersebut adalah Sunan Ibn Majah. Menurut Ibn al-Atsir keenamnya adalah al-Muwatha’. Sedangkan menurut pendapat Ibn Hajar al-Asqalani kitab keenamnya adalah Sunan al-Darimi.

Di antara para ulama ada lagi sebuah kitab yang diklaim sebagai kitab pokok yakni Musnad Ahmad Ibn Hanbal. Sehingga dengan demikian secara kumulatif dari berbagai pendapat ulama terdapat sembilan kitab hadis pokok yaitu; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Ibn Majah, al-Muwatha’, Sunan al-Darimi dan Sunan Ahmad Ibn Hanbal.

Dalam kitab al-Umm, Imam Syafi’i banyak menggunakan hadis Nabi sebagai landasan dalam istinbath hukum. Sebagai seorang ulama yang diberi gelar Nasirus Sunnah, Imam Syafi’i tentu telah melakukan upaya penyaringan terhadap hadis-hadis yang beliau gunakan. Walaupun tidak termasuk dalam kitab standar yang dibakukan oleh ulama hadis, hadis-hadis yang termuat dalam kitab tersebut paling tidak berstatus shahih menurut kacamata Imam Syafi’i. Wallahu A’lam bis Shawab.

Baca Juga :  Potret Kehidupan Keluarga di Masyarakat Arab pra Kenabian Muhammad di dalam Alquran (Bagian 1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here