Memaknai Ulang Konsep Wali di Era Kekinian

0
8

BincangSyariah.Com –  Dalam khazanah tasawuf, wali merupakan konsep yang banyak diperdebatkan. Keberadaan wali beserta karamahnya menimbulkan kontroversi di kalangan internal umat Islam. Terlebih dalam sejarah panjang kelahiran Islam di Nusantara, peran para wali sangat kuat. Di berbagai wilayah di Nusantara, makam para wali selalu ramai diziarahi masyarakat. Bahkan bagi K.H. Musthofa Bisri wali tidak hanya sebagai kekasih Allah, melainkan bolone Allah atau lawan dari istilah musuh.

Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, Islam disebarkan oleh para wali yang merupakan kaum sufi. Mengenali konsep wali menjadi penting dilakukan. Karena kebanyakan orang masih memandang bahwa kehidupan wali adalah kehidupan asketis yang meminggirkan urusan dunia. Jika ini acuannya, maka umat Islam di Indonesia akan mengalami kemunduran peradaban.

Sedangkan menurut Agus Sunyoto, para wali justru sangat berkontribusi bagi peradaban Nusantara. Terutama berkaitan dengan pendidikan, seni dan budaya, dan pengembangan keilmuan. Selain menyebarkan agama Islam dan menempuh jalan sufi, mereka juga sangat memberikan perhatian pada kehidupan dunia. Sehingga perlu pemaknaan ulang konsep wali dengan perkembangan zaman.

Dalam kitab Bughyat al-Adzkiya’, syekh Mahfudz at-Tarmasi menjelaskan konsep wali. Mengutip Al-Qusyairi, Syekh Mahfudz membagi makna wali menjadi dua. Pertama, wali bermakna orang yang segala sesuatunya diatur dan dijaga oleh Allah. Kedua, wali bermakna orang yang menjaga ibadah dan ketaatannya kepada Allah.

Makna pertama didasarkan pada wazan fa’il dengan makna maf’ul yang menempatkan posisi wali sebagai objek. Makna kedua didasarkan pada wazan fa’il shigah mubalagah yang menempatkan kata wali sebagai orang yang sangat menjaga dalam menjaga ibadah dan ketaatannya kepada Allah. Sehingga tidak pernah ada celah untuk melakukan kemaksiatan. Kedua makna wali ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Makna wali yang pertama merupakan konskuensi atas makna wali kedua.

Wali adalah orang yang sangat serius menjaga ibadah dan ketaatannya kepada Allah sehingga tidak ada celah baginya untuk mendurhakai Allah. Dalam memahami konsep ini, makna Ibadah dalam persepsi kita harus diperluas. Islam sendiri menjabarkan beragam ibadah. Ada ibadah mahdhoh (ritual) – ibadah ghoiru mahdhah (non-ritual), ibadah lazimah (individual) – ibadah muta’addidah (manfaat sosial), dan seterusnya. Artinya horizon ibadah sebenarnya luas, sehingga pemaknaan ibadah pun juga tidak boleh dipersempit.

Orang yang melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain juga masuk dalam kategori ibadah. Misalnya mereka para tenaga kesehatan yang berjuang melawan wabah pandemi, pejabat yang bekerja untuk kepentingan rakyat, pedagang yang menghidupi keluarganya, semuanya masuk dalam kerangka orang yang beribadah. Mereka Dari sinilah pentingnya memaknai kembali pemahaman atas wali dalam konteks kekinian. Wali harus dimaknai secara seimbang antara orientasi ukhrowiyah dan dunyawiyah.

Syekh Mahfudz juga menyebutkan tiga ciri wali, yakni Syaghluhu billah (menyibukkan diri dengan Tuhan), firoruhu ilallah (tempat pelariannya hanya Allah), dan hammuhullah (perhatiannya hanya Allah). Selain tinjauan ulang atas ibadah yang sudah dijelaskan, dalam konsep wali semangat ketauhidan menempati posisi penting. Seorang wali dalam segala aktivitas, orientasi dan perhatian kehidupannya, baik vertikal maupun horizontal, selalu didasarkan pada tauhidullah (ketauhidan kepada Allah).

Contoh tenaga kesehatan yang berjuang melawan wabah pandemi, pejabat yang bekerja untuk kepentingan rakyat, pedagang yang menghidupi keluarganya tidak dapat masuk dalam kategori wali jika apa yang dilakukan berhenti pada nilai kebermanfataan sosial. Harus ada pondasi bahwa apa yang dilakukannya memiliki orientasi kepada Allah. Sehingga keseimbangan antara yang ukhrawi dan dunyawi menjadi penting dalam memahami wali. (Baca: Hirarki Kosmos dan Negara Para Wali Allah)

Dengan demikian, wali di era kekinian tidak hanya mereka yang menyibukkan diri di tempat-tempat sunyi jauh dari persoalan sosial. Medan perjuangan di bidang politik, ekonomi, teknologi, pendidikan, dan seterusnya adalah medan juang yang dulu juga dimasuki para wali di Nusantara. Sepanjang dalam ketaatan dan ketauhidan-Nya, aktivitas yang bermanfaat di segala bidang kehidupan apapun berpeluang menjadikan seseorang menjadi waliyullah (kekasih Allah).

Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here