Memakmurkan Masjid “Yes”, Politisasi Masjid “No”!

0
309

BincangSyariah.Com – Belakangan ini isu politisasi masjid kembali mengembus kencang seiring dengan semakin dekatnya musim pilkada dan pilpres. Masjid, oleh sebagian kelompok dijadikan ajang kampanye politik yang provokatif dengan bungkus agama. Ceramah-ceramah dan tak jarang khutbah jumat kerap kali bermuatan politik yang sarat dengan ujaran kebencian dan permusuhan. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat fungsi dasar masjid adalah sebagai tempat beribadah yang menyejukkan.

Dari segi hukum, sebenarnya telah ada regulasi yang mengatur perihal politisasi masjid ini. Undang-undang No. 10 Tahun 2006 tentang Pilkada dan Peraturan KPU No. 4 Tahun 2017 tentang Kampanye Pilkada menyatakan dengan jelas bahwa kampanye politik dilarang dilakukan di tempat ibadah, tempat pendidikan, rumah sakit, dan gedung pemerintah. Namun aturan ini seperti kurang bergaung dan tak banyak diperhatikan. Kurangnya sosialisasi, rendahnya pendidikan dan kedewasaan berpolitik, dan minimnya sanksi tegas membuat aturan ini seperti angin lalu saja.

Berbagai kalangan sebenarnya juga sadar bahwa kondisi ini harus segera dihentikan. Pada Januari 2018 lalu, misalnya, Forum Silaturrahmi Takmir Masjid se-Jakarta menolak dengan tegas segala bentuk politisasi masjid. Langkah ini diikuti Dewan Kemakmuran Masjid se-Kodya Bandung pada Februari 2018. Sejumlah tokoh dari berbagai ormas Islam seperti KH Cholil Nafis (MUI), Buya Syafii Maarif (Muhammadiyah), dan KH Said Aqil Siraj (NU) pun menyerukan hal serupa. Mereka mengimbau agar masjid dikembalikan sesuai dengan fungsinya, sebagai tempat ibadah dan menyampaikan pesan suci agama, serta tempat pemersatu umat, bukan pemecah belah.

Dalam Alquran, anjuran untuk memakmurkan masjid termaktub dalam QS Attaubah: 18 yang berbunyi: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala)”. Anjuran dari kitab suci inilah yang memacu umat Islam untuk memakmurkan masjid dengan cara: membangun dan menghiasnya dengan baik, dan mengisinya dengan kegiatan ibadah dan kegiatan-kegiatan lain yang positif. Kampanye dan provokasi politik praktis tentu tak bisa dimasukkan dalam ketagori “memakmurkan masjid” ini, karena bersifat kontraproduktif dan banyak mudaratnya.

Baca Juga :  Menjelang Akhir Rajab, Dapatkanlah Kemuliaannya yang Berlimpah

Pada zaman Nabi, masjid difungsikan sebagai tempat ibadah, pembangun solidaritas sosial, dan pemersatu umat. Fungsi ideal ini hendaknya patut menjadi teladan. Di Nusantara, sejak zaman kerajaan Islam masa lampau hingga kini, banyak masjid yang memiliki struktur dua ruang. Ruang dalam yang khusus untuk peribadatan, dan ruang luar atau serambi dan halaman yang bisa dipakai untuk pengajian, diskusi, aksi sosial, dan aktivitas kesenian seperti hadrah dan shalawatan. Masjid dalam hal ini, tak sekadar sebagai tempat ibadah, namun lebih sebagai medium pembangun peradaban melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan seni budaya.

Dalam sejarah kebudayaan Islam modern di Indonesia, masjid pernah menjadi ikon peradaban melalui event Festival Istiqlal yang diselenggarakan dua kali, yaitu pada tahun 1991 dan 1995 di kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta. Festival ini berisi kegiatan-kegiatan yang menarik seperti pameran (seni rupa, arsitektur, kaligrafi, fotografi, keramik, busana muslim, naskah dan buku, dan mushaf Alquran dari berbagai penjuru dunia), pertunjukan seni (tilawah, musik, teater, dan tari), forum ilmiah (ceramah, diskusi, dan simposium), dan berbagai perlombaan seperti azan, kaligrafi, dan fotografi.

Festival tersebut menampilkan khazanah seni budaya dan karya intelektual yang bernafaskan Islam dari berbagai penjuru Nusantara. Ekspresi keislaman Indonesia betul-betul dirayakan dan diapresiasi bersama. Para seniman dan intelektual hebat pun turut terlibat. Festival ini dikunjungi oleh jutaan pengunjung dari berbagai kota di Indonesia dan mancanegara, serta menjadi salah satu andalan program pariwisata Visit Indonesia Year kala itu. Festival ini sangat sukses dan menjadi tonggak kebudayaan Islam Indonesia modern.

Dalam bentuk yang hampir sama, model “memakmurkan masjid” juga dilakukan oleh Remaja Islam Masjid Cut Meutia, Jakarta dengan menggelar event Ramadan Jazz Festival di Plaza Masjid Cut Mutia, di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat. Sampai tahun 2017, mereka telah menggelarnya sebanyak tujuh kali setiap Ramadan. Festival ini menghadirkan musisi-musisi jazz Indonesia ternama. Melalui festival ini, panitia menggelar penggalangan dana amal dengan mengajak penonton agar menyisihkan sebagian hartanya untuk kegiatan sosial.

Baca Juga :  MC Ricklefs dan Amal Jariyahnya

Kedua model di atas adalah bukti bahwa masjid bisa menjadi tempat kontemplatif sekaligus edukatif dan rekreatif. Masjid tak menampilkan paras kemarahan, kebencian, dan oportunisme, melainkan paras keramahan, kegembiraan, dan optimisme.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here