Memahami Keadilan Allah Swt.

0
797

BincangSyariah.Com – Ekonomi seringkali menjadikan penyebab keimanan seseorang menjadi goyah,  sehingga dengan mudahnya ia menyalahkan Sang Pencipta,  bahwa Tuhan tidak adil,  kenapa orang kaya semakin mudah menumpuk kekayaannya, sedangkan orang miskin semakin tersudut,  tersisih,  terlilit hutang,  seolah bumi ini mau menelannya hidup-hidup. Pelampiasan  kekesalan ini beragram ekspresi, ada yang menenangkan dengan ibadah,  ada juga dengan cara- cara yang merugikan orang lain,  seperti merampok,  mencuri,  sampai tak segan sampai membunuh korbannya.

Yang lebih mencengangkan ada orang yang protes kepada Tuhannya dengan cara yang terlarang, yaitu dengan mengotori tempat ibadah,  dengan dalih ia kesal kepada Tuhannya karena keinginannya tak terkabulkan.

Dari realita di atas Islam memberi solusi agar umat manusia mampu memahami rahasia Keagungannya,  agar segala yang ia hadapi tidak menjadi momok, beban dalam hidupnya, diantaranya:

Pertama, Mengenali lebih mendalam bahwa tujuan hidup di dunia ini,  hanya ibarat sebuah kompetisi untuk menentukan nasib seseorang,  agar menjadi manusia yang unggul,  pemenang,  dengan mendaya guna segala anugerah yang telah diberikan kepadanya,  berupa nikmat kesehatan,  dan kesempatan sehingga ia tak salah arah tujuan. Al Qur’an Kitab Suci Umat Islam memberi tuntunan yang bijak akan pentingnya memahami tujuan hidup di Dunia ini, terutama dalam Surat Al-Mulk Ayat 2 yang berbunyi:

(الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ)

Artinya: Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.

Sahabat Ibnu Abbas menafsiri Ayat ini dengan menjelaskan bahwa tujuan diciptakan hidup dan mati adalah untuk menguji siapa yang paling ikhlas amal ibadahnya. Dari penjelasan diatas menjadi jelas bahwa orang yang tahu tujuan hidupnya, maka ibadahnya semakin berisi.

Baca Juga :  Mengenal Tafsir al-Durr al-Mantsur karya Imam Al-Suyuthi

Kedua, Berperasangka baik kepada Allah sebagai Tuhan semesta Alam,  bahwa segala yang Ia kehendaki selalu ada hikmah yang tersembunyi, yang menjadi rahasia kehidupan. Manusia tinggal menggalinya bahwa segala kenikmatan yang diberikan merupakan sebuah ujian, dan tanggung jawab yang besar,  bila ia lupa,  dan lengah maka akan berubah menjadi kesengsaraan.

Sebaliknya segala cobaan hidup mulai dari kekurangan harta, kedudukan, ketakutan yang selalu menghantui,  bila di teliti dan dicerna secara seksama akan membuahkan keistimewaan tersendiri bagi yang mampu memahaminya, sayangnya manusia cepat puas dengan kemampuan ilmu yang ia miliki,  sehingga seringkali lupa dan tak berdaya bila mengahadapi masalah yang melilitnya.
Hal ini senada dengan petuah Ibnu Athoillah Al Iskandari:

ربما أعطاك فمنعك، و ربما منعك فأعطاك

Artinya: Kadangkala Allah memberimu sesuatu dengan cara menghalangi/mengujimu, sebaliknya kadangkala Allah memberi kegagalan padahal hakikatnya sebuah keberhasilan.

Ketiga, Yakini Tuhan maha Adil,  dengan pemahaman bahwa Allah selalu menempatkan sesuatu sesuatu sesuai porsi,  kapasitas hambaNya,  Allah menciptakan segala sesuatu dengan keserasian,  keteraturan yang tinggi. Buktinya, Allah menciptakan manusia yang beda kulit,  karakter,  bahasa,  perbedaan status,  ada kaya serta miskin, ada yang berilmu dengan yang tidak, semuanya berfungsi untuk saling melengkapi satu dan yang lainnya, yang kaya membantu yang kekurangan,  yang tahu menuntun yang belum bisa,  hal ini sebagai ketetapan Allah di muka bumi ini,  agar manusia memahaminya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here