Memahami Hadis Pengusiran Yahudi dari Jazirah Arab

0
403

BincangSyariah.Com – Salah satu masalah rasisme yang muncul adalah adanya sikap anti-Yahudi dan menganggap Yahudi adalah bangsa terlaknat sehingga kehadirannya harus diperangi. Pendapat seperti ini tidak hanya dapat kita baca melalui media sosial, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Tak pelak seseorang menuding bahwa kaum yang bertanggungjawab atas kerusakan adalah Yahudi. Mereka mendasarkan argumen mereka pada hadis Nabi Saw. Salah satu hadis yang menjadi rujukan adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

وَحَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ ح وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ – وَاللَّفْظُ لَهُ – حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِى أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ أَخْبَرَنِى عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لأُخْرِجَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ حَتَّى لاَ أَدَعَ إِلاَّ مُسْلِمًا

Zuhair bin Harb meriwayatkan dari al-Dhahak bin Makhlad dari Ibnu Juraij dari jalur lain, Muhammad bin Rafi’, dan redaksi hadis berasal darinya, dari Abdu Al-Razzaq dari Ibnu Juraij dari Abu Zubair, Sesunggunya ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata, ia meriwayatkan dari Umar bin Khattab, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah Saw, bersabda “Sungguh, aku akan mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab sehingga aku tidak meninggalkan (di dalamnya) kecuali seorang muslim”.

Hasil pemahaman seperti ini bertentangan dengan prinsip Islam yang anti-Rasisme. Seperti firman Allah dalam surat Ar-Rum 22:

وَمِنْءَايَٰتِهِۦخَلْقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَٰنِكُمْ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّلْعَٰلِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Baca Juga :  Wajah Baru Yahudi yang Islami

Untuk memahami hadis pengusiran Yahudi dari Jazirah Arab tadi, Penulis mencoba untuk memahami hadis tersebut melalui pendekatan geografi dan keadaan sosial. Dilihat dari segi geografis, tidak semua wilayah jazirah Arab dilarang dimasuki oleh bangsaYahudi.

Ulama memerinci daerah jazirah Arab yang tidak boleh dimasuki oleh non-Muslim [dalam hal ini Yahudi]. Muhammad Ridha mendefiniskan Negeri Arab sebagai daerah yang terbagi menjadi beberapa wilayah yakni: Yaman, Hijaz, Tihamah, Najd, Yamamah, dan Bahrain.

Al-Hafidz menyatakan bahwa orang musyrik hanya tidak boleh berada pada wilayah Hijaz saja, yang dimaksud dengan Hijaz adalah Mekah, Madinah, Yamamah. Sedangkan untuk daerah selain yang disebutkan di atas tidak diharamkan bagi orang kafir untuk memasukinya, seperti Yaman.

Imam al-Nawawi menuliskan berbagai pendapat ulama terkait tinggalnya orang non-Muslim [kafir]di jazirah Arab. Imam Malik dan Syafii mewajibkan mengeluarkan orang kafir dari jazirah Arab, mereka tidak diperbolehkan untuk tinggal [menjadi penduduk tetap].

Akan tetapi Imam al-Syafii mengkhususkan hukum ini bagi daerah Hijaz. Daerah Hijaz dibatasi dengan Makkah, Madinah, Yamamah dan  tidak termasuk di dalamnya Yaman dan selainnya. Mereka menyatakan bahwa orang kafir yang melakukan pelesir dan tidak tinggal di atas tiga hari boleh tinggal di Hijaz.

Imam Syafii juga menyatakan khusus mekah dan Masjid al-Haram, tidak diperbolehkan menetapkan atau memasukan orang kafir. Jika masuk secara sembunyi-sembunyi maka wajib dikeluarkan, jika meninggal dan dikuburkan, maka digali dan dikeluarkan sisa-sisa mayat orang kafir tersebut.

Sementara Imam Abu Hanifah membolehkan orang kafir untuk memasuki wilayah haram, yakni Mekah dan Madinah. Sebagian besar ulama mengharamkan Yahudi dan Nasrani untuk masuk kebagian Hijaz saja, yakni Makkah dan Madinah, namun untuk selain daerah itu maka bangsa Yahudi diperbolehkan untuk memasukinya.

Baca Juga :  Mengasihi Sesama Tanpa Pilih Kasih

Pendekatan kedua yang digunakan adalah keadaan sosial. Pengusiran terhadap bangsa Yahudi bukan berdasarkan perbedaan agama, namun karena alasan politis, yakni terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap umat Islam. Ada tiga perang yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Melawan kaumYahudi, yakni perang Bani Qainuqa’ perang Bani Nadhir, dan Perang Bani Qiraizah.

Pengusiran terhadap bangsa Yahudi bukan berdasarkan perbedaan agama, namun karena alasan politis, yakni terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap umat Islam.

Akram Diya al-Umari menjelaskan bahwa pengusiran orang Yahudi dari Madinah disebabkan karena mereka tidak menjalankan perjanjian yang mereka buat dengan Rasulullah Saw, mereka juga mengabaikan tugas mereka yang telah tercantum dalam perjanjian dan mereka juga agresif untuk menyerang Rasulullah Saw.

Dengan melakukan pengecekan sejarah didapati kesimpulan bahwa pengusiran terhadap Yahudi bukanlah berdasarkan perbedaan antara agama Islam dengan agama Paganis (agama kemusyrikan). Hal ini terlihat antara lain bahwa mertua Nabi Saw. adalah seorang Yahudi, yakni Huyyay bin Akhtab al-Nadhari. Jika penyebab peperangan adalah perbedaan agama, maka pastilah Rasulullah Saw. akan membunuh mertuanya sendiri, namun hal ini tidak dilakukan oleh Beliau. Hingga akhir hayatnya, mertua Nabi Saw. tetap memeluk agama Yahudi.

Kenyataannya bahwa di Madinah banyak tinggal orang Yahudi, begitu juga di Khaibar, di Najran banyak terdapat orang kristen, di Bahrain dan di daerah timur banyak orang Majusi. Umat Islam yang dipimpin Nabi Muhammad Saw. tidak pernah memerangi atau membunuh mereka. Dengan demikian kita harus hati-hati terhadap sikap rasis terhadap bangsa tertentu, karena Islam tidak membawa ajaran yang berbau rasisme.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here