Bincangsyariah.com- Allah telah menyebutkan secara tegas perintah berpuasa, pada bulan Ramadan, dalam QS. Al Baqarah ayat 185. Kalimat kutiba, dimaknai dengan kata furidla, yang berarti telah diwajibkan.

Agaknya puasa telah dianalisis dari berbagai sudut pandang, mulai dari makna tekstual dalam Al Quran dan Hadis, argumentasi ulama dalam kitab-kitab utama, hingga dewasa ini sudah didekati dengan berbagai teori sosial, kejiwaan, kesehatan, hingga ekonomi dan teknik. Dalam risalah kecil ini saya sebagai penulis tentu tidak ingin “menggarami lautan yang sudah kelewat asin”. Analisis para pakar pun sudah banyak bisa dirujuk dalam banyak referensi terutama di internet.

Syekh Ali As Shobuni dalam kitabnya Rawaiul Bayan menafsirkan QS Al Baqarah ayat 183 hingga 187. Mufassir kenamaan asal Makkah tersebut sudah menyusun belbagai kitab tafsir, seperti Shafwatut Tafasir dan kitab yang sebelumnya sudah disebut. Secara metode, tafsir As Shobuni adalah beranjak dari pemaknaan kata, lantas dari pemaknaan kata-kata penting dalam sebuah ayat itu dibandingkannya dengan beberapa literatur tafsir klasik agar didapatkan pemahaman atas ayat tersebut dengan menarik suatu kesimpulan. Selanjutnya, beliau menuturkan makna secara umum, beberapa model bacaan qiraat, lantas menyampaikan butir-butir permasalahan hukum yang didapatkan dalam ayat-ayat tersebut. Pembahasannya pun ditutup dengan hikmah syariat yang dibahas.

Abu Ubaidah, sebagaimana dikutip oleh As Shobuni, menyebutkan bahwa shaum, semakna dengan imsak, yang berarti menahan. Argumentasi ini dikuatkan bahwa segala bentuk menahan diri dari makan, bicara, perjalanan, dan segala laku, itulah berpuasa – dalam perspektif Abu Ubaidah. Ada semacam perluasan dimensi di sini.

Mari kita cermati pembahasan As Shobuni dalam pembahasan mengenai “Kewajiban Puasa untuk Umat Muslim”. Salah satu ulama tafsir kontemporer ini menyebutkan dalam penutup pembahasannya bahwa ada empat poin penting dalam syariat puasa:

  1. Bahwa sejauh apapun dampak puasa pada kesehatan, psikologis, atau aspek-aspek lainnya, ia adalah bentuk ibadah kepada Allah. Niat ini ditekankan betul, ditakutkan bahwa ada semacam penyimpangan tertentu atas ibadah mulia ini – mulai dari taraf niat yang agak bergeser sedikit, sampai pada perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan wajah “orang yang berpuasa”.
Baca Juga :  Misi Utama Islam Adalah Menyempurnakan Akhlak

Dalam sebuah hadis qudsi yang sering kita akrabi:

«كل عمل آدم له إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به، يدع طعامه وشرابه وشهوته من أجلي»

Setiap amal manusia  itu untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya. (Manusia) meninggalkan makanan, minuman, serta syahwatnya karena Aku,”

Secara hakiki, tentu ibadah puasa tidak mempengaruhi sedikitpun keagungan Allah. Hadis qudsi tersebut tidaklah dipahami secara tekstual, melainkan suatu tanda keutamaan berpuasa.

Puasa adalah ibadah yang pribadi, atau “ibadah sunyi”, jika boleh kita katakan begitu. Jika Anda merujuk pada sebuah wawancara dalam buku sastrawan kenamaan dari negara Republik Ceko yang bernama Milan Kundera, berjudul Kekekalan, ia katakan bahwa: “Kehidupan di mana orang tak bisa menyembunyikan diri dari pandangan orang lain – ituah neraka”. Dan selayaknya kita mendapat surga ketenangan pribadi itu, setelah berpuasa. Berpuasa adalah usaha mencari kepribadian yang lebih tenang dan rendah hati.

  1. Puasa adalah mendidik diri, menempa kesabaran dan kesulitan di jalan Allah. Jika tak ada kehendak untuk menundukkan diri sendiri, maka puasa adalah sebentuk usaha meluhurkan akal budi, sebagai bentuk kemanusiaan.
  2. Puasa adalah mendidik diri untuk peka terhadap keadaan orang lain, mencipta rasa dan cinta antar sesama. Hati akan luluh, mudah membantu, sebagai dampak puasa yang paripurna kepada Allah.
  3. Derajat yang ingin didapat dari puasa adalah derajat bertakwa. Takwa, adalah rasa takut dan segan pada Allah secara lahir dan batin. Maqamat ini dicapai dengan berhenti pada batasan-batasan larangan Allah, serta meninggalkan hal mubah yang merupakan tabiat syahwat. Demikianlah puasa akan menghantarkan kita secara paripurna.

Puasa sudah dikenal sejak beratus tahun lampau, sebelum masa Islam, sebagai metode untuk menundukkan diri. Yang terjadi selanjutnya adalah, Islam mencoba memberikan bentuk puasa yang tidak memberatkan dan lebih moderat. Kita tidak diperkenankan untuk berpuasa seharian penuh, tanpa makan dan minum. Maka maksud berkah dalam sahur, serta sunnah menyegerakan takjil, adalah bentuk kemurahan bagi orang yang berpuasa.

Baca Juga :  Hal-hal yang Dimakruhkan Saat Puasa

Bagaimana saat ini, ketika nilai-nilai dalam puasa yang telah bergeser? Kita tak bisa hanya menyebut-nyebut dalil untuk meluruskan niat, tujuan, serta hikmah sebuah ibadah. Hikmah ibadah bisa disampaikan dalam pengajian atau ceramah, namun pelaku ibadah itu sendiri yang harus merasakannya. Dalam sebuah komentar, puasa adalah penyebab kita harus berhati-hati dalam banyak hal. Segala hal terkait kemanusiaan, harus direnungkan, kembali dipikirkan, dan hendaknya mendapat nilai positif setelah puasa usai diamalkan.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here