Melihat Lebih Dalam Konflik Muslim Uighur

0
1827

BincangSyariah.Com – Etnis Uighur kembali menjadi perbincangan hangat terutama di jagad media. Etnis yang berjumlah sekitar 45 % dari jumlah seluruh penduduk di provinsi Xinjiang, bagian terbarat Tiongkok, itu dikabarkan ditahan dalam “kamp-pendidikan” oleh Pemerintah China. Jumlah mereka dikabarkan mencapai satu juta orang, seperti dilansir oleh CNN Indonesia. Jika diurut, informasi jumlah satu juta orang tersebut berasal dari organisasi Amnesty International. Bahkan, menurut Patrick Poon, peneliti dan aktivis HAM Uighur, jumlahnya bisa mencapai tiga juta orang. Memang, jika kita merujuk kepada berita-berita sebelumnya, sperti dirangkum oleh CNN Indonesia, ada banyak tindakan yang dianggap represif dilakukan oleh Pemerintah China terhadap orang-orang Uighur. Dikabarkan misalnya pemerintah China kerapkali mengeluarkan peraturan-peraturan yang tidak masuk akal. Seperti, melarang orang-orang Uighur berkerudung, melaksanakan shalat berjamaah, menggelar pengajian, sampai melarang berpuasa di bulan Ramadan.

Terpapar Radikalisme

Tiongkok menolak beberapa berita yang mengabarkan soal muslim Uighur. Menurut Pemerintah China, mereka tidak melakukan penyiksaan apapun. Yang dilakukan adalah menjaga stabilitas karena masyarakat muslim di Uighur mulai mengeras dan dianggap tidak normal.

Memang, beberapa dekade terakhir muncul beberapa serangan terhadap pemerintah China oleh orang-orang Uighur yang terpapar ideologi terorisme. Mulai juga muncul kampanye-kampanye di kalangan Muslim Uighur untuk memerangi Pemerintah China dengan menyebutnya sebagai pemerintahan kafir.

Pemerintah Tiongkok mulai tahun 2018 mulai melakukan pengetatan keamanan di Xinjiang. Sebagai tambahan, jika merujuk laporan Human Rights Watch, kebijakan represif sudah diterapkan sejak Mei 2014 ketika Tiongkok membuat kampanye Gebuk Keras (Strike Hard) yang menyebabkan penahanan penduduk berjumlah tiga kali lipat. Bentuk pengetatan keamanan berupa pembatasan bepergian ke luar negeri sampai pengetatan media masa yang meliput, termasuk media asing. CNN misalnya merilis video liputan dimana mereka terus diawasi oleh sejumlah tentara saat melakukan peliputan. Contoh lain, seorang fotografer internasional asal China bernama Lu Guang sempat di tahan pada awal November oleh otoritas Xinjiang saat ia diundang untuk melakukan pemotretan di Urumqi, ibukota wilayah Xinjiang.

Baca Juga :  Yenny Wahid: Bukan Ajaran Agama yang Kaku, Tapi Penyampainya yang Salah

Terkait dengan kebijakan deradikalisasi oleh pemerintah Tiongkok, Untuk “merehabilitasi” sebagian muslim yang dianggap terpapar radikalisme, pemerintah China membuat sejenis kamp “pendidikan” untuk rehabilitasi. Info yang beredar memang simpang siur. Menurut orang-orang Uighur,kamp itu tidak lebih dari kamp penyiksaan. Banyak dari mereka yang terpisah dari keluarganya karena ditangkap setelah bepergian ke luar negeri. Ini seperti pengakuan Mihrigul Tursun, wanita asal Uighur yang pulang ke tempatnya setelah belajar bahasa Inggris di Kairo. Mengutip Tirto, The Independent, dan South China Morning Post Tursun ditangkap di tahun 2016 kemudian dilepaskan. Lalu di tahun 2017, ia kembali ditahan. Menurut pengakuannya, Ia harus tidur bergantian, menggunakan toilet di depan kamera keamanan dan menyanyikan lagu-lagu memuji Partai Komunis Cina. Tursun mengatakan dia dan narapidana lainnya dipaksa untuk mengambil obat yang tidak diketahui, termasuk pil yang membuat mereka pingsan dan cairan putih yang menyebabkan perdarahan pada beberapa wanita. Tapi, pengakuan seperti ini kerap ditolak oleh Pemerintah Tiongkok

Konflik Berkepanjangan  

Muslim Uighur sebenarnya dari model wajah dan tradisi, lebih dekat dengan orang-orang Asia Tengah/Turk dibandingkan dengan orang-orang China. Sejak sebelum Tiongkok menjadi Republik, Uighur memang tidak pernah tunduk kepada Beijing karena punya pemerintahan sendiri bernama Kesultanan Turkmenistan Islam.

Ketika Tiongkok hendak berdiri, orang-orang Uighur kebanyakan ingin bergabung dengan Uni Soviet. Namun, di tahun 1949 wilayah Uighur ini ditaklukkan oleh Pemerintah Tiongkok dengan bekerjasama bersama orang-orang muslim Hui, yang memang pro terhadap pemerintah waktu itu.

Sejak itulah, otoritas di Beijing masih terus memandang curiga terhadap orang-orang Uighur karena khawatir mereka melakukan gerakan separatis. Memang, di wilayah Uighur ini gerakan-gerakan politik Islam bergeliat kuat dan kebanyakan mereka terus memperjuangkan agar wilayah Xinjiang memisahkan diri (kira-kira kalau di Indonesia, mirip dengan gerakan separatis). Beberapa kelompok tersebut diantaranya adalah Gerakan Islam Turkestan TImur (ETIM) dan Partai Islam Turkestan. Untuk partai tersebut, dikabarkan memiliki hubungan dengan Al-Qaeda.

Baca Juga :  Pesan Islam untuk Perdamaian

Ini diperparah dengan kebijakan ekonomi Tiongkok yang lebih mengutamakan orang-orang Han (China di wilayah Timur), seperti dikutip dari South Morning China Post.

Pemerintah mulai membangun sejumlah industri di wilayah Xinjiang karena daerah tersebut memang kaya akan sumber daya alam. Orang-orang China etnis Han yang memang punya kemampuan, berbondong-bondong datang kesana. Namun kesempatan bekerja – menurut versi orang Uighur – tidak mereka dapat kerena pemerintah masih represif terhadap mereka. Terjadilah kerusuhan beberapa kali dengan yang terburuk di tahun 2009 hingga memakan korban sampai 200 orang. Pemerintah menuding itu merupakan ulah provokasi kelompok separatis sehingga mendasari mereka untuk melakukan kebijakan pengetatan keamanan, bahkan dengan bahasa Gerakan Gebuk Keras.

Kita juga tidak boleh lupa bahwa pemerintah memang mengeluarkan aneka kebijakan untuk mengontrol orang-orang Xinjiang. Propaganda politik sampai penguatan sejarah China – dengan melupakan sejarah Uighur – terus digencarkan di sekolah-sekolah. Seorang imam masjid mengklaim kalau pemerintah mengontrol isi-isi khutbah jumat tiga jam sebelum disampaikan. Kisah ini dapat kita saksikan dalam video documenter berjudul China’s Problems with the Uyghurs.

Akhirnya, menurut penulis sebenarnya ini merupakan pertarungan panjang dua etnis yang sudah lama bersaing. Sejarah China menunjukkan bahwa China memang dipimpin oleh dinasti-dinasti yang berbeda-beda. Nampaknya, persaingan antar etnis tersebut terus berjalan sampai sekarang, meski China telah menjadi negara modern.

Menurut penulis, pertama, pemerintah Tiongkok perlu mengurangi sikap represi terhadap muslim Uighur dan harus menetapkan standar yang lebih jelas dalam melabeli sekelompok orang teroris atau bukan. Karena bergabungnya Uighur menjadi bagian dari negara China sendiri dahulu dilakukan dengan “paksaan”, sangat wajar jika mereka hari ini mereka masih terbayang-bayang euforia sebagai wilayah yang merdeka.

Baca Juga :  Bolehkan Merasa Paling Benar Dalam Berislam?

Kedua, Muslim Uighur juga perlu untuk menolak secara kultural segenap provokasi-provokasi yang mengarah agar Xinjiang memberontak dengan alasan untuk memisahkan sendiri. Karena, gerakan-gerakan seperti ini acapkali hanya mengarah kepada terorisme.

Ketiga, jika dunia internasional ingin membantu menyelesaikan permasalahan antar etnis ini, yang didorong adalah rekonsiliasi bahwa Uighur juga memiliki budaya dan bahasa tersendiri yang perlu diakui sebagai bagian dari sejarah China, dan kedua etnis harus mendapatkan kesejahteraan dan kesamaan di depan hukum. Dunia internasional jangan sampai ikut-ikutan memberikan ruang agar rakyat memberontak kepada pemerintahan yang sah.

Semoga Muslim di berbagai belahan dunia tetap dalam menjalankan keislamannya dengan baik, lancar, dan harmonis dengan seluruh manusia di muka bumi ini. Amiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here