BincangSyariah.Com- Akses informasi yang cepat sedikit banyak mengubah gaya hidup masyarakat kita. Mulai dari pergaulan, fashion, hingga paradigma dalam memandang politik. Adanya akses informasi yang cepat juga membuat keterbukaan tsunami informasi tak terbendung lagi. Kebebasan bersuara dan pendapat menjadi barang yang lumrah pada masa kini, tapi jika kebebasan berpendapat itu disampaikan dengan landasan fitnah? Apa dampaknya?

Berita atau kabar bohong (baca: hoax), semakin merebak akhir-akhir ini. Hoax berseliweran di jagat maya: mulai dari Facebook, Twitter,  situs berita, artikel di blog, hingga yang baru-baru ini geger yaitu buku Jokowi Undercover. Layaknya kebutuhan, hoax dikonsumsi setiap hari—sesering mungkin—oleh beragam kalangan: siswa, mahasiswa, guru, dosen, dokter, karyawan, buruh, tokoh masyarakat, hingga ibu rumah tangga yang sering bergosip di pengkolan gang.

Pertanyaannya, mengapa hoax menjadi konsumsi yang laris manis bagi tiap-tiap kalangan? Bayangkan, tak sedikit yang berlabel akademisi, ataupun yang dicap sebagai tokoh masyarakat masih terkecoh ‘mengkonsumsi’ hoax. Boleh dikatakan, hoax laku keras karena menyuguhkan kabar-kabar yang tidak biasa dan juga ‘menarik’ untuk disimak. Nikmatnya membaca hoax layaknya membaca novel-novel detektif yang mana tokoh protagonisnya adalah kita yang tengah terdesak, dan si antagonisnya adalah mereka yang superior di depan mata yang sewaktu-waktu akan menggilas kita.

Namun sayangnya, kehidupan nyata tidak senikmat membaca novel-novel detektif. Hoax dalam realitanya justru membuat kerugian besar bagi sendi-sendi yang ada dalam diri manusia: daya pikir, moralitas, dan sikap. Dampak dari merebaknya hoax sangat terasa dalam pergaulan sehari-hari, relasi pada pekerjaan, hingga relasi dalam kehidupan keluarga. Sebelum hoax menerjang deras, perbedaan agama menjadi hal yang lumrah di Indonesia—apalagi perbedaan pandangan politik. Namun sekarang? Naluri berpikir rasional hampir-hampir hilang dikaburkan hoax.

Baca Juga :  Bagaimana Proses Turunnya Alquran pada Bulan Ramadan?

Celakanya, para konsumen hoax tak merasa dibodohi apalagi merasa mengkonsumi hoax. Ini seperti orang yang mengkonsumsi narkoba, merasa nikmat namun tak merasa mengkonsumsi narkoba yang katanya membahayakan itu. Narkoba bagi konsumennya adalah suplemen bahagia, hoax bagi konsumennya adalah suplemen kesengsaraan yang sejati yang tak ditemukan di media-media mainstream.

Dari mana datangnya hoax ini? Mengapa keberadaannya begitu deras dan menghanyutkan?

Tak dapat dipungkiri, jika begitu banyaknya hoax di sekeliling kita saat ini, kita patut percaya bahwa ada segelintir orang yang memang memproduksi hoax untuk beragam kepentingan: politik, bisnis, hingga popalaritas.

Membentengi Diri dari Hoax

Jika label akademisi atau cap sebagai tokoh masyarakat saja tidak cukup untuk menangkal hoax, ada baiknya kita baca arus informasi dari berbagai arah. Optimalkan pikiran seobjektif mungkin dalam menampung informasi yang didapat, jangan langsung alergi dengan media ini atau itu dan jangan juga langsung menaruh hati untuk media ini dan itu. Setelah itu, cek sumber dan informasi yang dituturkan dalam pemberitaan yang dijabarkan. Tak cukup dengan itu, bentengkan diri kita dengan pengetahuan alternatif yang kita dapat dari buku-buku dan juga orang-orang di sekeliling kita.

“Wahai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (kabar itu). Hal itu agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkanmu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S Al-Hujarat: 6)

Hoax yang dibalut dengan kata-kata menarik memang laku keras akibat minimnya minat baca masyarakat Indonesia pada hal-hal yang dianggap ‘berat’. Maka dengan bahasa seadanya, panas, dan seolah menggiring kita pada petualangan melawan bajak laut, hoax menjadi primadona di dunia maya. Ribuan hingga jutaan like disematkan untuk satu kabar hoax, belum lagi yang men-share itu.

Baca Juga :  Kunjungan Grand Syaikh Al-Azhar ke PBNU

Merebaknya hoax menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang teliti untuk meluruskannya dengan beragam cara yang dapat diterima dengan mudah para konsumen yang terlanjur mengkonsumsi hoax. Sebelum hoax menjadi pilihan konsumsi kita, ada baiknya kita patut mencermati langkah-langkah tadi agar jangan sampai kita terprovokasi dengan jargon-jargon provokatif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here