Melacak Kitab Hadis Abad 1 Hijriah

2
263

BincangSyariah.Com – Orientalis, seperti Goldziher dan Joseph Schact, berkesimpulan bahwa Hadis Nabi yang dijadikan rujukan kedua setelah Alquran oleh mayoritas muslim, mesti diragukan keabsahannya. Pasalnya, tidak ada satupun sumber tertulis (written sources) atau manuskrip Hadis yang ditulis pada masa Nabi, maupun Sahabat.

Permasalahan ini bertambah pelik ketika sebagian sarjana muslim juga mulai ikut-ikutan menggugat keabsahan Hadis. Golongan ini biasanya disebut inkarus sunnah. Mereka berkeyakinan bahwa Alquran sudah cukup untuk dijadikan pedoman dalam amal dan tindakan. Argumentasinya, andaikan Hadis dapat dijadikan dasar hukum, pasti Nabi Muhammad menyuruhnya untuk menuliskannya.

Menurut Yusuf al-‘Isy, adanya paradigma bahwa kitab Hadis tidak pernah ditulis pada abad 1, disebabkan karena salah memahami pernyataan ahli Hadis yang mengatakan bahwa orang yang pertama kali mengkodifikasikan (tadwîn) Hadis ialah Ibn Syihab al-Zuhri (124 H). Ada juga yang mengatakan bahwa penulisan Hadis mulai digencarkan pasca tahun 143 H.

Orientalis, seperti Goldziher dan Joseph Schact, berkesimpulan bahwa Hadis Nabi yang dijadikan rujukan kedua setelah Alquran oleh mayoritas muslim, mesti diragukan keabsahannya. Pasalnya, tidak ada satupun sumber tertulis (written sources) atau manuskrip Hadis yang ditulis pada masa Nabi, maupun Sahabat.

Sementara itu,  tidak ada ahli sejarah yang menjelaskan maksud dari pernyataan tersebut secara rinci. Malahan mereka terus mengulang kata-kata Hadis ditulis pertama kali oleh Ibn Syihab al-Zuhri. Kenyataan diperparah dengan bertebarannya Hadis-hadis dan pendapat ulama yang menunjukan bahwa Sahabat tidak mau menuliskan Hadis, karena mereka memiliki ingatan dan hafalan yang sangat kuat, sehingga tidak diperlukan tulisan.

Sebenarnya Khatib al-Bagdadi (462 H) dalam Taqyid al-‘Ilmi menyampaikan adanya aktivitas penulisan hadis yang dilakukan oleh sahabat. Sayangnya, al-Baghdadi tidak menunjukkan bukti historis penulisan tersebut dengan menampilkan manuskrip-manuskrip Hadis tersebut atau bukti historis lainnya.

Baca Juga :  Sejarah Perpindahan Kiblat pada Bulan Sya'ban

Belakangan, para sarjana Muslim berusaha menampilkan, meneliti, dan membantah anggapan para orientalis di atas. Mereka mulai meneliti dan berusaha untuk menemukan tulisan-tulisan Hadis yang pernah ditulis pada Abad 1 Hijriah.

Setidaknya ada beberapa kitab yang membahas tentang ini, seperti Buhuts fit Tarkhis Sunnah al-Musyarrafah karya Akram Dhiya al-‘Umri, as-Sunnah Qablat Tadwin karya Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, dan  Studies In Early Hadith Literature (Dirasat fil Hadith an-Nabawi wa Tarikh Tadwinih) karya Mustafa al-A’dzami.

Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari kitab di atas, ada beberapa contoh shahifah yang ditulis pada abad 1 Hijriah: Shahifah Sa’ad bin ‘Ubadah al-Anshari, Shahifah ‘Abdullah bin Abi Aufa, Naskah Samrah bin Jandab (60 H), Kitab Abu Rafi’, Kitab Abu Hurairah, Shahifah Abu Musa al-Asy’ari (50 H), Shahifah Jabir bin Abdullah al-Anshari (78 H), Shahifah al-Shadiqah milik ‘Abdullah bin Umar bin al-‘Ash (65 H), Shahifah Abu Salamah Nabith bin Syarith al-Asyja’I al-Kufi, dan Shahifah al-Shahihah milik Hamam bin Munabbih (131 H).

Beberapa shahifah tersebut, ada yang berhasil ditemukan dan sebagian lagi belum ditemukan. Merujuk catatan Akram Dhiya` al-‘Umri, shahifah yang sudah ditemukan manuskripnya  di antaranya: Shahifah Abu Musa al-Asy’ari; Shahifah Jabir bin ‘Abdullah al-Anshari, kedua shahifah ini disimpan di perpustakaan Syahid Ali Turki; Shahifah Abu Salamah Nabith bin Syarith al-‘Aysju’I al-Khufi, yang disimpan di Dar Kutub al-Dzahiriyah; Shahifah Hamam bin Munabbih, yang sudah dicetak ulang dan disunting (tahqiq) oleh Muhammad Humaidullah.

Hammam bin Munabbih merupakan murid Abu Hurairah yang meriwayatkan 138 hadis dalam shahifah-nya. Adik Wahab bin Munabih ini mengaji pada Abu Hurairah di Madinah. Sementara itu, Hammam sendiri merupakan asli Yaman. Selain itu, Hammam juga dikenal sebagai orang yang gemar mengoleksi manuskrip-manuskrip.

Baca Juga :  Memahami Hadis Pengusiran Yahudi dari Jazirah Arab

Konon, sebelum kakanya meninggal, Hammam membeli beberapa manuskrip milik kakaknya untuk dikoleksi. Hammam hidup hingga masa kekhalifahan Abbasiyah, tepatnya pada tahun 131 hijirah. Pada waktu itu, kekhalifahan Abbasiyah sudah terkenal dengan simbol-simbol hitam (ashab rayat al-sud) yang mengklaim sebagai ciri tentara al-Mahdi yang diutus Tuhan.

Fenomena tersebut kembali terulang pada masa modern ini di Irak dengan adanya ISIS. Namun sayang, Hammam tidak mencatat riwayat-riwayat terkait panji hitam dalam shahifah-nya. Semua sanad yang terdapat dalam shahifah Hammam hanya bersumber dari jalur Abu Hurairah saja.

2 KOMENTAR

  1. Luar biasa tenyata paham ingkar sunnah yg berkembang pada abad kedua dapat diselesaikan oleh imam syafii hingga diberi gelar nasir assunnah dan berakhir Pada akhir abad ke tiga. begitu pula ingkar sunnah abad modern semua argumentasi ingkar sunnah mereka terbantahkan oleh teori prof azami dan as sibai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.