MC Ricklefs dan Amal Jariyahnya

0
220

BincangSyariah.Com – Kalau dipikir-pikir para analis, akademisi, dan indonesianis itu tak ubahnya dukun yang memiliki kemampuan dalam meramal masa depan. Bedanya, meminjam kata-kata penulis Betawi kesohor Mahbub Djunaidi, ramalan pemikir dan akademisi itu keluar dari bangku sekolahan. Kesamaannya tetap meramal-ramal juga. Bahasa yang ilmiah dari meramal adalah menganalisis atau mereview.

Dan salah satu ramalan, eh analisis, yang saya dapat dari MC Ricklefs, sejarawan Indonesia yang juga menulis tentang Islam di Indonesia, tentang dinamika kekinian dan masa depan Islam Indonesia adalah seperti berikut ini. Dan saya kira penting kita tahu. Saya ambil dari salah satu bukunya yang tebal. Dan itupun terjemahan.

Tentu tak semua saya habiskan membaca 887 halaman buku Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentanganya dari 1930 sampai sekarang karya jebolan Cornel University ini.

Tapi, kalau mau lihat inti dari ratusan halaman ini sebetulnya ada di halaman paling akhir. Kalau mau tahu bagaimana melihat isu penting Islam sekarang ini dan di masa mendatang, sebetulnya hanya ada dua soal.

Pertama, lihat sejauh mana para elit politik membiarkan para elit, organisasi dan isu-isu keagamaan mendominasi ruang publik, penyusunan kebijakan dan pelaksanaan tata pemerintahan.

Kedua, gagasan mana yang memiliki pengaruh yang lebih besar dalam masyarakat dan negara yang lebih islami. Pencari keadilan atau pendamba kebebasan.

Siapa makhluk-makluk pencari keadilan? Ricklefs menyontohkanannya dengan gerakan-gerakan islamisme yang juga sangat beragam. Mulai dari HTI, jemaah tabligh, hingga FPI. Sedang pendamba kebebasan adalah kelompok yang diwakili generasi muslim berpikiran progesif yang berhubungan dengan pikiran-pikiran para senior. Nurcholish Madjid, Gus Dur, Said Aqil SIradj, Masdar Farid Masudi, dan lain-lain. Kata Ricklef kelompok inilah yang dianggap kaum oposan dari berlangsungnya islamisasi.

Baca Juga :  Addas, Budak Nasrani dari Irak yang Terpesona Ucapan Nabi

Apa yang dimaksud dengan filsafat keadilan dan kebebasan menurut Ricklef rasanya tak perlu saya bicarakan di sini. Cukuplah mengatakan bahwa membicarakan isu keadilan dan kebebasan telah menyeret-nyeret nama-nama seperti Plato, John Rawls, Karl Popper, Amartya Sen. Termasuk juga Al-Farabi, Abu Bakar al-Razi, Abu Hatim, atau Ibnu Sina.

Dengan melihat dua masalah ini, Ricklef ingin meyakinkan bahwa kita bisa menyimpulkan Indonesia kita ini bakal makin ruwet atau baik. Lebih toleran atau konservatif. Jika pemerintah lokal memberi ruang besar pada kelompok konservatif bahkan intoleran, bisalah dipastikan bagaimana nasib daerah tersebut. Juga sebaliknya.

Kita boleh setuju, boleh tidak dengan ramalan Ricklefs. Jikapun kita tak setuju, tapi Ricklefs jelas telah melakukan amal jariyahnya bagi publik Indonesia atas riset-risetnya tentang sejarah Indonesia, termasuk Islam di Indonesia. Dan amal jariyah dalam bentuk ilmu yang bermanfaat bakal melimpahkan pahala yang tak berkesudahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here