Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi Kumpulan: Guru Besar Tarekat Naqsyabandiyah di Minangkabau

7
6110

BincangSyariah.Com – Pernahkah Anda mendengar nama Maulana Syekh Ibrahim Al-khalidi Kumpulan atau lebih dikenal dengan sebutan “Inyiak Balinduang Kumpulan” yaitu sebuah panggilan kepada seseorang yang dituakan di tengah masyarakat, dikenal alim, tawadu, wara dan punya tuah?

Atau mungkin Anda pernah menyimak video ceramah dai kondang Ustaz Abdul Somad, Lc., MA di You Tube yang sering menyebut nama “Inyiak Balinduang” ini? Yuk, mari kita gali lebih dalam siapa itu Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi serta bagaimana perjalanan pendidikan dan perjuangannya dalam melawan penjajah dan memerdekakan Bangsa Indonesia.

Nama asli dari Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi adalah Abdul Wahab bersuku Melayu yang lahir pada tahun 1764 M di Kampung Sawah Laweh, kenagarian Koto Kaciak, kecamatan Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat dan wafat pada tahun 1914 M atau bertepatan dengan tanggal 21 Zul Qa’dah.

Putra yang lahir dari hasil percintaan sepasasang kekasih yaitu Pahat (ayah) dan Sari Aso (ibu) ini telah mengenyam pendidikan agama sejak kecil. Saat Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi berumur 15 tahun ia sudah mengaji Al Qur’an ke salah seorang murid dari Syekh Burhanuddin Ulakan Pariaman di kenagarian Pasir Laweh, Agam, Sumatera Barat.

Lalu pada umur 25 tahun beliau mempelajari kitab kuning yang mencakup Ilmu syariat dan mazhab Syafi’iyyah secara intens dan mendalam di Cangkiang Ampek Angkek Canduang, Agam.

Beberapa tahun kemudian ia pun menunaikan ibadah haji ke Makkah Al Mukarramah dan setelah kembali dari Makkah mulai berguru seputar ilmu tarekat, hakikat dan makrifat di sebuah surau di Bonjol kepada pamannya sendiri  bernama Syekh Sa’ad Al-Khalidi (Inyiak Padang Bubuih) yang juga dikenal sebagai syekh besar di daerahnya Bonjol saat itu.

Baca Juga :  Tafsir Mimpi Melahirkan Menurut Islam

Ya, pamannya inilah guru beliau yang pertama dalam ilmu tarekat.

Tak lama setelah itu Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi kembali lagi ke Makkah dalam rangka memperdalam pengetahuannya tentang agama lalu bermukim disana selama 7 tahun.

Akhirnya di Makkah inilah beliau bertemu dan mengaji ilmu syariat tariqat kepada Maulana Syekh Abdullah Afandi (murid atau khalifah dari Syekh Khalid Kurdi).

Setelah menjadi orang alim pada ilmu syariat dan hakikat akhirnya beliau kembali pulang ke kampung halamannya Minangkabau tepatnya di Sawah Laweh Kumpulan, Pasaman lalu membangun sebuah surau sebagai tempat mengaji agama yang kemudian diberi nama dengan “Surau Kaciak”.

Namun, karena ruangan surau yang kecil dan sempit, sedangkan masyarakat dari berbagai penjuru negeri pada berdatangan untuk menimba ilmu agama, hal itu tentunya sangat membutuhkan tempat yang agak luas dan layak digunakan untuk mengaji.

Karena itu, kemudian dibangun sebuah kampung baru yang agak luas lingkungannya yang kemudian beliau beri nama dengan “Kampung Koto Tuo”.

Akhirnya, di Kampung Koto Tuo ini dibangun sebuah Rumah Gadang sebelas ruang yang bergonjong enam, Masjid Batu (masih ada sampai sekarang) berdinding dan berlantai batu, Surau Tinggi terdiri dari tiga tingkat yang difungsikan sebagai tempat untuk orang orang yang sedang melakukan ibadah “suluk”, dan di surau ini juga Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi Kumpulan pernah menetap bersama isterinya bernama Hj. Aminah.

Sudah menjadi rahasia umum di Minangkabau khususnya di Bonjol bahwasanya Maulana Syekh Ibrahim Al-Khalidi Kumpulan (sahabat dari Tuanku Imam Bonjol ini) merupakan salah seorang wali keramat sekaligus tokoh pejuang kemerdekaan yang sangat disegani masyarakat dan ditakuti penjajah saat itu.

Beliau dikenal luas sebagai “Guru Besar” dalam Ilmu Syariat dan Tarekat khususnya Tarekat Naqsyabandiyah yang telah melahirkan ratusan bahkan ribuan ulama besar setelahnya baik di sekitar tanah Minangkabau sampai ke pulau Jawa dan Kalimantan.

Baca Juga :  Surah-Surah Al-Qur'an yang Tidak Diawali dengan Al

Bisa dikatakan bahwa Maulana Syekh Ibrahim merupakan salah satu guru besar dari ulama-ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Minangkabau (yaitu sebuah organisasi persatuan ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah di Minangkabau).

Jika di Jawa ada organisasi Nahdhatul Ulama (NU) maka di Minangkabau ada Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Dua organisasi besar ini telah banyak melakukan kontribusi dalam memerdekakan dan membangun peradaban Bangsa Indonesia.

Setiap tahunnya diadakan Tawajjuh Akbar di Masjid Batu (salah satu peninggalan Maulana Syekh Ibrahim) yang dihadiri oleh ribuan orang dari berbagai penjuru negeri baik itu dari Sumatera Barat maupun dari luar Sumatera Barat seperti Riau, Sumatera Utara, Lampung, Palembang bahkan dari Pulau Jawa.

Makam Maulana Syekh Ibrahim selalu ramai dikunjungi  para peziarah untuk menyampaikan Al-Fatihah, membaca Yasin, Tahilan, dan berbagai kegiatan lainnya dalam rangka ibadah dan mengharap rida serta berkah dari Allah SWT.

Syekh Ibrahim Al-Khalidi Kumpulan pernah berjuang melawan Penjajah Belanda bersama sahabatnya yaitu Tuanku Imam Bonjol.

Saat ia berumur kurang lebih 50 tahun yaitu sekitar tahun 1821 sampai 1837 M (masih dalam situasi Perang Padri) beliau diminta oleh Tuanku Imam Bonjol untuk ikut serta berperang melawan penjajah Belanda.

Ketika itu beliau bertugas sebagai penanam ranjau pada jalan yang biasa dilalui oleh serdadu Belanda di Bukit Talang ke Kenagarian Limo Koto dengan membawa alat sebisanya bersama rombongan.

Hal ini sekaligus bertujuan menghalau penjajah dari bumi ibu pertiwi. Peperangan itu tidak hanya dilakukan satu kali saja tapi berkali kali.

Suatu ketika Maulana Syekh Ibrahim pernah tertembak oleh peluru Belanda akan tetapi peluru itu tidak sampai membunuh beliau, hanya saja meninggalkan bekas-bekas hitam.

Banyak peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi pada Maulana Syekh Ibrahim dan itu tidak bisa diserap dan ditangkap oleh panca indera yang zahir sama sekali, misalnya beliau tidak bisa difoto oleh penjajah dan masih banyak peristiwa peristiwa aneh lainnya.  Wallahu A’lam

Baca Juga :  Buya Agus Salim; Pejuang dan Ulama Asal Minangkabau

7 KOMENTAR

  1. Terima kasih ,,,penulis bincang syariah,ada yg lebih hebat nya,saya salah satu dari pengamal zikir dari atok ibrahim kumpulan dengan GURU bersilsilah,dan tarigat nagsabandyah ,(yayasan jabal qubis) dan bagi yg mau dan mampu silah kan datang medan tj morawa,km 18,,,wass,,

  2. Klo ada keluarga syekh Ibrahim mohon saya dihubungi karena saya mau menanyakan kebenaran silsilah keluarga yg mengatakan bahwa pd saat perang Padri keluarga syekh Ibrahim melarung ke laut dan terdampar di Banyuwangi dan sy termasuk buyut cicitnya

  3. Klo ada keluarga syekh Ibrahim mohon saya dihubungi karena saya mau menanyakan kebenaran silsilah keluarga yg mengatakan bahwa pd saat perang Padri keluarga syekh Ibrahim melarung ke laut dan terdampar di Banyuwangi dan sy termasuk buyut cicitnya no hp sy 085332798284

  4. Alhamdulillah aku pernah sekolah di tarbiyah dekat surau batu dan dekat dengan anggui keturunan syeik Maulana Ibrahim Al khalidi

  5. Assalamualaikum
    Saya mau tanya..
    Waktu kecil ketika mau tidur saya sering di ceritakan ttg riwayat inyiak balinduang oleh ibu saya.. Ibu saya Asnah binti Muhammad Said
    Nenek saya Sawati binti Abu Bakar.. Kakek Muhammad said bin fulan
    Tapi saya lahir dan besar di Jakarta dan belum pernah ke sumatra Barat..
    Mohon penjelasan admin kalau punya informasi ttg silsilah keluarga inyiak balinduang
    Ini no saya.. 088212592410

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here