Maulana Rumi dan Eksistensi Tarian Sufinya

1
1189

BincangSyariah.Com – Membahas tentang tarian sufi, pastinya kita dibawa untuk mengetahui siapa yang mempopulerkan tarian mistik ini, tidak lain ialah Tarekat Maulawi, sebuah tarekat yang didirikan oleh penyair besar Maulana Jalaluddin Rumi. Tarekat ini ada sekitar 15 tahun terakhir hidup Rumi.

Berawal dari hilangnya guru spiritualnya yang sangat ia cintai, Rumi mulai sensitif terhadap irama dan nada bebunyian, sehingga tempaan palu seorang pandai besi mampu membuat Rumi menari dan berpuisi. Tariannya dijadikan sebagai mediasi zikir untuk mengingat Tuhan. Tarian ini menjadi ciri khas Tarekat Maulawi, karena itu pula tarekat ini dikenal dengan sebagai para Darwis yang berputar (the whirling darvish).

Mereka pada darwis berputar seraya memutari atom-atom jagad raya semesta keseluruhan kosmos yang merupakan manisfestasi Tuhan. Ibn Arabi menegaskan bahwa tidak ada yang bereksistensi kecuali nama-namaNya. Garis penalaran ini menunjukkan bahwa semuanya berasa dari Allah, segala sesuatu memanifestasikan Allah, segala sesuatu menjadi tanda Allah.

Putaran dan lingkaran yang dibuat saat tarian dimulai itu menirukan di atas gerakan bumi gerakan bintang-bintang yang dengan sendirinya lambang dan kekuatan hierarki malaikat, para darwis tersebut seakan sadar akan keikutsertaannya dalam keselarasan universal dan memberi dorongan untuk membuat apa yang berlaku di langit berlaku juga di bawah sini.

Dengan membiarkannya terhanyut dalam ritme keselarasan langit ia menjadi alat dengan melalui cinta Ilahi dapat berkomunikasi dengan penderitaan makhluk akibat perpisahan dan ilusi kosmik.

Melalui rotasi ini, Rumi menegaskan kehadiran unik dari Allah di segenap penjuru angkasa. Sebagaimana kalam suci Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 115:

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Baca Juga :  Meneladani Lima Intelektual Pesantren Berpengaruh di Nusantara

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”

Tarian sufi tersebut menunjukkan kondisi muraqabah, kondisi di mana spiritual melihat dirinya dalam gerak dan diamnya. Muraqabah yang dimaksud di sini adalah pengetahuan dan keyakinan bahwa Allah selalu melihat apa yang ada di hati nuraninya dan Allah maha mengetahui. Senada dengan ayat 52 dalam surat Al-Ahzab:

وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا

“Dan Allah adalah Maha Mengawasi segala sesuatu”

1 KOMENTAR

  1. Ada banyak cara dan alat untuk mengingat Alloh..melalui ciptaanyà..sifatnya..di dalam toriqot di ajarkan dengan jalan tawajjuh…dengan memperdalam cara tawajjuh yang benar kepada ahlinya insyaalloh kita bisa merasakan kedekatan kita…dan bersamaNYA..insyaalloh…silakan di gali lagi lebih dalam….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here