Marwa Al-Sabouni: Arsitek Perempuan dari Suriah yang Luar Biasa

0
93

BincangSyariah.Com – Marwa Al-Sabouni adalah seorang arsitek ternama yang berasal dari Suriah. Bagaimana sepak terjang karir dan kehidupan Marwa Al-Sabouni?

Marwa Al-Sabouni lahir pada 18 September 1981. Ia adalah arsitek dan penulis yang berasal dari Suriah. Ia percaya bahwa arsitektur berperan dalam menjaga perdamaian kota. Buku pertamanya, The Battle for Home, berhasil terpilih oleh The Guardian sebagai salah satu buku arsitektur top 2016. Dia terpilih sebagai salah satu dari 100 Wanita BBC pada 2019. (Baca: Arsitektur Bangunan Masjid Masa Rasulullah)

Marwa lahir di Homs. Homas merupakan kota yang terletak di bagian tengah Suriah. Penduduknya berjumlah 700.000 jiwa (data tahun 2005). Sebagai seorang perempuan Muslim, ia memiliki prestasi yang luar biasa karena karya-karyanya.

Marwa memutuskan untuk melanjutkan untuk belajar arsitektur karena sejak dulu ia memperhatikan bahwa tidak ada taman atau ruang budaya yang berfungsi dekat dengan tempat tinggalnya.

Kepada The Guardian ia mengungkapkan, “Saya tidak punya ilusi menjadi Zaha Hadid berikutnya … Meskipun demikian, harapan itu buta, dan selalu berhasil menemukan jalannya ke dalam hati manusia, termasuk saya.”

Marwa memegang gelar sarjana dan doktor dalam arsitektur dan menyatakan bahwa Frank Lloyd Wright sebagai salah satu inspirasinya. Frank Lloyd Wright adalah seorang arsitek, desainer, penulis, dan pendidik dari Amerika.

Frank telah merancang lebih dari 1.000 bangunan selama periode kreatifnya selama 70 tahun. Frank percaya bahwa kegiatan mendesain selaras dengan kemanusiaan dan lingkungannya, sebuah filosofi yang disebutnya arsitektur organik.

Pelatihan sarjana Marwa mencakup menyalin gaya Barat, seperti rumah-rumah Amerika di Cape Cod, dari buku-buku perpustakaan. Disertasi doktoralnya, Stereotyping dalam Arsitektur Islam berhasil ditampilkan di deconarch.com.

Ketika Perang Saudara Suriah pecah pada 2011, Marwa berani membuat keputusan untuk tinggal di kota tempat ia dibesarkan. Ia lalu menghabiskan dua tahun bersembunyi dan menyekolah rumah kedua anaknya yang masih kecil.

Baca Juga :  Lima Surah Diakhiri dengan Ayat Anjuran Hamdalah

Saat pasukan pemberontak meninggalkan Suriah pada 2015, lebih dari 60% dari keseluruhan lingkungan tersebut  hancur berantakan. Karena itula Marwa kemudian menyerukan tentang krisis perumahan di Suriah, dengan hampir setengah dari populasi Suriah tinggal di akomodasi sementara atau perumahan informal, dan bagaimana arsitektur berkontribusi terhadap kejatuhannya. Marwa percaya, arsitektur kota sangat penting bagi keharmonisan hidup.

Otobiografi Marwa Al-Sabouni berjudul The Battle for Home: Visi Arsitek Muda di Suriah dirilis pada 2016. Dalam otobiografinya, Marwa mempertimbangkan tentang peran arsitek dan perencanaan kota dalam kekerasan dan konflik sipil dengan merusak hubungan masyarakat melalui bangunan sedikit demi sedikit.

Marwa berpendapat bahwa banyak sekali usaha yang harus dilakukan untuk memulihkan perdamaian melalui perkembangan kota. Salah satu usulannya adalah membangun kembali distrik Baba Amr, merancang struktur yang mengacu pada cara-cara historis Suriah untuk menjaga masyarakat hidup bersama secara harmonis.

Desain Marwa meliputi unit pohon yang berisi toko dan ruang komunitas di batang, serta apartemen di cabang-cabangnya. Baginya, arsitek adalah jalan untuk mengembalikan kohesi sosial dan rasa identitas. Ide itulah yang oleh The Guardian dinobatkan sebagai salah satu buku arsitektur top 2016.

Marwa bekerja sama dengan suaminya yang berprofesi sama yakni sebagai arsitek di ruang online yang mengkomunikasikan berita arsitektur dalam bahasa Arab, gerbang Arab untuk berita arsitektur, serta toko buku di Homs.

Pada 2016, ia menyampaikan pidato TED yakni bagaimana arsitektur Suriah mampu meletakkan dasar untuk perang brutal, yang telah dilihat lebih dari satu juta kali. Ia juga telah memberikan saran ahli kepada Forum Ekonomi Dunia dan untuk NPR dan BBC, serta menulis untuk The Wall Street Journal.

Penghargaan-penghargaan yang telah diperolehnya adalah Penghargaan Royal Kuwaiti 2010 untuk proyek media terbaik, Scroll of Honor Award 2013 UN-Habitat, Award 2017 The Observer Popular Features, Finalis Hadiah Arsitektur Pritzker 2018, Pemenang Hadiah Pangeran Claus 2018 dan BBC 100 Women pada 2019.[]

Baca Juga :  Kisah Muslimah Bertemu Tiga Wanita yang Mau Berhijrah ke ISIS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here