Maqashid Syariah untuk Interpretasi Tematik Alquran dan Hadis

0
440

BincangSyariah.Com – Dalam hal ini, maqashid syariah diorientasikan sebagai alat untuk mengajukan penafsiran yang lebih bermakna bagi teks Alquran. Hal inilah yang diusahakan oleh madzhab penafsiran tematik. Metode memahami ayat-ayat Alquran dalam bentuk tema-tema, prinsip-prinsip, dan nilai-nilai dominan. Metode ini didasari pada sebuah persepsi tentang Alquran sebagai suatu kesatuan yang berintegrasi.

Surah-surah dan ayat-ayat Alquran mengenai kisah-kisah kenabian, akhirat dan alam semesta, kesemuanya ini dianggap sebagai bagian-bagian yang secara bersama-sama membentuk sebuah ketunggalan yang holistik, sehingga berpotensi memainkan peran dalam membentuk aturan-aturan hukum Islami yang manusiawi dan tidak bertentangan antara satu dengan yang lainnya.

Penafsiran tematik seperti ini juga bisa diterapkan dalam membaca hadis-hadis Nabi SAW. Yaitu dengan menimbang kehidupan Nabi secara keseluruhan yang dibagi menjadi tema-tema yang diperintahkan oleh prinsip-prinsip dan diatur pula oleh nilai-nilai moral yang luhur. Dengan demikian, kesahihan sebuah hadis dapat dipertanyakan jika isinya tidak sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam yang nyata.

Demikian pula, jika para ulama fikih belum berhasil memecahkan sebuah kontradiksi lahiri antar dua redaksi hadis secara kebahasaan, maka kesahihan salah satunya akan didasari pada sejauh mana hadis itu memenuhi dan sesuai dengan dengan prinsip-prinsip Alquran. Di samping itu juga disyaratkan adanya koherensi yang sistemik dari isi (matan) hadis tersebut dengan prinsip-prinsip yang nilai-nilai keislaman.

Akhirnya dalam rangka pemanfaatan maqashid syariah dalam pembaharuan interpretasi Hadis, pendekatan maqashid syariah dapat memenuhi gap yang serius pada narasi hadis, yaitu gap konteks narasi/redaksi. Sebagian besar narasi hadis hanya berupa potongan-potongan yang menjelaskan persoalan yang bersifat parsial tanpa menjelaskan konteks historis, politik, sosial, ekonomi, atau suasana saat narasi itu berlangsung.

Akan tetapi, biasanya konteks beserta implikasinya terhadap pemahaman dan penerapan isi hadis, dibiarkan dan diserahkan kepada penalaran spekulatif perawi atau ulama yang membacakannya. Sehingga dalam rangka meminimalisir cara baca “sepotong-sepotong” seperti ini, keberadaan sebuah gambaran yang holistik yang dihasilkan oleh penerapan pendekatan maqashid syariahyang didasari pada pemahaman akan tujuan-tujuan umum hukum Islam, dapat membantu dalam melampaui gap akibat kekurangan informasi tentang konteks narasi tersebut.

Baca Juga :  Tafsir Surah Fatir Ayat 32: Tiga Macam Orang Mengamalkan Al-Qur’an

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here