Maqashid as-Shiyam: Literatur tentang Tujuan Pokok Berpuasa dari Ulama Abad ke-5 H

0
301

BincangSyariah.Com – Kajian mengaji bulan ramadhan di Indonesia acapkali dinilai khas, dan memiliki tradisi yang eksotis serta berbeda dengan tradisi Islam di negara lain. Salah satunya kitab yang dibaca sebagai kita pengajian bulan Ramadan adalah Maqashid as-Shiyam karangan Syekh Izzuddin bin Abdussalam, kitab yang sering dibacakan ketika bulan suci ramadhan.

Di kitab Maqashid as-Shiyam tertulis nama pengarangnya yaitu al-‘Allamah al-Syaikh al-Imam al-Faqih al-Mujtahid Hujjatul Islam, Syaikhul Islam Izzuddin Abu Muhammad Abdul Aziz ibn Abdussalam ibn Abu al-Qasim ibn Hasan al-Sulami al-Dimasqi al-Syafi’i, lahir pada tahun 577 H di Damaskus.

Syekh Izzuddin memiliki latar belakang dari keluarga yang biasa, bukan dari golongan bangsawan atau dari keluaga ulama. namun Syekh Izzuddin mampu dikenal sebagai ulama yang cukup masyhur, bahkan mendapatkan gelar Sulthanul Ulama pada madzab Syafi’i. Semua itu berkat kegigihannya dalam mendalami ilmu, dan lingkungan Syekh Izzuddin dimana beliau tinggal merupakan kawasan para ulama.

Oleh karena itu perjalanan kiprah beliau dalam keilmuan, juga tidak terlepas oleh peran gurunya, yaitu, Syekh Ahmad al-Mawwazini, Syekh Barakat Ibn Ibrahim al-Khusyu’I, Syeh Al-Qasim ibn Askir, Syekh Umar ibn Thabrazid, kemudian Syekh Hanbal Ibn Abdullah dan beberapa guru lainnya.

Beberapa karya tulisnya juga cukup banyak dan begitu fenomenal, jika dijumlahkan mencapai kurang lebih 36 karya. Salah satunya kitab Maqasid as-Shiyam. Ini merupakan kitab yang membahas tentang cara memahami tujuan pokok berpuasa. Tujuan utama Syekh Izzuddin dalam menuliskan karya ialah membantu pembaca masa kini agar turut menikmati kekayaan ilmu dan kearifan ulama klasik yang dapat disambungkan untuk kemajuan peradaban Islam modern.

Mengenal Isi Kitab Maqashid as-Shiyam

Syekh Izzuddin membagi pembahasan pada kitab Maqasid as-Shiyam dalam sembilan bab, Syekh Izzuddin menyusun kitabnya yang berdalilkan hadis Nabi, dengan tidak lupa mencantuman biografi serta latar belakang perowi hadis.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 235; Etika Meminang Janda Ditinggal Suami

Pada bab pertama, Syekh Izzuddin membahas tentang kewajiban berpuasa, sebab puasa merupakan pengampun dosa.

Bab kedua terkait tentang fadilah puasa, sesungguhnya ibadah puasa memiliki faedah berupa meninggikan derajat, menghapus kesalahan, melemahkan syahwat, memperbnayak sedekah meningkatkan ketaatan, kemudian rasa syukur kepada Allah serta menjauhkan diri dari maksiat. Dari penjelasan itu semua Syekh izzuddin mencantumkan sumber-sumber hadis terkait fadilah berpuasa.

Pada bab ketiga, Syekh Izzuddin menyebutkan enam adab orang berpuasa, diantaranya ialah menjaga lisan, apabila diundang untuk makan, mengaku berpuasalah jika sedang berpuasa, membaca doa saat berbuka puasa, makan makanan saat berbuka bisa dengan kurma kering atau air, menyegerakan berbuka, dan mengakhirkan sahur.

Kemudian bab keempat tentang hal-hal yang perlu dijauhi ketika berpuasa (ada 5 hal yang disebutkan dalam kitab Maqashid as-Shiyam).

Selanjutnya pada bab kelima ialah berburu lailatul qadar, sebuah malam yang unggul melebihi malam seribu bulan, pada kitab Maqasid al-Syiam dijelaskan bahwa disebut lailatul qadar karena malam yang memiliki kemuliaan derajat yang tinggi, atau bisa diartikan rizki serta ajal untuk tahun-tahun berikutnya ditentukan pada malam lailatul qadar. Dan jika pada malam itu makluk- makluk Allah sepenuhnya beribadah kepada Allah, maka diampunilah dosa-dosa yang telah lalu.

Sesuai pada sabda Rasul pada hadis riwayat Imam al-Bukhari pada kitab Sahih al-Bukhari,

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Diceritakan kepada kami Muslim ibn Ibrahim, diceritaan kepada kami Hisyam, diceritakan kepada kami Yahya, dari Abi Salamah, dari Abi Hurairah r.a, dari Nabi Muhammad SAW bersabda: barangsiapa menunikan qiyam lail pada lailatul qadar karena iman dan berharap pahala dari Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah berlalu. (HR. al-Bukhari).

Baca Juga :  Hari Asyura, Bulan Muharam dan Lebaran Anak Yatim, Adakah Dalilnya?

Bab keenam berupa i’tikaf, dermawan dan membaca al-quran di bulan Ramadhan. Karena sesungguhnya Nabi Muhammad SAW melakukan i’tikaf pada bulan ramadhan, berikut hadis yang menceritakan dari Aisyah bahwa Nabi beri’tikaf pada bulan Ramadhan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، – زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Diceritakan kepada kai abdullah ibn Yusuf, diceritakan kepada kami al-lays, dari Uqbal, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Az-Zubair, dari Aisyah r.a istri Nabi SAW berkata: sesungguhnya Nabi SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir dari bulan ramadhan hingga wafat, kemudian para istrinya juga i’tikaf sepeniggalnya. (HR. Bukhoriy)

Bab ketujuh, menyambung puasa ramadhan dengan enam hari di bulan Syawal. Jika ibadah tersebut dilakukan maka seakan puasa sepanjang tahun.

Pada bab kedelapan dipaparkan tentang puasa sunnah, yaitu terkait apa saja puasa sunnah serta fadilahnya puasa sunnah.

Pada bab terakhir yaitu kesembilan, hari- hari yang dilarang Allah untuk berpuasa. Demikian isi kandungan singkat tentang puasa yang ada di kitab maqasid al-Syiam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here