Manfaat Tidur Menurut Imam al-Ghazali

0
370

BincangSyariah.Com – Manusia sebagai mahluk hidup ciptaan Allah SWT seperti lazimnya mahluk hidup yang lain memiliki beragam aktivitas. Ada kalanya waktu bagi manusia untuk bekerja dan ada kalanya waktu bagi manusia untuk istirahat. Salah satu cara yang ideal untuk beristirahat yaitu dengan tidur.

Allah SWT sudah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia menjadikan waktu siang bagi manusia untuk bekerja dan malam hari untuk beristirahat.

وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا۟ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya” (QS. Al-Qashash [26]:73).

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa tidur manusia tidak lah boleh lebih dari 8 jam dalam seharinya. Karena jikalau setiap hari seseorang menghabiskan waktu sepertiganya untuk tidur, maka dia juga menghabiskan sepertiga hidupnya hanya untuk tidur. Tidur pun pada hakikatnya mirip dengan kematian dan bangun tidur mirip dengan kebangkitan dari kematian. (lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, Semarang, Maktabah Alawiyah, h. 41)

Tidur pun tidak lah selalu dianjurkan ketika memang bukan pada waktunya. Seseorang lebih baik menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu, beribadah, bekerja dan membantu orang lain selagi dia mampu. Tidur hanya kita lakukan jika kita memang benar-benar membutuhkannya.

Imam Al-Ghazali menuturkan bahwa tidur merupakan opsi terbaik ketika kita tidak mampu melakukan ibadah, baik mahdhah dan ghoiru mahdhah. Begitu juga tidur akan menjadi pilihan terbaik ketika kita berinteraksi dengan manusia tetapi yang ada malah kemaksiatan, semisal membicarakan kejelekan orang lain.

Meskipun tidur bisa menjadi opsi lebih baik tapi bukan berarti merupakan sebuah prioritas utama. Karena seseorang akan terlalu banyak membuang waktu, padahal waktu tersebut bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Imam Al-Ghazali telah menyindir orang yang terlalu banyak membuang waktu yang dimiliki:

Baca Juga :  Etika Setelah Berbuka Puasa Menurut Imam Ghazali

فأخس بحال من سلامة دينه  فى تعطيل حياته

“Alangkah hinanya orang yang dapat menyelamatkan agamanya dengan mengosongkan kehidupannya”, (h. 36).

Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa tidur merupakan saudara dari kematian dan hampir sama halnya dengan benda-benda mati yang tidak memberikan bahaya dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

إذ النوم أخوالموت وهو تعطيل الحياة والتحاق بالجمادات

“Karena tidur itu saudara kematian, dan tidur menyia-nyiakan waktu kehidupan dan menyerupai dengan benda mati”

Waktu yang berjalan dengan begitu cepat dan tidak akan pernah kembali sudah seyogyanya membuat manusia untuk tidak menyia-nyiakan waktu, mengevaluasi waktu yang telah berlalu dan mempertimbangkan rencana pada waktu yang mendatang untuk hal yang lebih baik.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here