Malik bin Dinar; Seorang Pemabuk yang Bertobat

1
1138

BincangSyariah.Com — Merujuk dalam kitab Tahdzib Al-Tahdzib karya Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Malik memiliki nama lengkap Malik bin Dinar Al-Samiy Al-Najiy putra seorang tawanan perang yang menjadi budak berkebangsaan Kabul (Afganistan sekarang).

Meskipun Malik bin Dinar terlahir dari keluarga budak, namun Malik adalah seorang yang merdeka. Ia merupakan sosok yang terhitung sebagai ahli di bidang Al-Qur’an, Hadist dan Tasawwuf. Namun demikian, Malik bin Dinar muda memiliki masa lalu yang kelam.

Malik bin Dinar muda merupakan seorang polisi yang suka berfoya-foya dan suka meminum khamr. Suatu saat, ketika ia sedang berpatroli menjalankan tugasnya sebagai seorang polisi, ia membeli seorang budak wanita yang sangat cantik dengan harga yang terbilang cukup mahal. Budak itu kemudian melahirkan seorang anak perempuan.

Malik bin Dinar sangat menyayangi anak perempuan itu, terlebih ketika ia sudah mulai pandai untuk dapat berjalan sendiri. Meskipun Malik bin Dinar memiliki seorang anak di rumahnya, tidak lantas membuat Malik bin Dinar berhenti dari kebiasaan lamanya, yakni meminum khamr.

Setiap kali ia sedang meminum khamr di rumahnya, anak perempuan itu selalu datang dan menumpahkan khamr di bajunya. Namun, hal itu tidak lantas membuat Malik bin Dinar marah. Justru rasa sayang yang ada padanya semakin meningkat.

Hingga suatu saat, tepat menginjak tahun kedua usianya, anak perempuan tersebut meninggal dunia. Malik bin Dinar sangat berduka atas kejadian tersebut.

Tepat pada malam Jum’at di pertengahan bulan Sya’ban, Malik bin Dinar meluapkan rasa kesedihannya dengan meminum khamr hingga ia tertidur. Di dalam tidurnya, Malik bin Dinar bermimpi bahwa kiamat sudah datang. Dengan ditandai tiupan terompet sangkakala oleh malaikat Israfil, dan seluruh makhluk dibangkitkan dari kuburnya.

Baca Juga :  Humor: Empat Kelompok Berdebat Soal Lampu Mati

Dari kejauhan, Malik bin Dinar melihat seekor ular besar berwarna hitam kebiru-biruan dengan mulut terbuka seolah sudah siap untuk memangsanya. Dengan penuh ketakutan, Malik bin Dinar bergegas lari sekencang-kencangnya. Di tengah jalan, ia sempat bertemu dengan seorang yang mengenakan pakaian serba putih.

Wahai Syekh! Tolong lindungilah diriku dari ular besar itu dan semoga Allah melindungimu pula” pinta Malik bin Dinar.

Namun sang Syekh tersebut justru menangis sembari menjawab “Aku ini seorang yang lemah, sedangkan ular itu lebih kuat dariku. Aku tidak kuasa untuk melawannya, karena itu bergegaslah lari. Semoga Allah melindungimu pula

Mendengar jawaban tersebut, Malik bin Dinar kembali bergegas lari dan memajat sebuah tebing yang di bawahnya api nereka berkobar dengan dahsyat. Karena di hantui ketakutan yang sangat dahsyat pula, hampir saja ia menjatuhkan dirinya ke dalam kobaran api tersebut.

Namun, dari kejauhan, terdengar suara “Kembalilah, karena tempatmu bukan di sana”

Kemudian Malik kembali menuruni tebing tersebut untuk berlari ke arah yang lain. Di tengah jalan, ia kembali bertemu dengan Syekh yang tadi sempat ia temui.

Wahai Syekh! Tolong lindungilah aku dari ular itu” pinta Malik bin Dinar sekali lagi.

Syekh itu kembali menangis dan berkata “Maafkan aku. Sebab aku orang lemah. Pergilah ke gunung itu. Di sana akan kamu jumpai kaum muslimin. Kalau kamu punya simpanan di sana, maka ia akan menolongmu”.

Mendengar jawaban tersebut, Malik bin Dinar dengan sekuat tenaga berlari menaiki gunung yang terbuat dari perak dengan setrika dan tirai-tirai yang bergelantungan. Sementara Malik bin Dinar sedang berusaha menaiki gunung tersebut, ular yang mengejarnya pun semakin dekat.

Baca Juga :  Kisah Seorang Satpam Bertobat Karena Pelacur

Angkatlah salah satu tirai tersebut, lalu bukalah salah satu pintu dan naiklah ke dalamnya” seru malaikat.

Mudah-mudahan aku mempunyai simpanan di dalamnya yang dapat melindungiku” gumam Malik bin Dinar dalam hati.

Sesampainya di atas, Malik bin Dinar dikejutkan dengan kumpulan anak-anak kecil dengan wajah yang berseri sedang mengawasi kedatangannya. Dilihatnya salah satu dari kumpulan anak-anak kecil itu terdapat anak perempuan kesayangannya.

Demi Allah, dia adalah ayahku!” teriak anak perempuan seraya menangis.

Layaknya sebuah anak panah yang telah dilepaskan, anak perempuan itu dengan cepat mendatangi Malik bin Dinar seraya mengulurkan tangan kirinya untuk menyelamatkan Malik bin Dinar. Kemudian anak perempuan itu juga mengulurkan tangan kanannya kepada ular tersebut, namun ular tersebut justru bergegas pergi.

Setelah menyelamatkan Malik bin Dinar, anak perempuan itu segera duduk di pangkuannya. Di pegangnya tangan kanan anak perempuan itu untuk menghela jenggot Malik bin Dinar. Kemudian ia berkata “Wahai ayahku, belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid [57]: 16).

Seraya menangis, Malik bin Dinar menjawab, “Wahai anakku, kau paham tentang Al-Qur’an?

Wahai ayahku, aku lebih paham tentang Al-Qur’an jauh dari padamu” jawabnya.

Malik bin Dinar bertanya, “Ceritakanlah padaku mengenai ular yang mengejarku tadi”.

Itulah pekerjaan ayah yang buruk, yang selama ini selalu ayah kerjakan. Karena itulah, ia ingin memasukkanmu ke dalam neraka” jawabnya.

Malik bin Dinar kembali bertanya, “Ceritakanlah Syekh yang ku temui tadi di pertengahan jalan”.

Wahai ayahku, itulah amal salehmu yang sedikit tapi tidak mampu menolongmu” jawabnya.

Baca Juga :  Tujuan Kairouan Dipilih sebagai Pusat Penyebaran Islam di Afrika Utara

Malik bin Dinar kembali bertanya, “Wahai anakku, apakah yang kalian perbuat di gunung ini?”.

Kami adalah anak-anak kaum muslimin yang tinggal di sini hingga hari kiamat datang. Kami menunggu kalian datang kepada kami. kemudian kami akan memberikan syafa’at kepada kalian” (HR. Muslim), jawabnya.

Mendegar jawaban tersebut, Malik bin Dinar kemudian terbangun dengan penuh ketakutan. Seluruh khamr yang masih tersisa di atas meja, di pecahkan dan di buang semuanya, lalu bertobat kepada Allah.

Melalui kisah tersebut, marilah kita senantiasa meningkatkan kadar keimanan kita. Dan semoga kita tergolong sebagai umat yang sholeh yang dapat menyelamatkan orang tua kita dari siksaan api neraka kelak di yaumul akhir, amiin.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here