Makna Mengikuti Sunah Nabi

0
186

BincangSyariah.Com – Umat Islam diperintahkan untuk mengikuti sunah dan memedomani Nabi Muhammad saw. Alquran sendiri memerintahkannya. Ini karena Nabi adalah utusan Tuhan, juru bicara paling otoritatif ajaran-ajaran-Nya. Alquran menyatakan,

اَطِيعُوا اللهَ وَاَطِيعُوا الرَّسُولَ.

Taatilah Allah dan taatilah Rasul. (Q.S. al-Nisa’ [4]: 59)

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ.

Barangsiapa menaati Rasul, maka dia telah menaati Allah. (Q.S. al-Nisa’ [4]: 80).

Disebutkan dalam sebuah ayat:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْم الَاخِرَ.

Sesungguhnya pada diri Nabi suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan ampunan Tuhan dan keselamatan di hari akhirat. (Q.S. al-Ahzab [33]: 21).

Akan tetapi apakah yang dimaksud dengan “mengikuti Nabi”?

Orang memahami “mengikuti sunah Nabi” secara berbeda-beda. Ada yang memahami bahwa menguti Nabi adalah melakukan apa saja yang dilakukan Nabi, tak kurang dan tak lebih, atau dalam bahasa populer mengikuti secara tekstual atau harfiah.

Ibn Umar, misalnya, dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meneladani Nabi saw. dalam sikap dan perilaku beliau, bahkan pada hal-hal yang kecil atau mungkin dianggap sepele. Ia selalu memperhatikan apa yang dilakukan Nabi saw. dan kemudian menirunya dengan cermat dan teliti, agar semaksimal mungkin bisa sama dengan apa yang dilakukan Nabi.

Misalnya, ia melihat Nabi saw. salat di suatu tempat, maka di tempat yang sama, ia akan melakukan salat seperti beliau. Jika Nabi saw. wudu di suatu tempat, dia juga wudu di tempat itu. Jika Nabi menumpahkan sisa air wudunya untuk menyiram sebatang pohon, dia juga melakukan hal yang sama.

Pernah di suatu tempat di Makkah, ia melihat Nabi saw. berputar dua kali dengan untanya sebelum turun dan salat dua rakaat. Maka setiap kali ia melewati tempat itu, ia akan memutar untanya dua kali, kemudian turun dan salat dua rakaat seperti yang pernah dilakukan Nabi saw. Padahal, bisa saja unta Nabi saw. itu memutar sekedar untuk mencari tempat yang tepat untuk berhenti dan beristirahat.

Baca Juga :  Tips Memuliakan Kitab Ala Ta'lim Muta'allim

Ada pula orang yang memahami dengan cara lain, tidak sebatas mengikuti sebagaimana yang dipahami Ibn Umar di atas. Ayahnya sendiri, Umar bin al-Khattab memahami bahwa mengikuti Nabi tidak selalu dengan cara tekstual, harfiah, melainkan juga dengan memahami maksud dan tujuannya.

Misalnya, beliau tidak memberikan semua harta rampasan perang kepada para pejuang, sebagaimana Nabi melakukannya, melainkan harta itu diambil untuk negara, lalu sebagian diberikan kepada para prajurit perang. Ia juga tidak membagikan bagian zakat untuk muallaf, orang yang baru masuk Islam.

Padahal Alquran telah menegaskan dan Nabi telah pula membagikannya. Umar mengatakan, ”Aku tidak membagikannya karena kini Islam telah kuat. Jika mereka (para mualaf) tersebut masih mau dalam Islam, silakan. Jika tidak, silakan keluar.” Ini karena Umar memahami bahwa pembagian zakat itu bertujuan untuk memperkuat Islam.

 

Mengikuti Tujuan atau Cita-cita

Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111 M), tokoh panutan kaum Ahlussunnah wa al-Jamaah, dalam karya monumentalnya, Ihya Ulum al-Din, menyampaikan pandangan yang sangat menarik. Ia mengatakan,

إِذَا قَلَّدَ صَاحِبَ الشَّرْعِ فِيْ تَلَقِّي أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ بِالْقَبُوْلِ فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ حَرِيْصًا عَلَى فَهْمِ أَسْرَارِهِ. فَإِنَّ الْمُقَلِّدَ إِنَّمَا يَفْعَلُ الْفِعْلَ لِأَنَّ صَاحِبَ الشَّرْعِ فَعَلَهُ، وَفِعْلُهُ لَا بُدَّ وَأَنْ يَكُوْنَ السِّرُّ فِيْهِ. فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ شَدِيْدَ الْبَحْثِ عَنْ أَسْرَارِ الْأَعْمَالِ وَالْأَقْوَالِ. فَإِنَّهُ إِنِ اكْتَفَى بِحِفْظِ مَا يُقَالُ كَانَ وِعَاءً لِلْعِلْمِ وَلَا يَكُوْنُ عَالِمًا. وَلِذَلِكَ يُقَالُ: فُلَانٌ مِنْ أَوْعِيَةِ الْعِلْمِ، فَلَا يُسَمَّى عَالِمًا إِذَا كَانَ شَأْنُهُ الْحِفْظَ مِنْ غَيْرِ اطِّلَاعٍ عَلَى الْحُكْمِ وَالْأَسْرَارِ. وَمَنْ كُشِفَ عَنْ قَلْبِهِ الْغِطَآءُ وَاسْتَنَارَ بِنُوْرِ الْهِدَايَةِ صَارَ فِيْ نَفْسِهِ مَتْبُوْعًا مُقَلَّداً.

Jika seseorang mengaku mengikuti Nabi, baik dalam ucapan maupun tindakannya (perbuatannya), maka semestinya dia mempunyai keinginan kuat untuk memahami rahasia (maksud yang terkandung) di dalamnya. Dia melaksanakan hal itu karena Nabi melakukannya. Dan beliau melakukan tindakan itu tentu karena ada maksudnya. Maka seyogianya dia (pengikut Nabi) berusaha mengkaji kandungan-kandungan (maksud-maksud) dari apa yang diucapkan dan dikerjakan beliau. Bila dia hanya menghafalnya, maka dia hanyalah wadah dari pengetahuan dan bukan seorang yang mengerti (alim). Orang Arab mengatakan, fulan min au’iyah al-ilm (“si Fulan adalah wadah ilmu.”). Dan “orang yang telah terbuka hatinya dan memancarkan cahaya petunjuk Tuhan, maka dirinya adalah panutan. (Ihya Ulum al-Din, I/78).[]

Baca Juga :  Alkindi; Musisi Ternama Abad Kejayaan Islam

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here