Makan Sebelum Lapar, Berhenti Sebelum Kenyang, Hadis Atau Bukan?

1
2268

BincangSyariah.Com- Sebagian besar di antara kita mungkin telah akrab dengan sebuah pernyataan mengenai anjuran makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Anjuran ini pada awalnya diyakini sebagai hadis, yangmana seringkali disandarkan kepada Rasulullah Saw. Tentu bagi kebanyakan orang, apabila telah mendengar sebuah pernyataan yang dicap sebagai “hadis”, maka wajib rasanya untuk diyakini. (Baca: Ini Doa Nabi Ketika Sudah Merasa Kenyang)

Anjuran mengenai tidak makan sebelum merasa lapar ini setidaknya berasal dari sebuah riwayat yang mempunyai kisah bahwa suatu hari ada tamu yang menjumpai Nabi Saw. Tamu itu kemudian menyampaikan rasa takjub dan apresiasi terhadap kehidupan Nabi Saw. dan para sahabat yang sehat serta jarang terjangkit penyakit. Dengan rasa penasaran, tamu itu bertanya mengenai resep keberhasilan itu, Nabi Saw. pun menjawab sebagai berikut,

نحن قوم لا نأكل حتى نجوع و إذا أكلنا لا نشبع

Artinya :

Kami adalah orang-orang yang tidak makan sampai kami lapar, dan apabila kami makan, kami tidak sampai kenyang

Obat Tanpa Efek Samping dari Para Ahli

Merujuk pada kitab Madaarij as Shu’ud (h. 19) karya Syaikh Nawawi al Bantani (w. 1897 M), kitab syarh atas Maulid Barzanji karya Syaikh Ja’far al Barzanjiy (w. 1177 H), dicantumkan bahwa terdapat riwayat kisah mengenai Kisra (raja) Persia yang ingin memperoleh obat tanpa efek samping. Ia mengumpulkan empat orang ahli yang berasal dari empat negeri berbeda, yakni Irak, India, Roma dan Sudan.

Ketika diberikan kesempatan untuk mengutarakan argumen dari masing-masing ahli, perwakilan dari Irak mengutarakan bahwa obat tanpa efek samping adalah minum air hangat dengan tiga teguk tiap harinya. Ahli dari Roma menyampaikan bahwa yang tepat adalah mengonsumsi biji rasyad (sejenis sayuran). Sedangkan ahli dari India menyarankan untuk makan tiga biji ihlilaj (sejenis gandum) yang berwarna hitam.

Baca Juga :  Penerimaan Ulama dan Umat Islam atas NKRI

Ketika sampai pada giliran ahli dari Sudan, ia sempat terdiam sehingga sang raja menangguhkan tanya tentang diamnya tersebut. Seketika, ahli dari Sudan tersebut menjawab,

يا مولانا، الماء المسخن يذيب لحم الكلى و يرخى المعدة. و حب الرشاد يهيج الصفراء والإهليلج يهيج الصفراء

Artinya:

Wahai Tuanku, air yang hangat itu dapat menghancurkan lemak ginjal dan menurunkan lambung (perut). Dan biji rasyad dapat mengeringkan shafra’ (jaringan pada tubuh manusia), serta (biji) ihlilaj dapat (juga) mengeringkan shafra’

Kemudian ahli dari Sudan kembali melanjutkan,

الدواء الذي لا داء معه أن لا تأكل إلا بعد جوع، فإن أكلت فارفع يدك قبل الشبع، فإنك لا تشكو علة إلا الموت

Artinya:

Obat yang tidak disertai dengan efek samping adalah tidak makan kecuali setelah (merasa) lapar, dan apabila telah makan, angkatlah tangan anda sebelum kenyang, apabila anda melakukannya, anda tidak akan menderita (sakit) kecuali sebab kematian

Keotentikan Klaim Hadis

Menurut pernyataan yang dilayangkan Syaikh Nawawi pada karyanya, penulis tidak menjumpai bahwa kisah tersebut berasal dari Rasulullah SAW. pada awal penjelasannya, hanya tercantum sebatas

“وروى أنه…”

Artinya:

Dan diriwayatkan bahwasannya…

Sebagaimana yang kita ketahui, sebuah statement yang diyakini dan diklaim sebagai hadis, tentu haruslah mempunyai sanad dan matan di dalamnya. Sanad tersebut setidaknya dapat sampai (muttasil) kepada Nabi Saw., sahabat, atau bahkan sebatas para tabi’in, sehingga pada tahap selanjutnya dapat diteliti kualitas sanad sebuah hadis. Namun sesuai yang dijumpai penulis dalam kisah di atas, bahwasannya tidak ada sanad yang menyertainya.

Jauh sebelumnya, ternyata Imam Suyuti (w. 911 H) dalam kitabnya al Rahmah fi at Tiib wa al Hikmah juga telah mengabadikan kisah ini. Akan tetapi, Imam Suyuti pun juga tidak menyebutkan kalau kisah ini otentik berupa hadis nabawi. Sebagaimana yang kita ketahui, sekelas Imam Suyuti apabila menuliskan sebuah risalah, tentu sangat penting baginya untuk mengutip sesuatu dari sumber yang kredibel, apalagi jika berurusan dengan klaim hadis.

Baca Juga :  Apakah Benar Ada Makam Saad bin Abi Waqqash di Guangzhou, China ?

Demikian juga Prof. K.H. Ali Mustafa Yaqub (w. 2016 M), mencantumkan problem ini dalam bukunya Hadis-Hadis Bermasalah. Beliau berpendapat bahwa kisah ini sudah membumi di telinga masyarakat Indonesia lewat berbagai ceramah dan khutbah. Namun tidak bijak rasanya bila muatan kisah ini diyakini sebagai hadis Nabi Saw, kalaupun memang tidak ada sumber kredibel yang absolut dapat membuktikannya.

Menurut penulis, menganggap sebuah pernyataan; ungkapan yang memuat kebajikan sebagai tuntunan dan anjuran adalah suatu hal yang wajar. Apalagi kemudian melihat pesan yang disampaikan kisah di atas, mengajarkan kita untuk tidak serakah, dan tidak berlebih-lebihan. Namun apabila sudah berurusan dengan klaim hadis, sikap yang tepat adalah berhati-hati dengan tetap mempelajari lebih dalam mengenai peristiwa apapun yang terkait.

Wallahu A’lam bi as Showaab

1 KOMENTAR

  1. apakah ada syariah atau nash yg sejalan dg riwayat ini? apakah tuntunan Islam menahan lapar dan tidak berlebihan saja? ohya saya mengingat riwayat makan sampai tegak punggung apakah benar?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here