Majikan Pemabuk Bertobat Sebab Doa Pembantunya                                                                              

0
17

BincangSyariah.Com – Disebutkan dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, sebagaimana dikutip Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, bahwasanya terdapat seorang pembantu muslim, dari seorang majikan pemabuk. Sang majikan pun tak kunjung bertobat meski telah mendapat ajakan berkali-kali dari para pemuka agama. Meski demikian, sang pembantu tetap sangat yakin bahwa Allah kelak akan mengampuni dosa majikannya, hingga ia tak pernah berhenti berharap akan tobatnya sang majikan.

Suatu kesempatan, sang majikan pemabuk itu mengundang kawan dan saudaranya untuk mengadakan pesta minuman bersama. Ketika para tamu telah datang ke rumahnya, lelaki itu memberikan bekal sejumlah empat dirham kepada pembantunya supaya dibelikan hidangan di pasar untuk menjamu para tamu majikannya. Pembantu itu pun pergi meninggalkan rumah untuk melaksanakan perintah majikannya.

Belum sampai ke tempat tujuan yang diperintahkan tuannya, pembantu itu justru berhenti di depan pintu majelis yang diasuh oleh Manshur bin Umar. Ia terhenti karena melihat Manshur yang meminta untuk orang fakir, sembari berkata, “Barang siapa memberikan empat dirham kepada orang ini, maka aku akan mendoakannya dengan empat doa.”

Mendengar ucapan tersebut, pembantu tadi memberikan empat dirham kepada orang fakir yang berada di samping Mansur bin Umar. Padahal telah diketahui tahu bahwa empat dirham itu ialah bekal utama yang diberikan oleh majikannya.

Manshur bin Umar yang hendak menepati janjinya pun menanyakan doa apa saja yang diinginkan oleh orang yang telah rela memberikan bekalnya kepada orang yang tak dikenal.

Pembantu itu menyampaikan keinginannya, dan berkata, “Aku adalah budak milik seorang majikan, aku ingin terbebas darinya.”

Manshur bin Umar langsung mendoakan sesuai apa yang lelaki itu minta. Kemudian bertanya, “Apa selanjutnya?”

Diungkapkanlah keinginan selanjutnya, “Allah mengganti bekal empat dirham yang kuberikan kepada orang fakir itu.”

Didoakanlah sesuai permintaan, lantas ditanya, “Doa selanjutnya?”

“Aku ingin majikanku tobat kepada Allah,” jawab sang pembantu.

“Sudah kudoakan. Permintaan terakhir?”

“Aku berharap Allah mengampuniku, mengampunimu, mengampuni majikanku, dan semua orang yang bersamanya.”

Setelah Manshur bin Umar mendoakan sesuai yang diminta, pembantu itu pun kembali menemui majikannya. Karena majikan menanyakan perihal alasan keterlambatannya, sang pembantu pun menceritakan kejadian yang baru saja ia alami. Kemudian terjadilah percakapan di antara keduanya.

 

“Doa apa saja yang engkau minta?”

“Aku meminta supaya aku bebas dan tak menjadi budak lagi.”

“Setelah ini, pergilah! Engkau kumerdekakan. Kemudian apa doa yang kedua?”

“Supaya Allah mengganti empat dirham yang telah kuberikan kepada orang fakir yang tak kukenal itu.”

“Ini, kuganti empat dirhammu dengan empat ribu dirham. Apa doa yang ketiga?”

“Aku ingin engkau tobat kepada Allah.”

“Sejak hari ini, aku tobat kepada Allah. Lantas, apa doa yang terakhir?”

“Aku berharap Allah mengampuniku, mengampunimu, dan semua orang yang bersamamu.”

“Satu permintaan terakhir ini, bukanlah untukku, bukan juga kuasaku.”

Percakapan keduanya akhirnya terhenti dengan masih menyisakan satu doa dari sang pembantu. Hingga malam hari ketika sang majikan tertidur dalam ranjang empuknya, ia bermimpi bahwa seakan-akan ada orang berkata kepada dirinya, “Engkau telah melakukan keinginan pembantumu yang ditujukan kepadamu, apakah engkau mengira bahwa aku tak akan melakukan sesuatu yang ditujukan kepadaku? Sungguh, aku telah mengampunimu, mengampuni pembantumu, mengampuni Manshur bin Umar, dan seluruh hadirin yang datang ke rumahmu.”

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here