Madrasah Mambaul Ulum Solo: Bibit Pesantren Modern di Indonesia

0
125

BincangSyariah.Com – Sore itu, 2 Januari 2020, di tengah rintik gerimis hujan, aku terdiam di depan bangunan tua. Hening memandangi tiap sudut bangunan dari kayu jati yang berada di samping Masjid Agung Keraton Surakarta itu.

Madrasah Mambaul Ulum Solo, Sekolah agama yang didirikan pada tahun 1905 oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X, sebagai strategi karena ada larangan Pemerintah Hindia Belanda terhadap sekolah agama di Jawa, kecuali di sekitar keraton Yogyakarta dan Surakarta. Konon, bangunan itulah yang membuat elit negeri Belanda khawatir. Keberhasilan Mambaul Ulum mengader intelektual pribumi dapat memicu gerakan sosial. Mengancam koloni Belanda di bumi Nusantara.

Mendung semakin menghitam. Lalu lalang wisatawan manca dan domestik semakin berjejal ke serambi masjid. Untuk sejenak berteduh dari serbuan air hujan yang tidak berhenti dari siang tadi. Namun tetap saja, saya tak bergeser dari bangunan tua itu. Berkelibat bayangan sejarah, di ruangan-ruangan kelas itulah seratus tahun yang lalu, para kiai dan tokoh bangsa mengasup dan mengasah diri.

Sebut saja Prof. KHR. Muhammad Adnan (1889-1969), rektor pertama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; KH. Masjkur Malang (1904-1994), pahlawan nasional yang menjadi menteri agama ke-VI; KH. Nachrowi Thohir (1900-1980), penerus Pesantren Bungkuk Malang, KH. Abdullah Syathori (1905-1979), pendiri Pesantren Arjawaringin Cirebon, KH. Suyuthi Abdul Qadir Pati (1904-1979), KH. Muslich Purwokerto (1910-1998), tokoh yang duduk di DPR (1960) mewakili golongan ulama.

Masih juga bisa disebut tokoh negeri ini. Prof. Dr. Achmad Baiquni, M.Sc., Ph.D (1923-1998), ilmuwan kaliber internasional di bidang fisika atom, Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir (1907-1973), rektor pertama UII Yogyakarta; KH. Saifuddin Zuhri (1919-1986) menteri agama ke-X; KH. Munawir Syadzali (1925-2004), menteri agama ke-XIV; KH. Mufid Mas’ud (1928-2007), pendiri Pesantren Sunan Padanaran Yogyakarta; Mahbub Djunaidi (1933-1995), ketua PB PMII yang pertama; KH. Salman Dahlawi Klaten (1936-2013), dan masih banyak lagi tokoh bangsa lainnya.

Baca Juga :  Anekdot: Menurut Umar bin Khattab, Wajah Malaikat Munkar-Nakir Terlalu Seram

Di bangunan tua itulah, para tokoh ini mendapatkan sentuhan berkah keilmuan Kiai Idris Jamsaren (w.1932), Kiai Muhammad Fadhil, Kiai Bagus Arfah, Kiai Dimyati, Kiai Djauhar, Kiai Kholil, Kiai Mawardi, Kiai Suryani, Kiai Mangunwiyoto, dan lainnya. Di madrasah yang memiliki jenjang Ibtidaiyah (kelas I-V), Tsanawiyah (VI-VIII), dan Aliyah (IX-XII) berbagai kitab kuning diajarkan. Tidak main-main, untuk lulus dari madrasah itu, santri harus menguasai Fathul Mu’in, Shahih al-Bukhari, Tafsir Jalalain, Minhajul Abidin, dan sejenisnya.

Dalam buku “Berangkat dari Pesantren” (1984) karya KH. Saifuddin Zuhri, salah satu santri Mambaul Ulum, di Solo dan sekitarnya, diceritakan di tahun-tahun itu juga dikaji kitab Fathul Wahab, Iqna’, Bughyatul Mustarsyidin, Tafsir Showi, Tafsir Baidhowi, Alfiyah Ibn Malik, Ihya Ulumuddin, dan kitab-kitab berat lainnya. Masing-masing Kiai memiliki wilayah kepakarannya. Mencerdaskan umat untuk menyongsong kemerdekaan.

Senja semakin larut. Rintik hujan mulai menipis. Tak terasa hampir tiga jam, saya hanyut dalam imaji sejarah. Sejarah besar para kiai dan tokoh bangsa yang sempat tak terlintas. Meskipun berulang kali saya mengunjungi Masjid Agung dan Keraton Surakarta, namun baru kali ini, berkesempatan mengerti dan menziarahi sejarah bangunan tua di samping Masjid Agung itu. Meskipun terlambat, tetap patut disyukuri.

Sambil bergegas pulang, terbesit janji di hati. Mambaul Ulum, keberadaanmu akan aku ceritakan ke teman sejawat, murid-muridku, dan anak cucuku. Semoga keberkahan dan inspirasimu senantiasa menyertai kami, generasi penerus bangsa yang terkadang harus uzlah dari debat kusir para (sebagian) elit politik dan elit agamawan, yang tidak jarang sudah di luar nalar dan kewajaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here