Madinah dan Indonesia: Nasionalisme yang Harus Kita Rawat

1
79

BincangSyariah.Com – Berbicara tentang Islam, apakah harus menjadi sebuah negara atau tidak, ataukah negara harus berbentuk Islam? Menurut penulis hanyalah mengulang perdebatan klasik yang tak kunjung usai. Islam merupakan gagasan yang muncul dari langit, dan nasionalisme merupakan gagasan produk bumi. Keduanya haruslah dipadukan agar menjadi tempat terbaik bagi siapa saja yang tinggal.

Dalam sejarah Islam, teladan bernegara sudah seringkali dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Piagam Madinah yang diwariskan oleh Nabi merupakan suatu bentuk negara multikultur yang melindungi berbagai suku dan agama. Dengan semangat Islam, Nabi membentuk piagam Madinah sebagai bentuk konstitusi universal yang menghargai perbedaan.

Madinah merupakan daerah yang sangat ideal dalam bermasyarakat, bernegara dan beragama yang selalu menghargai perbedaan identitas dan melindungi hak-hak orang di dalamnya. Nabi pun sangat cinta akan Madinah, sehingga menyuruh siapa saja untuk melindung tanah airnya.

Nabi Muhammad tidak pernah menyandarkan Madinah dengan asas Islam, tetapi bagi beliau sangat cukup untuk mendasarinya dengan nilai Islam yang menjunjung tinggi hak setiap orang. Hampir sulit menemukan Islam tanpa nasionalisme, dan benteng nasionalitas Islam saat itu adalah Madinah.

Begitupun dengan bangsa Indonesia yang lahir melalui perjuangan rakyatnya. Agama pun masuk ke dalam nafas perjuangan bangsa ini. Dan tak bisa dipungkiri kontribusi yang dilakukan oleh umat Islam pun sangat besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Salah satu gagasan yang sangat penting adalah resolusi jihad yang digagas oleh Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama). Gagasan tersebut menjadi kebangkitan umat Islam –terutama para santri– dalam melawan kolonialisme saat itu. Niat dibalik resolusi jihad itu sendiri adalah mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Kesatuan Indonesia (NKRI) menurut hukum agama Islam.

Resolusi Jihad merupakan suatu bukti bagaimana umat Islam menghadapi para penjajah. Namun yang harus digaris bawahi adalah alasan dibalik resolusi jihad itu sendiri, yakni semangat kebangsaan. Karena menurut Gus Dur (cucu dari KH. Hasyim Asy’ari), salah satu alasan dibalik jihad adalah tatkal merasa terusik dari tempat tinggalnya (idza ukhrija min diyaarihim).

Kemudian, ada pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia yang merupakan titik pertemuan antara nasionalisme muslim dan nasionalisme sekuler. Dalam penetapannya pun di awali dengan perdebatan mengenai sila pertama, tentang ketuhanan. Namun pada akhirnya disepakati kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa”, karena semua agama di Indonesia ikut andil dalam memperjuangkan bangsanya.

Ketuhanan; Kemanusiaan; Persatuan; Musyawarah; Keadilan, semuanya merupakan ajaran Islam yang menjadi falsafah bangsa Indonesia. Dan siapapun yang menolak pancasila, maka mereka juga menolak keadilan, kemanusiaan yang menjadi Maqasyid Syariah dalam Islam. Inilah bentuk falsafah yang dapat menaungi berbagai suku dan agama. Walaupun kenyataanya pengamalan pancasila dalam praktik kehidupan berbangsa ini masih jauh dari apa yang diharapkan.

Dari pembahasan Madinah sampai Indonesia, sebagai perwujudan Islam dan kebangsaan. Makna yang perlu kita ambil adalah meneguhkan komitmen kita sebagai bangsa Indonesia untuk keislaman dan kebangsaan. Tidak ada lagi pemikiran picik dan dangkal yang bersifat sektarian ataupun etno-sentris, tetapi kita haruslah meluaskan pandangan kita menjadi kepentingan berbangsa dan bernegara.

Kita semua berharap kepada semua tokoh agama, agar senantiasa berfikir kritis terhadap segala persoalan umat. Berusaha membangun Islam dalam konteks kebangsaan dan keindonesiaan adalah satu hal yang harus senantiasa dilakukan. Demi terwujudnya bangsa yang rukun dan damai, dan demi terlaksananya agama Islam yang rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here