Macam-macam Ijma’ dan Kekuataannya Sebagai Hukum Islam

0
25536

BincangSyariah.Com – Bagi mayoritas ulama kedudukan ijma’ termasuk dalil yang argumentatif dalam syariat sesudah Alquran dan Sunah. Ini berarti ijma dapat menetapkan hukum yang mengikat dan wajib dipatuhi umat Islam.

Al-Syaukani dalam kitab Irsyadul fuhul telah menjelaskan, secara definitif bahwa ijma adalah kesepakatan ulama mujtahid secara umum. Jumlah mujtahid itu tidak terbatas dan tempatnya terpencar, serta saling berjauhan. Sehingga ada yang berpendapat bahwa ijma mustahil terlaksana kecuali pada masa sahabat.

Karena itu Ijma secara apa adanya, dapat dan sering terjadi dengan bentuk dan tingkat kualitas yang berbeda. Adapun berdasarkan kekuatan kehujjahan Ijma sebagai hukum Islam yang disepakati, ijma’ terbagi menjadi dua, di antaranya:

  1. Ijma Sharih

Yaitu ijma’ yang terjadi setelah semua mujtahid dalam satu masa mengemukakan pendapatnya tentang hukum tertentu secara jelas, baik melalui ucapan, tulisan atau perbuatan. Dan ternyata seluruh pendapat menghasilkan hukum yang sama atas hukum tersebut. Ijma’ ini juga disebut dengan ijma’ qauli.

Ijma sharih sangat jarang terjadi, sebagian ulama mengatakan bahwa itu hanya terjadi di masa sahabat karena waktu itu jumlah mujtahid masih terbatas dan domisili mereka relatif berdekatan. Hukum yang dihasilkan melalui ijma sharih bersifat qath’i sehingga mempunyai kekuatan yang mengikat dan tidak boleh seorang pun pada masa itu untuk menyanggahnya.

2. Ijma Sukuti

Yaitu, kesepakatan ulama melalui cara seorang mujtahid atau lebih lebih mengemukakan pendapatnya tentang hukum suatu masalah dalam masa tertentu kemudian pendapat itu tersebar dan diketahui oleh orang banyak. Namun ternyata tidak seorang pun di antara mujtahid yang lain mengemukakan pendapat yang berbeda.

Pada kasus ini seorang mujtahid lebih memilih diam dan tidak berkomentar dengan pendapat ulama lainnya, ia tidak mengeluarkan pendapatnya pada saat itu tapi diam tersebut dimaksudkan sebagai tindakan pembenaran.

Pengaruh Ijma’ sukuti terhadap hukum bersifat dzanni atau merupakan dugaan kuat terhadap kebenaran. Karena itu tidak terhalang bagi mujtahid lain di kemudian hari untuk mengemukakan pendapat berbeda sesudah ijma itu berlangsung. Menurut Imam Syafi’i ijma sukuti bukanlah ijma yang dipandang sebagai sumber hukum dan dengan sendirinya tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Sedang Imam Ahmad dan Hanafi berpendapat sebaliknya dengan syarat setelah berlalunya waktu dan semua mujtahid pada masa itu telah meninggal serta tidak ada pendapat yang menyanggah hasil ijma tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here