Lisan Perspektif al-Ghazali

0
1332

BincangSyariah.com – Manusia dianugerahi kemampuan untuk berbicara lewat lisan. Lisan, adalah seperangkat bagian tubuh yang memiliki kemampuan luar biasa berupa berbicara. Terbangun atas mulut, lidah, sampai pita suara, kita bisa mengeluarkan suara. Setelah kita mengenal yang namanya bahasa, lalu kita mulai mengucap kata, lalu kalimat. Dari situ, kita dapat berinteraksi dengan orang dengan aneka ragam bentuk. Ciptaan Allah yang luar biasa ini, meniscayakan segera dua hal, mengarahkannya untuk hal yang baik atau yang buruk. Baik dan buruk adalah dua pilihan yang senantiasa melekati kita sebagai manusia selama hidup di dunia.

Imam al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya ‘Ulumu al-Din (Cetakan Dar al-Salam, Kairo. j. 2 h. 987), sampai membuat bab khusus soal lisan. Ia menamainya dengan Kitab Afaat al-Lisan, kitab tentang bahaya-bahaya lisan. Al-Ghazali langsung menempatkan kata Afaat karena menurut beliau lisan adalah anugerah Allah yang paling ringan namun di saat yang sama, sulit dikendalikan. Persoalan lisan dimasukan al-Ghazali ke dalam bagian al-muhlikaat, bagian ketiga dari tetralogi dalam Ihya ‘Ulum al-Din.

Lisan, dalam konsep al-Ghazali adalah alat wicara apa yang terdapat di dalam hati. Kata al-Ghazali,

… وأفاض على قلبه خزائن العلوم فأكمله، ثم أرسل عليه سترا من رحتمه وأسبله، ثم أمده بلسان يترجم به عما القلب وعقله، ويكشف عنه ستره الذي أرسله، وأطلق بالحق مقوله، وأفصح بالشكر عما أولاه، وخوله من علم حصله ونطق سهله…

“… (Allah) telah penuhi hati manusia dengan gudang-gudang ilmu dan Dia sempurnakannya. Kemudian, Allah turunkan tabir untuk apa yang ada dalam hati itu sebagai bagian dari kasih sayang-Nya. Allah rentangkan dari hati berupa lisan yang mewicarakan apa yang terkandung dalam hati dan pikiran. Lewat lisan dapat menyingkap tabir yang dia turunkan tadi. Sehingga, lisan bisa berucap kebenaran. Bersyukur atas apa yang dikaruniai. Dimudahkan untuk mengungkapkan ilmu yang didapat dan berbicara dengan baik.”

Kecanggihan Lisan

Masih di bab dan halaman yang sama, al-Ghazali kembali menguraikan kalau lisan adalah diantara nikmat dan salah satu kemahadetailan ciptaan Allah. Kata beliau, lisan (lidah) itu bentuknya kecil. Tapi pernyataan seseorang itu beriman atau tidak dibuktikan lewat ucapan. Selain itu, segala hal yang di alam semesta ini, yang ada maupun tidak, Pencipta maupun yang diciptakan, khayalan atau realita yang mendekati kebenaran mutlak, semuanya akan menghadapi pembenaran atau penolakan dari lisan. Karena ilmu, semuanya ditransformasikan lewat lisan.

Baca Juga :  Tujuh Salah Kaprah Berbahasa

Menurut al-Ghazali, ini adalah kelebihan lisan yang tidak dimiliki anggota tubuh manapun. Mari kita perhatikan pernyataan beliau soal terbatasnya anggota tubuh yang lain

فإن العين لا تصل إلى غير الألوان والصور، والآذان لا تصل إلى غير الأصوات، واليد لا تصل إلى غير الأجسام، وكذا سائر الأعضاء

Sesungguhnya mata hanya bisa menerima warna dan gambar/citra yang wujud, telinga hanya menerima suara, tangan hanya bisa menyentuh yang konkrit/fisik, begitu juga dengan anggota tubuh yang lain.

Sementara, kalau lisan, menurut al-Ghazali adalah anggota tubuh yang lapang untuk selalu bergerak, bahkan tidak ada akhirnya. Lisan bisa sangat lancar digunakan untuk kebaikan, di saat yang sama untuk kejahatan. Di bagian lain, al-Ghazali menegaskan kalau lisan adalah organ yang tidak ada kata lelah untuk bergerak (la ta’ba fi ithlaaqihi), tidak membutuhkan energi (dalam jumlah besar) untuk menggeraknya (la mu’nata fi tahriikihi), banyak orang yang menyepelakan untuk mengendalikan dampak buruk dari ucapan (qad tasaahala al-khalqu fi al-ihtiraaz ‘an aafatihi wa ghawaailihi), dan lisan menjadi alat terbaik bagi setan untuk menjerumuskan manusia (a’zhamu aalatin li al-syaithaan fi istighwaai al-lisaan).

Setelah berbicara soal ini, al-Ghazali menyatakan bahwa ia bersyukur dianugerahi Allah untuk mengendalikan lisan serta diberi kemampuan menjelaskan persoalan-persoalan soal bahaya lisan ini. Ada banyak sekali yang berhasil beliau inventarisir terkait soal lisan. Dari mulai berbicara yang tidak manfaat, debat, bersenandung, joke/gurauan, lain orang lain ucapan, sampai hal yang mendalam seperti larangan orang awam berbicara atau mempersoalkan sifat-sifat Allah terlalu dalam.

Luar biasa bukan, Imam Abu Hamid al-Ghazali yang wafat tahun 505 H di kota Tus (sekarang bagian dari wilayah Iran) ini. Semoga kita diberikan taufik dan hidayat untuk mulai menjaga ucapan.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here