Lima Syarat agar Hadis Bisa Dikatakan Sahih

1
12905

BincangSyariah.Com – Pembagian macam-macam hadis dipengaruhi oleh dua cabang ilmu hadis. Kedua ilmu tersebut adalah ilmu yang berkaitan tentang rawi (periwayat hadis/informan) dan ilmu yang berkaitan dengan riwayat. Dalam ilmu rawi terdapat ilmu jarh dan ta’dil serta sejarah rawi. Sedangkan ilmu riwayat disebut juga dengan ilmu ‘ilalul hadis.

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas bait yang k tiga dan keempat dari nazam al-Mandzumah al-Baiquniyyah, yang menjelaskan tentang hadis sahih.

أَوَّلُهَا الصَّحِيحُ وَهُوَ مَا اتَّصَلْ # إسْنَادُهُ وَلَمْ يَشُذّ أَوْ يُعَلّْ

Pertama adalah hadis sahih yang  bersambung

Sanadnya, Tidak ada syaz dan illat

يَرْويهِ عَدْلٌ ضَابِطٌ عَنْ مِثْلِهِ # مُعْتَمَدٌ فِي ضَبْطِهِ وَنَقْلِهِ

Perawinya ‘adil, dhabit antar dari awal hingga akhir

Kedhabitan dan periwayatannya tidak diragukan lagi

Berdasarkan yang tertulis dalam nazam di atas, ada lima syarat hadis sahih, yaitu: sanadnya bersambung, tidak ada syaz, tidak ada illat, perawinya adil, dan perawinya dhabit.

1. Sanadnya bersambung

Maksudnya adalah setiap rangkaian perawi dalam sanad tersebut memiliki hubungan guru dan murid. Hal ini bisa diketahui dengan melihat biografi masing-masing rawi di kitab rijal. Biasanya dalam kitab tersebut dicantumkan nama guru dan muridnya, namun apabila tidak disebutkan bisa juga diketahui dengan melihat perjalanan ilmiah atau tahun wafatnya.

2. Tidak ada syaz

Ada banyak pengertian syaz, di antara pengertian tersebut sebagian mengatakan, syaz adalah periwayatan seorang perawi tsiqah yang bertolak belakang dengan periwayatan perawi yang lebih tsiqah darinya.

Ada juga yang mengatakan syaz adalah sebuah riwayat yang maqbul (diterima) bertentangan dengan periwayatan yang lebih diterima/baik dari periwayatannya. Dari dua pengertian tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa syaz adalah kondisi sebuah hadis yang bertentangan dengan yang lebih baik kualitasnya dari hadis itu sendiri.

Baca Juga :  Fatimah Putri Nabi Tertawa dan Menangis Mendengar Cerita Nabi

3. Tidak ada illat

Illat adalah cacat yang terdapat dalam sebuah kesalahan yang tidak disengaja. Untuk mengetahui illat dalam sebuah hadis adalah dengan cara membandingkan antar periwayatan yang tsiqah.

4. Perawinya ‘adil

Imam Ibnu Hajar mengatakan perawi yang adil adalah perawi yang menjaga ketakwaan dan menjauhi dosa kecil. Artinya orang ‘adil adalah orang yang senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan dosa atau yang mengikuti hawa nafsunya. Ada lima syarat perawi disebut ‘adil, yaitu: (1) Muslim; (2) Menjauhi perbuatan fasiq; (3) bukan orang yang teledor; (4) mukallaf (balig dan berakal); (5) menjaga muru’ah. Muru’ah di sini artinya sangat lokalistik, sesuai dengan ada dan kebiasaan daerah perawi hidup.

5. Perawinya dhabith.

Dhabit ada dua jenis dhabith shadr dan dhabit kitab. Yang dimaksud dengan dhabit shadr adalah kuat hafalannya. Ukuran kuat hafalannya adalah ia yakin akan apa yang dia ingat dan apabila diminta untuk menyebutkan dia tidak butuh bantuan lainnya, seperti buku. Sedangkan dhabith kitab adalah tulisan yang benar-benar dijaga oleh penulis dan itu ditulis langsung dari asalnya.

Adapun maksud dari ‘am mitslihi adalah setiap perawi meriwayatkan dari perawi yang sama, yakni sama kualitasnya sebagaimana dijelaskan di atas. Adapun makna mu’tamidun fii dhabthihi wa naqlihi  adalah penguat, sebagaimana dijelaskan di atas.

*Artikel ini ditulis untuk bahan diskusi Kajian Sekolah Hadis Online Yayasan Pengkajian Hadis El-Bukhari Institute

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here