Lima Kesunahan bagi Laki-laki Saat Dikaruniai Anak Menurut Kiai Sholeh Darat

0
1625

BincangSyariah.Com – Hal yang paling dinantikan dari sepasang suami dan istri ialah buah hati. Kedatangan seorang anak dalam kehidupan suami dan istri di dalam Islam dijelaskan secari detail. Orang tua, khususnya seorang ayah harus mengetahui apa dan bagaimana sikap mereka saat kali pertama dianugerahi seorang anak.

Dalam konteks ini, kiai Sholeh Darat menjelaskannya dalam kitab Majmuat al-Syari’at al-Kafiyat li al-Awwam. Di dalam bab yang menjelaskan tentang adab seorang lelaki dalam berumah tangga, ada dua belas yang harus dipenuhi lelaki. Salah satu di antara kedua belas adab itu ialah adab kesebalas, adab saat memiliki anak. Menurut beliau, ada lima hal yang harus dilakukan seorang laki-laki saat menjadi bapak.

Pertama, mensyukuri anak yang telah diberikan kepadanya. Tidak memperbandingkan antara laki-laki atau perempuan. Poin ini sudah penulis bahas dalam tulisan “anak perempuan di mata kiai Sholeh Darat”.

arep aja banget-banget bungahe nalikane keparingan anak lanang lan aja susah nalikane keparingan anak wadon balik karo-karo pada syukur maring Allah kerono siro ora weruh endi-endi ingkang manfaat maring siro opo wadon opo lanang.”

Artinya:

“jangan terlalu bahagia jika diberi anak laki-laki dan jangan sedih jika diberi anak perempuan. Akan tetapi bersyukurlah kepada Allah karena engkau tidak mengetahui mana yang akan memberikan manfaat kepadamu, laki-laki atau perempuan.”

Kedua, saat anak lahir, adab seorang lelaki yaitu mengumandangkan adzan di telinganya sebelah kanan dan memperdengarkan iqamat di telinga sebelah kiri. Selain itu, kiai Sholeh Darat juga memaparkan kesunnahan yang dilakukan seperti membacakan surat Al-Qadr tujuh kali setelah mengumandangkan adzan. Mengajarkan kalimat La Ilaha Illallah saat menginjak fase bayi berlatih bicara, memberikan madu atau kurma kering dan matang saat istri telah melahirkan.

Baca Juga :  Sejarah dan Filosofi Songkok dalam Islam

Ketiga, memberikan nama yang baik. Di dalam Islam, nama-nama yang dianggap baik biasanya diidentikkan dengan nama Muhammad, Ahmad, Abdullah, Abdur Rahman, fatimah, Zaenab, Ruqoyyah, Asiyah, Halimah, Maimunah, Maryam, Khadijah. Menurut kiai Sholeh Darat, anjuran menggunakan nama-nama tersebut tidak ditekankan pada penggunaannya. Akan tetapi motivasi dari penggunaan nama itu.

Motivasi tersebut nampak pada penggunaan nama Muhammad, misalnya. Seorang ayah seharusnya tidak akan pernah berkata kasar kepada sang anak. Apalagi memukul hingga menghinakan derajat kemanusiaannya karena bentuk penghormatan kepada nama yang disandang. Sehingga memilih nama-nama tersebut dimaknai kiai Sholeh Darat lebih sebagai sikap preventif agama atas perilaku kekerasan kepada anak, bukan sekedar penggunaan nama. Bentuk penghormatan kepada Nabi dengan demikian tidak terletak pada penggunaan namanya, melainkan kasih sayang yang lahir kepada anaknya.

utawi bagus-baguse nama iku Muhammad utowo Ahmad, maka aja sira pukul lan aja sira pisuhi lan aja sira ina-ina kerana hurmat maring kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallama

Artinya:

“sebaik-baiknya nama yaitu Muhammad atau Ahmad. Maka jangan engkau memukul, berkata kasar, menghinakannya karena bentuk hormat kepada Nabi Muhammad SAW.”

Keempat, memberikan aqiqah untuk sang anak. Bagi anak laki-laki dua ekor kambing dan seekor kambing bagi anaka perempuan. Pemberian nama dan aqiqah disunnahkan pada hari ke tujuh kelahiran hingga usia balig. Menurut kiai Sholeh Darat, kelak aqiqah ini yang akan menjadi alat legitimasi saat sang anak hendak memberikan syafaat kepada orang tuanya di hari kiamat. Jika orang tua masih belum mampu, maka disunnahkan bagi anaknya untuk ber-aqiqah untuk dirinya sendiri dalam rangka membantu kedua orang tuanya.

Kelima, memberikan bayinya kurma dari mamahan para ulama saleh. Semestinya ini dilakukan oleh ayahnya. Akan tetapi, ini dilakukan dalam rangka berharap keberkahan dari para ulama yang saleh untuk kehidupan sang bayi kelak. Tradisi semacam ini masih banyak kita jumpai atau dikenal dengan istilah tahnik.

Tahnik disini bukanlah bentuk imunisasi Islami yang dijadikan ajang untuk kampanye anti imunisasi yang merupakan produk Barat. Tahnik dahulu dilakukan untuk ngalap berkah kepada Nabi Muhammad melalui air liurnya yang sekarang digantikan para ulama saleh. Cukuplah ia sebagai tradisi yang meneruskan kesunnahan Nabi, bukan ajang kampanye vaksinasi Islami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here