Lima Golongan Pecahan dari Kaum Khawarij

0
1510

BincangSyariah.Com – Kemunculan kaum khawarij disebabkan kekecewaan beberapa pasukan Sayyidina Ali atas keputusan yang diambilnya pada perang shiffin. Pada waktu itu pasukan Muawiyah terdesak, ‘Amr bisn ‘Ash menganjurkan supaya mengangkat Al-Qur’an pada ujung tombak sambil berkata, “Ini kitabullah di antara kami dan kalian”. Semacam bendera putih yang dikibarkan sebagai tanda kalah.

Di pasukan Sayyidina Ali terjadi perselisihan. Ada yang setuju menerima tahkim dan ada pula yang memilih meneruskan peperangan karena mengetahui bahwa itu hanyalah tipu daya pasukan Muawiyah. Namun Sayyiina Ali memilih tahkim hingga menyebabkan kekecewaan di pihak yang setuju meneruskan perangan. Pihak yang kecewa inilah yang nantinya menjadi kaum khawarij.

Kaum khawarij sebagaimana tertulis dalam buku Aliran-Aliran Teologi Islam, berasal dari masyarakat Baduy yang memiliki karakter dan pola pikir yang keras, radikal, berani, serta fanatik dalam mempertahankan pendapat. Karena sebab karakter tersebut seringkali muncul perpecahaan tidak hanya dengan kaum muslim lainnya, melainkan juga di internal kaum khawarij sendiri.

Menurut Ahmad Amin dalam Fajr al-Islam, andaikan kaum khawarij mampu bersatu, niscaya mereka akan memiliki kekuatan yang sangat membahayakan pemerintahan Umayah. Kenyataannya perpecahan di internal menyebabkan pemberontakan kaum khawarij selalu dapat dikalahkan oleh pasukan Umayah.

Menurut  Abdul Qahar sebagaimana tertulis dalam buku Aliran-Aliran Teologi Islam, kaum khawarij terbagi menjadi 20 kelompok. Lima golongan yang tergolong besar adalah sebagai berikut:

Pertama, al-Azariqah. Golongan ini merupakan pengikut Nafi’ bin al-Azraq al-Hanafi yang terkenal dengan sebutan Abu Rasyid. Golongan ini merupakan golongan yang memiliki jumlah massa banyak dan kekuatan besar. Di antara ajarannya adalah umat islam yang tidak mau ikut perang adalah kafir, menghalalkan membunuh wanita dan anak kecil dari musuh mereka, mengingkari hukuman rajam, tidak mengakui taqiyyah (berpura-pura), pelaku dosa besar adalah kafir walaupun dari golongan mereka sendiri.

Baca Juga :  Muslim bin Khalid Az-Zanji: Guru Pertama Asy-Syafi'i di Mekkah

Kedua, an-Najdat. Golongan ini merupakan pengikut Najdat bin Amir. Di antara ajarannya yang dikembangkan adalah mengampuni kesalahan dan kebodohan seseorang yang sudah berusaha untuk berijtihad, agama hanya ada dua: mengetahui Allah dan rasul-Nya, haram menganiaya darah dan harta orang Islam, umat Islam yang melakukan dosa kecil secara terus menerus adalah musyrik. Sedangkan orang yang berzina, mencuri, minum khamr tidak secara terus menerus, maka ia tetap muslim jika pelakunya dari golongan mereka sendiri.

Ketiga, as-Sufriyah. Golongan ini merupakan pengikut Ziyad bin Ashfar. Ajaran-ajarannya hampir sama dengan Azariqah, namun mereka tidak sepaham di antaranya mengenai: haram membunuh wanita dan anak kecil dalam perang, anak orang musyrik tidak kekal di dalam neraka, taqiyyyah (berpura-pura) boleh jika dilakukan dengan perbuatan bukan dengan perkataan.

Keempat, al-Ajaridah. Golongan ini pengikut Abd al-Karim Ajrad. Ajaran-ajaran golongan ini adalah umat Islam wajib mengajak anak kecil untuk memeluk Islam, tidak boleh menghukumi anak kecil kafir, harta musuh tidak boleh dijadikan harta fai’ apabila pemiliknya tidak terbunuh. (Baca: Adakah Ciri-ciri Khawarij di Masyarakat Muslim Hari Ini?)

Pada saat ini golongan khawarij sudah tidak ada. Namun karakter mengafirkan dan menganggap sesat golongan Islam lain masih ada. Waallahu taala a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here