Lima Dasar Perjalanan Tasawuf

1
1076

BincangSyariah.Com – Tasawuf atau mistisisme dalam Islam adalah ilmu yang sangat penting dan memiliki kedudukan luhur, karena tasawuf akan menyampaikan pada kebahagian dunia akhirat. Selain itu, tasawuf adalah obat dari segala macam penyakit hati, sekaligus jalan untuk membersihkan jiwa dan menjernihkan ruh.

Tasawuf adalah cermin bagi kehidupan ruhaniyah yang bertumpu pada proses tahalli (menghiasi diri) dengan akhlak yang mulia dan takhalli (meninggalkan) akhlak yang tercela, agar jiwa menjadi bersih dengan mengikuti Rasulullah Saw. dan para sahabat.

Yusuf Khaththar Muhammad dalam Mausu’ah al-Yusufiyyah fi Bayani Adillati as-Shufiyyah menyebutkan lima dasar perjalanan tasawuf sebagai berikut:

Muhasabah dan Hati yang Jernih

Setiap orang yang ingin masuk dan menempuh jalan orang-orang yang dekat dengan Allah, hendaklah dirinya mengintrospeksi diri sebelum dihisab oleh Allah Swt, dan menimbang amalnya sebelum ditimbang dengan neraca akhirat.

Umar bin Khattab mengatakan:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوهَا قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا…

Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum amal tersebut ditimbang…”

Selain itu, orang yang akan menempuh jalan tasawuf hendaknya menjernihkan hati dari noda dan bisikan nafsu. Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Risalah Adabu Suluki al-Murid, menganjurkan agar seorang murid (orang yang ingin menempuh jalan tasawuf) selalu menjaga pintu hatinya, agar bisikan nafsu tidak bisa masuk. Karena ketika bisikan nafsu berhasil menerobos masuk ke dalam hati, maka nafsu akan merusaknya dan sulit dikeluarkan.

Seorang murid juga diperintahkan bersunggung-sungguh dalam membersihkan hati, karena hati merupakan tempat yang dilihat oleh Allah Swt. Tidak boleh ada sifat yang tercela ada di dalam hati, seperti syahwat dengan dunia, dendam, menipu dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Tiga Keutamaan Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah

Bertujuan Mendapatkan Ridha Allah

Seorang yang menjalani tasawuf hendaknya selalu berorientasi untuk mendapatkan ridha Allah dalam setiap perbuatan dan perkataannya, dan membasuh hatinya dengan air keikhlasan. Allah berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ …

dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya…” (Q.S. Al-Kahfi [18] : 28).

وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (19) إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى (20)

Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya (19) tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi (20)”. (Q.S. al-Lail [92] : 19-20).

Berprinsip pada Kefakiran

Artinya seorang murid hendaknya memiliki sifat zuhud, meninggalkan duniawi dan segala macam gemerlap dunia, tidak suka dengan sesuatu yang menyebabkan hatinya lalai. Sikap zuhud merupakan alat untuk memutus tali yang menghubungkan murid dengan setan. Dengan zuhud seorang murid bisa melaksanakan ibadah secara tulus, tidak merasa tinggi hati, dan tidak membuat kerusakan di muka bumi.

Abdul Wahab as-Sya’rani dalam Minah as-Saniyyah mengutip perkataan Abu Hasan asy-Syadzili, “Seorang murid tidak akan bisa mencapai derajat luhur kecuali dengan cinta kepada Allah dengan sebenarnya cinta, dan dia tidak bisa mencintai Allah kecuali setelah dia membenci dunia dan ahli dunia, serta zuhud terhadap kenikmatan dunia”.

Abdul Qadir al-Jili mengatakan, “Orang yang ingin mendapatkan akhirat, dia harus zuhud terhadap dunia, dan siapa saja yang menginginkan Allah, dia harus zuhud terhadap akhirat”.

Memiliki Sifat Belas kasih dan Cinta

Seorang murid hendaknya mencintai setiap kaum muslimin dan memberikan hak-hak mereka sebagai seorang muslim, yaitu dengan cara mengagungkan dan memuliakan. Jika sifat tersebut bisa terus dilatih dan dilakukan secara konsekuen, maka Allah akan melimpahkan nur sifat rahmah ke dalam hati.

Baca Juga :  Upah dan Hak Pekerja dalam Islam

Sifaf rahmah sangat penting dimiliki oleh seorang murid, karena rahmah adalah akhlak Rasulullah dan para sahabat. Allah telah menegaskan bahwa Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Demikian pula para sahabat, mereka adalah orang-orang yang saling mengasihi. Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ …

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”. (Q.S. al-Fath [48] : 29).

Dengan saling mengasihi antar sesama muslim dan mengasihi makhluk bumi, seorang murid akan dirahmati oleh malaikat yang menghuni langit. Malaikat tersebut akan mendoakan murid agar mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

Orang-orang yang mengasihani akan dikasihi oleh Allah yang Maha Rahman. Kasihilah penduduk bumi, maka engkau akan dikasihi oleh penduduk langit”. (HR. Abu Dawud).

Diceritakan dalam Nashaih al-Ibad karya Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi, pada suatu malam ada seorang yang bermimpi bertemu asy-Syibli yang telah meninggal dunia. Orang tersebut bertanya kepada asy-Syibli tentang keadaannya di alam kubur.

Dalam mimpi tersebut asy-Syibli bercerita:

Allah Swt bertanya kepadaku, “Wahai Abu Bakar! Apakah engkau tahu apa yang menyebabkan aku mengampunimu?

Sebab amal salehku”, aku menjawab.

Allah berfirman, “Tidak”.

Sebab ikhlas ibadahku”, aku menjawab lagi.

Allah berfirman, “Tidak”.

Sebab hajiku, puasaku, dan salatku”, jawabku.

Allah kembali berfirman, “Tidak”.

Sebab aku berkunjung menemui orang-oang saleh untuk mencari ilmu”, jawabku lagi.

Baca Juga :  Tradisi Mendarahi Rumah dan Doa Simbolik

Allah berfirman, “Tidak juga”.

Asy-Syibli kemudian bertanya, “Wahai Tuhanku! Lalu sebab apa?

Allah Swt. berfirman, “Ingatkah engkau ketika engkau berjalan di jalan perkampungan Baghdad, pada saat itu engkau menemukan seekor kucing kecil yang lemah karena kedinginan, dan mengasingkan diri karena cuaca sangat dingin. Engkau kemudian mengasihi hewan tersebut, kemudian mengambilnya dan memasukkannya ke dalam jubahmu, agar dia tidak kedinginan?”.

Asy-Syibli menjawab, “Iya wahai Tuhanku! Aku ingat”.

Allah berfirman, “Sebab kasihmu terhadap kucing tersebut, maka aku pun mengasihimu”.

Menghiasi Diri dengan Akhlakul Karimah

Dasar yang terakhir ini merupakan esensi dari agama dan hakikat dari akhlak seorang sufi. Seorang sufi hendaknya menjadi hamba yang mudah dan lembut terhadap keluarga dan seluruh kaum muslimin. Allah berfirman, “…serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia…” (Q.S. Al-Baqarah [02] : 83)

Rasulullah bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, ikutilah amal buruk dengan amal baik, maka amal baik tersebut akan melebur amal buruk, dan bergaullah dengan manusia menggunakan akhlah yang terpuji”. (HR. Turmudzi) []

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here