Lawāmi‘ul Burhān wa Qawāṭi‘ul Bayān: Kitab Penolak Gerakan Anti-Mazhab dari Solo

1
338

BincangSyariah.Com – Ini adalah halaman depan manuskrip yang berisi teks lengkap kitab Lawāmi‘ul Burhān wa Qawāṭi‘ul Bayān karya Kiai Muhammad Dimyati bin Abdul Karim Surakarta yang disalin oleh Kiai Muhammad Muqri bin Ahmad Kafrawi bin Mahmud. Manuskrip ini tersimpan di Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan, Klaten. Manuskrip ini merupakan bagian dari koleksi kiai sepuh dan salah satu pengasuh pesantren tersebut, KH. Nasrun Minallah.

Saya mendapatkan foto manuskrip ini dari Islah Gusmian, penulis Tafsir Al-Quran dan Kekuasaan di Indonesia: Peneguhan, Kontestasi, dan Pertarungan Wacana, Yogyakarta: Yayasan Salwa, 2019. Manuskrip ini dan beberapa manuskrip lainnya telah beliau abadikan melalui foto dengan pembiayaan dari Kementerian Agama. Koleksi ini dapat diakses di situs lektur Kemenag. Di situs ini manuskrip yang kita bahas diberi kode LKK_SLO2016_NSR13.

Secara keseluruhan naskah ini dalam kondisi sangat baik. Semua tulisan yang ada terbaca sempurna tanpa cacat. Tidak ada tinta yang luntur. Kertasnya tidak ada yang bolong karena dimakan rayap, atau sobek. Tidak pula ada halaman yang hilang. Juga tidak ada kecacatan naskah lainnya.

Ukuran manuskrip ini 21 cm x 16,5 cm. Tebalnya 48 halaman. Kitab Lawāmi‘ sendiri menempati 46 halaman dari keseluruhan halaman yang ada. Kitab ini diberi keterangan halaman pada bagian atas yang mencapai mulai dari satu hingga empat puluh lima. Naskah ini ditulis di atas kertas bergaris dengan jumlah 23 baris di setiap halamannya.

Ada dua jenis warna tinta yang digunakan yaitu tinta hitam dan merah. Tinta hitam menandai teks utama yang dibahas, sedangkan tinta merah menandai teks pemisah untuk pergantian pasal, bab, serta menandai nama orang dan kata-kata penting yang ditekankan, seperti nama pengarang kitab dan nama kitab ini.

Keseluruhan teks kitab Lawāmi‘ul Burhān wa Qawāṭi‘ul Bayān ditulis dalam aksara Arab dan bahasa Arab. Khatnya sangat indah dengan jenis seni tulisan Arab naskhi. Kiai Muhammad Mukri, sang penyalin kitab, melengkapi teks ini dengan harakat pada akhir tiap kata sebagai penanda gramatika (i‘rāb)  dan pada kata-kata yang sulit. Lebih dari itu, beliau juga memberikan makna gandul khas pesantren, terutama pada kata-kata yang perlu penjelasan.

Pada halaman 45 dari kitab ini terdapat keterangan kolofon yang menyebut tahun penyelesaian penulisan kitab ini.

وكان الفراغ من كتابته في ١٣ من جمادى الثانية من سنة ١٣٤٤ من هجرة سيد المرسلين وامام المتقين.

Baca Juga :  B.J Habibie, Komnas Perempuan dan Semangat Anti-Kekerasan

wa kāna al-farāgu min kitābatihi fī 13 jumādiṡ al-ṡāniyah min sanah 1344 min hijrati sayyidil mursalīn wa imāmil muttaqīn

Penyelesaian penulisan kitab ini terjadi pada 13 Jumadits Tsani 1344 dari hijrahnya tuannya para utusan dan pemimpin orang-orang yang bertakwa.

Bila kita konversi ke penanggalan Masehi, maka tanggal 13 Jumadits Tsani 1344 jatuh pada 17 April 1916.

Halaman yang sama juga mengandung endorsemen atas kitab ini dari dua tokoh. KH. Muhammad Dimyathi bin Abdullah at-Tarmisi mengatakan:

قد طالعت هذ الكتاب فوجدته شاهدا حقا وبالحق ناطقا فليعض بالنواجذ وليعرض عن مخالف فانه مبتدع مناجذ.

Setelah aku sungguh-sungguh menelaah kitab ini, maka aku menyimpulkan bahwa kitab ini menjadi saksi akan kebenaran dan mengungkapkan kebenaran tersebut. Hendaknya kitab ini digigit dengan gigi geraham dan dipalingkan dari setiap penentang karena mereka adalah pembuat bid’ah yang buta.

Sedangkan Sayid Hasan bin Abdullah Ba’bud at-Tarmisi di antaranya mengatakan

فلا عيب فيها غير انها لا يرغب فيها من استحوذ عليه الشيطان

Kitab ini tidak memiliki satu kecacatan pun, kecuali adanya kebencian terhadapnya dari orang-orang yang telah dikuasai oleh setan.

Penulis dan Penyalin

Sekarang kita membahas sosok penulis kitab ini. Kiai Muhammad Dimyati bin Abdul Karim Surakarta sebagaimana disebutkan dalam kitab ini pernah nyantri di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan. Beliau nyantri di Tremas ketika pondok tersebut dipimpin oleh KH. Dimyathi Abdullah (w.1934). Hal ini sesuai dengan pengakuan Kiai Muhammad Dimyati bin Abdul Karim pada akhir kitabnya saat menyebutkan endorsemen dari KH. Dimyathi Abdullah:

“Aku telah memberikan kitab ini kepada guruku yang memiliki keutamaan al-‘Allamah at-Tarmasī semoga Allah melanggengkannya dalam keagungan dan kemantapan…”.

K.H. Dimyathi menilai bahwa Kiai Muhammad Dimyati bin Abdul Karim adalah santri yang alim. Sebagai pengakuan, KH. Dimyathi menyerahkan pendidikan beberapa putranya di bawah asuhan pada Kiai Muhammad Dimyati bin Abdul Karim. KH. Habib Dimyati (w. 1997) mengaji di bawah bimbingan Kiai Muhammad Dimyati selama dua tahun sejak tahun 1937. Kemudian menyusul adiknya, KH. Haris Dimyathi, pada tahun 1939 hingga 1942 (Hannah Fithrotien Salsabila Nadiani, 2015).

Kiai Muhammad Dimyati bin Abdul Karim mendidik kedua putra KH. Dimyathi itu ketika beliau memimpin Madrasah Salafiyah Kauman Surakarta. Seorang guru yang me-nyantri-kan anak-anaknya kepada muridnya adalah sebentuk pengakuan atas kealiman sang murid, sehingga pantas mengajar anak-anak gurunya sendiri.

Baca Juga :  Baqiy bin Makhlad; Menyamar Jadi Pengemis Demi Menuntut Ilmu pada Imam Ahmad bin Hanbal

Adapun Kiai Muhammad Muqri bin Ahmad Kafrawi bin Mahmud pernah nyantri di Pondok Pesantren Tremas juga. Dalam halaman depan naskah ini disebutkan namanya,

كاتبها محمد مقرى بن احمد كفراوى بن محمود السوراكرتى احد طلبة العلم بالجامع الترمسى أيضا

“Penyalin kitab Lawāmi‘ adalah Muhammad Muqri bin Ahmad Kafrawi bin Mahmud Surakarta. Salah seorang santri di Pondok Tremas juga.”

Selain itu, beliau juga pernah nyantri di Pesantren Manbaul Ulum Surakarta. Beliau berasal dari Tegalsari, Surakarta. Beliau adalah menantu dari KH. Manshur Popongan (1955) pendiri Pondok Pesantren Popongan pada 1926, dan anak dari KH. Hadi Girikusumo Mranggen. Kiai Muhammad Muqri menikahi putri Kiai Manshur yang bernama Masyfu’ah.

Pernikahan dikarunia keturunan di antaranya adalah Kiai Salman Dahlawi (w. 2013). Beliau adalah penerus Pondok Pesantren Popongan setelah Kiai Manshur wafat. Beliau juga menjadi mursyid tarekat Naqsyabandiyah menggantikan Kiai Manshur (Islah Gusmian, 2017).

Kiai Muhammad Muqri adalah seorang ulama yang sangat produktif. Beragam rupa tulisannya. Ada yang merupakan penyalinan, catatan belajar di pesantren, dan bahkan karya asli. Bidang ilmu yang beliau tulis juga cukup beragam, meliputi gramatika bahasa Arab, fiqih, panduan menulis khath, tafsir, khutbah, doa, tasawuf, serta catatan harian (Islah Gusmian, 2017). Insya Allah dalam kesempatan mendatang saya akan mengulas karya-karya ini satu per satu.

Kandungan Kitab

Kitab ini lahir dari sebuah kegelisahan para ulama di Tremas yang disampaikan kepada Kiai Muhammad Dimyathi akan adanya “fitnah” dalam tubuh umat Islam. Huru-hara ini berkaitan dengan bermazhab dalam menjalankan syariat. Seperti halnya hari ini, bermazhab menjadi sasaran kritik pedas mereka yang belum mengerti. Menuduh mereka yang bermazhab sebagai pengikut imam-imam mazhab, bukan pengikut Nabi saw. Situasi semacam ini menimbulkan kerisauan dalam diri umat Muslim. Apakah mereka beragama dengan benar atau tidak? Dalam saat seperti inilah seorang alim yang sebenarnya harus menunjukkan ilmunya. Kiai Muhammad Dimyathi menyebutkan:

…لما رأيت مسيس حاجة إخوانى الطلبة بالجامع الترمسى خصوصا، وغيرهم من امثالى القاصرين عموما، الى بيان المذاهب المتبعة الحقة وما يتعلق بها حتى لايستولي عليهم في دينهم الوسواس والاوهام الباطلة، ولايتسلط عليهم الشيطان وأولياؤه بالاغواء والاضلال، ولايغتروا بتلبيسات وان كثر القيل والقال ويعلموا حقا ان ما عليه السلف الصالح هو الحق المتبع فماذا بعد الحق الا الضلال…

Baca Juga :  Akikah dan Akomodasi Islam Terhadap Budaya

… karena aku melihat betapa butuh kawan-kawanku para santri di Pondok Pesantren Tremas secara khusus, dan selain mereka yang sepertiku yang terbatas ilmunya secara umum, kepada penjelasan berbagai mazhab yang diikuti, yang benar, dan apa saja yang berkaitan dengan hal ini.  Supaya mereka tidak dikuasai oleh perasaan risau dan waham yang keliru. Supaya mereka tidak tertipu oleh setan dan para penolongnya dengan penyesatan. Supaya mereka tidak teperdaya dengan bisikan-bisikan para pengikut hawa-nafsu meskipun banyaknya kata-kata yang ada. Supaya mereka mengetahui bahwa keberagamaan yang dilanggengkan oleh para ulama terdahulu yang saleh adalah benar dan diikuti, maka apa yang ada setelah kebenaran ini kecuali kesesatan?…

Untuk memberikan jawaban ini, Kiai Muhammad Dimyathi menyusun kitab ini dalam lima pasal. Pasal pertama menjelaskan dalil-dalil dalam menetapkan hukum-hukum cabang dalam Islam dan perbedaan mazhab di dalamnya. Pasal kedua membahas tentang beberapa mazhab yang telah hilang dan mazhab empat yang terus langgeng. Pasal ketiga menerangkan tentang hampir tidak mungkin untuk menemukan seorang mujtahid mutlak di masa sekarang. Pasal keempat tentang kewajiban bagi seorang Muslim di masa sekarang untuk mengikuti salah satu dari empat mazhab (taqlid). Pasal kelima mengandung petunjuk-petunjuk yang menurut Kiai Muhammad Dimyathi Insya Allah akan bermanfaat bagi kaum Muslimin.

Di masa kini kita melihat orang-orang yang mengaku alim namun sebenarnya tidak. Mereka membuat pandangan-pandangan buruk mengenai bermazhab. Bahkan lebih buruk lagi, mereka hendak menjadikan Islam sempit dengan menetapkan satu kemungkinan hukum saja pada banyak hal. Para sahabat telah berbeda, dan perbedaan adalah rahmat maka hendaknya kita mensyukurinya. Bagi kita yang hidup di masa kini di mana banyak ujian berupa ustaz-ustaz dadakan, pesan dari Kiai Muhammad Dimyathi dalam kitab ini patut kita renungkan:

“Yakinlah bahwa para imam (mazhab), semoga Allah selalu meridai mereka, mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar dari Allah Swt. Janganlah kalian tertipu dengan ocehan para pengoceh di zaman ini, dan apa yang diucapkan orang-orang bodoh nan dungu. Yaitu perkataan mereka “perbedaan mazhab itulah yang menyebabkan tiadanya persatuan”. Ucapan ini muncul dari sedikitnya ilmu, pemahaman yang buruk, dan kebodohan terhadap apa yang dilakukan oleh para pengikut mazhab.”

Wallahu a‘lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here