Laits bin Sa’ad; Sahabat Imam Malik Asal Mesir yang Kaya dan Dermawan

0
571

BincangSyariah.Com – Di penghujung akhir abad 1 H, begitu banyak alim ulama dilahirkan. Satu diantaranya Laits bin Sa’ad bin Abdurrahman. Beliau lahir di Qalqashandah, sebuah kampung asri di Mesir pada tahun 94 H. Kira – kira berbeda satu tahun dengan kelahiran Imam Malik bin Anas pendiri Mazhab Maliki yang lahir pada tahun 93 H. Meskipun secara geografis keduanya terpisah sangat jauh, namun Alloh SWT pertemukan keduanya di Madinah, tempat kelahiran Imam Malik. Semenjak pertemuan itu, kedua pakar fikih ini lebih sering lagi berinteraksi. (Baca: Kisah Imam Malik Menunjukkan Kitab Muwatha` Kepada 70 Ahli Fikih)

Kecerdasan Laits bin Sa’ad sudah terlihat sejak masih di usia dini. Ubaidillah bin Ja’far, Ja’far bin Rabiah, Harist bin Yazid dan beberapa tokoh ternama lainnya asa Mesir mengutarakan hal yang sama soal Laits. Mereka telah menyaksikan keutaamaan Laits di usianya yang masih sangat belia. Untuk memperdalam ilmu agamanya, Laits melakukan perjalanan ilmiah ke berbagai wilayah seperti Madinah, Makkah dan Syam. Ketiganya tidak lain adalah tempat berkumpulnya para alim ulama dan penuntut ilmu. Perjalanan menuntut ilmu inilah yang membentuk beliau menjadi seorang terpandang akan keluhuran ilmunya.

Setelah pulang dari menuntut ilmu, beliau mendapat banyak perhatian dari masyarakat maupun pemerintah. Beliau tumbuh menjadi seorang yang sangat terpandang dan berpengaruh. Ketenarannya sampai ditelinga para Khalifah, tidak jarang beliau diundang ke istana untuk menyelesaikan beragam permasalahan. Beliau juga pernah ditawari jabatan Gubernur Mesir namun tidak mengambilnya dan merekomendasikan seseorang untuk mengisi posisi tersebut.

Selain seorang seorang muhaddist dan faqih, Laits dianugerahi harta melimpah. Dalam buku Majlis Min Fawaid Laits karya Muhammad bin Rizq dijelaskan, saking kayanya saat beliau melakukan perjalanan, beliau membawa tiga perahu. Satu perahu diisi perlengkapan masak, satu perahu diisi keluarganya dan satu lagi khusus diperuntukkan untuk para tamu.

Baca Juga :  Empat Perkara yang Membuat Hidup Bahagia

Beliau menggunakan kekayaannya tersebut untuk membiayai para fakir miksin. Sebagaimana saat musim dingin tiba, beliau membagi – bagikan kepada masyarakat makanan berupa madu, kurma dan daging sapi. Sementara di musim panas, beliau menyedekahkan biji – bijian dan kebutuhan pokok lainnya menyesuaikan kondisi cuaca. Menurut Ibnu Quthaibah, Laits setiap harinya memberi sedekah kepada 300 orang miskin.

Saat ada seseorang yang mengalami musibah, beliau tidak segan – segan menggelontorkan dana. Sebagaimana di tahun 170 H, peristiwa naas menimpa Abdullah bin Lahi’ah. Saat itu terjadi kebakaran, kitab – kitab Ibnu Lahi’ah habis dilahap si jago merah. Mengetahui peristiwa tersebut, keesokan harinya Laits langsung mengirim 1000 dinar untuk Ibnu Lahi’ah. Dalam suatu riwayat beliau juga pernah memberikan 1000 dinar untuk Mansur bin Ammar dan Imam Malik serta 300 dinar untuk seorang budak perempuan. Ketika ada seorang ibu meminta madu ala kadarnya untuk obat sang anak, Laits memberikannya jauh lebih banyak dari yang diminta yaitu sekitar 120 rithl. Karena sering bersedekah, meski memiliki harta melimpah ruah, Laits tidak terbebani kewajiban zakat. Sabab, hartanya tidak pernah mengendap hingga mencapai satu haul.

Soal latar belakang petemuannya dengan Imam Malik sejarah tidak begitu detail mengungkap. Hanya ada beberapa riwayat yang mengisahkan kedekatan Imam Malik dan Laits. Misalnya saat menempuh pendidikan, Imam Malik dikisahkan tidak dapat mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya. Sebab dalam kesehariannya, beliau curahkan total untuk menuntut ilmu. Agar Imam Malik dapat fokus terhadap apa yang sedang dipelajari, maka Laits membantu Imam Malik dengan rutin mengirim 100 dinar di setiap tahunnya.

Di kisah lain, Imam Malik hendak mengunjungi istri dan putrinya di suatu tempat. Lalu meminta bantuan Laits untuk mengirimkannya beberapa tangkai tanaman sejenis kesumba. Tanaman ini masyhur di kalangan rakyat Mesir kuno. Kendati hanya diminta beberapa tangkai saja, Laits malah memberikannya 30 tanaman. Jika ditaksir, harganya mencapai 500 dinar.

Baca Juga :  Sejarah Praktik Titip Harta dan Mengangkat Wakil pada Masyarakat Arab Pra-Islam

Kedekatan Imam Malik dan Laits bin Sa’ad tidak hanya saat bertemu di Madinah saja. Jika keduanya sedang berada di negara masing – masing, keduanya sering berdiskusi mengenai banyak hal melaui surat menyurat. Meski keduanya tidak selalu  sependapat dalam beberapa hal, namun keduanya sangat menjunjung tinggi akhlak mulia. Saling memuliakan dan menghormati, begitulah keduanya benar benar menerapkan esensi nilai ajaran Islam.

Di pertengahan bulan Sya’ban tahun 175 H, Laits bin Sa’ad meninggal dunia. Musa bin Isa turut menyolati jenazahnya.  Khalid Abdussalam As-Sadafi bersama ayahnya menyaksikan pemakaman Laits. Beliau menuturkan semua orang yang hadir bersedih kemudian Khalid berkata pada ayahnya “Wahai ayahku, setiap orang serasa memiliki jenazahnya”. Lalu ayahnya menjawab, “Wahai anakku, kamu tidak akan pernah melihat orang seperti dia”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here