Kronologi The Arab Spring Atau Musim Semi Arab

0
31

BincangSyariah.Com – Sejarah mencatat The Arab Spring atau Musim Semi Arab sebagai fenomena demokrasi terkuat dan terunik di Timur Tengah. The Arab Spring adalah bahasa politik yang populer digunakan dalam kancah politik internasional terutama di negara-negara Arab sejak awal Januari tahun 2011 silam.

Istilah The Arab Spring menunjukkan tentang kejatuhan deretan rezim yang dikendalikan oleh para pemimpin otoriter di dunia Arab. Mulai dari pemimpin di Tunisia, Zein Al-Abidin Ben Ali.

Kejatuhan rezim di dunia Arab kemudian diikuti oleh negara Mesir dengan jatuhnya Hosni Mubarak. Kejatuhan rezim berlanjut di negara Libya yang menjadi akhir era kediktatoran Moammar Khadafy di mana Moammar sudah memimpin selama kurang lebih 40 tahun. Kejatuhan rezim berlangsung di Yaman, Bahrain, dan Suriah hingga saat ini.

Fenomena The Arab Spring kemudian menjadi awal kebangkitan harapan masyarakat Arab akan kehidupan yang lebih baik dan lebih demokratis di kawasan Timur Tengah. Kebangkitan demokrasi di dunia Arab justru menampilkan wajah yang lebih menyeramkan ketimbang di daerah-daerah lain di dunia.

Awal Mula The Arab Spring

Gejolak The Arab Spring bermula di Tunisia saat seorang pemuda berusia 26 tahun bernama Mohammed Bouazizi melakukan protes terhadap kekejaman pemerintahan lokal di bawah rezim otoriter Ben Ali.

Seseuatu terjadi. Pada waktu itu, Bouazizi nekat melakukan aksi bakar diri yang menarik perhatian seluruh negeri bahkan di seluruh dunia tepat pada tanggal 17 Desember 2010.

Pada hari itu, Jum’at, 17 Desember, Bouazizi berangkat dari rumahnya di pagi hari untuk melakukan aktivitas penopang hidupnya, lalu menuju gerobak tempatnya berjualan sayur-mayur di Sidi Bouzid, sekitar 190 mil (300 km) selatan Tunisia.

Michele Penner Angrist dalam Morning in Tunisia: The Frustrations of the Arab World Boil Over (2011) mencatat bahwa Bouazizi dan gerobaknya telah menjadi target razia aparat sebab dianggap sebagai tindakan berjualan tanpa izin.

Padahal, Bouazizi sebenarnya adalah seorang lulusan universitas yang terpaksa menerima hidup dengan pekerjaan kasar sebagai pedagang kaki lima. Hal tersebut ia lakukan lantaran minimnya akses ke pekerjaan yang layak.

Ibu Mohammed Bouazizi kemudian mengatakan bahwa aksi bakar diri yang dilakukan anaknya bukan karena faktor ideologi atau politik. Aksi yang dilakukan Bouzazi tersebut adalah murni demi harkat dan martabatnya sebagai manusia.

Ia menambahkan bahwa sebuah kehinaan bagi anaknya bahwa dia menderita yakni dimaki dan disiksa oleh aparat yang tidak lagi dapat dia toleransi. Bouazizi sendiri mesti menyetor denda 10 dinar atau setara upah satu hari, setara dengan 7 USD sebab tidak memiliki izin usaha.

Akhirnya, Bouazizi pun tidak punya pilihan lain selain mesti melanjutkan perjuangannya dan berjualan sebagai pedagang kaki lima (PKL) meski tidak membayar denda.

Ia terus berjualan tanpa izin dan memutuskan untuk tidak membayar denda yang telah ditentukan sebelumnya. Hal itulah yang membuat ia dan gerobaknya menjadi salah satu target razia aparat setempat.

Perlu digarisbawahi bahwa sudah menjadi hal yang lazim di Sidi Bouzid bahwa para PKL wajib memberikan uang suap kepada aparat untuk tetap bisa berjualan.

Sayangnya, pada hari itu, Bouazizi sedang tidak mempunyai uang untuk menyuap aparat. Apriadi Tamburaka dalam Revolusi Timur Tengah: Kejatuhan Para Penguasa Otoriter di Negara-Negara Timur Tengah (2011).

Saat Bouazizi sedang menata dan merapikan barang dagangan, seorang oknum aparat bernama Faida Hamdi yang bertugas di daerah tersebut dan dua rekannya datang. Ketiganya memberi tahu Bouazizi bahwa ia tidak memiliki izin sehingga gerobaknya mesti disita dan Bouazizi wajib membayar denda.

Bouazizi tidak mengalah begitu saja sehingga terjadi pertengkaran adu mulut antara dirinya dan oknum aparat. Bouazizi kemudian ditampar, wajahnya diludahi, timbangannya disita, dan gerobaknya juga disita. Tak sampai di situ, mendiang ayahnya pun dihina oleh aparat tersebut.

Demikian perlakuan aparat terhadap Bouazizi yang lemah. Situasi tidak berdaya atas kesewenangan aparat terhadap diri Bouazizi membuatnya mengadu pada Gubernur Sidi Bouzid. Namun, pengaduan tersebut tidak mendapat perhatian serius dari Gubernur. Gubernur bahkan menolak untuk melihat dan mendengarkan pengaduan nasibnya.

Maka, Bouazizi pun frustrasi dengan situasi yang dihadapinya dan membuat pemuda 26 tahun tersebut mengatakan, “jika Anda tidak mendengarkan saya. Saya akan bakar diri saya sendiri.”

Kalimat tersebut bukan hanya ancaman. Ia benar-benar nekat melakukan aksi yang di luar nalar akal sehat manusia pada umumnya. Kurang dari satu jam kemudian, ia kembali ke kantor Gubernur tanpa ditemani satu pun anggota keluarganya. Bouazizi datang dengan membawa dua botol bensin kemudian membakar dirinya di depan kantor Gubernur pemerintah daerah, Sidi Bouzid.

Aksi bakar diri yang dilakukan oleh Bouazizi adalah pilihan hidup terbaik untuknya yang tidak lagi punya harapan hidup serta tidak tahan menghadapi hidup yang hampir setiap hari diperlakukan sewenang-wenang dan dihina oleh oknum aparat.

Sebenarnya, Bouazizi sempat dilarikan ke rumah sakit setelah membakar dirinya dan juga sempat dipindahkan ke rumah sakit kota Ben Arous, dekat Tunis. Di sana ia menjalani perawatan di Trauma Centre dan Burn. Presiden Tunisia, Zein al-Abidin Ben Ali, sempat menjenguknya di rumah sakit.

Sayangnya, semua sudah terlambat. Ia tidak mampu menyelamatkan nyawa pedagang kaki lima tersebut serta menyelamatkan kekuasaan Ben Ali. Pada 4 Januari 2011 atau 17 hari telah aksi nekatnya tersebut, Bouazizi meninggal dunia.

Efek The Arab Spring

Pada hari kematian Bouazizi, ada sekitar 5000 orang yang ikut ambil bagian dalam proses pemakamannya. Keesokan harinya, Bouazizi pun dimakamkan di pemakaman Bennour Garat, sekitar 10 mil dari Sidi Bouzid.

Aksi bakar diri atau self-immolation yang dilakukan oleh Bouazizi pun mendapat perhatian secara luas. Pemberitaan media-media nasional dan internasional meledak, lalu diikuti oleh demonstrasi yang mengguncang kekuasaan di tangan rezim otoriter di negara-negara Arab, bukan hanya di Tunisia.

Kemarahan publik tidak hanya meluas setelah Bouazizi menghembuskan napas terakhirnya. Sehari berselang setelah ia membakar dirinya, massa kemudian turun melakukan unjuk rasa yang menyebabkan kerusuhan di kota tersebut, bahkan aparat sempat kewalahan mengatasi kerusuhan yang terjadi dalam aksi unjuk rasa tersebut.

Sejumlah jejaring sosial seperti Facebook dan YouTube menyorot beberapa gambar dari aksi tersebut. Dalam upayanya untuk memadamkan kerusuhan itulah, Presiden Ben Ali mengunjungi Bouazizi di rumah sakit sebelum meninggal.

Sayangnya, kunjungan Ben Ali tidak berhasil memadamkan semangat perlawanan dari rakyatnya. Setelah kematian Bouazizi, gerakan perlawanan terus terjadi hingga kekerasan meningkat terusmenerus, bahkan semakin mendekati ibukota negara, Tunis.

Pada tanggal 27 Desember 2010, ada sekitar 1.000 warga yang bersama-sama dengan penduduk Sidi Bouzid mengekspresikan solidaritas dengan menyerukan suatu aksi bersama menentang pemerintahan.

Pada saat yang sama, ada sekitar 300 pengacara yang mengadakan aksi demo dekat pemerintahan istana di Tunis. Demonstrasi kemudian kembali dilanjutkan pada tanggal 29 Desember. Kini, The Arab Spring telah mengorbankan lebih dari 250.000 orang di Suriah. Sampai saat ini, masih ada konflik yang terus berkepanjangan.

United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) mencatat bahwa ada lebih dari 7,6 juta warga Suriah menjadi pengungsi di negara mereka sendiri dan 4,2 juta mengungsi ke sejumlah negara di sekitar Suriah. Sementara itu, International Organization for Migration (IOM) menyebutkan bahwa ada sekitar 893.970 orang di antaranya yang mengalir ke dataran Eropa.

Pada waktu itu, rakyat Arab menyebutnya sebagai peristiwa politik penting  dengan sebutan al-Tsaurat al-Arabiyyah yang bermakna revolusi yang akan mengubah tatanan menuju masyarakat dan bangsa ideal setelah sekian lama dipimpin dengan sistem otoriter.

Rakyat Arab berharap bahwa dengan kekuasaan yang tidak dibatasi, kekuasaan yang mengekang kebebasan masyarakat dan melahirkan kesenjangan antara elite atau penguasa yang hidup mewah dengan rakyat yang miskin.

Berbeda dengan rakyat di Arab, orang Barat menyebut fenomena tersebut dengan The Arab Springs atau Musim Semi Arab atau al-Rabi’ al-Arabiy yang bermakna bahwa sebagai musim yang menjadi titik awal pertumbuhan demokrasi di negara-negara Arab.[]

(Baca: Radikalisme: Antara Suriah dan Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here