Kronologi Permulaan Datangnya Wahyu kepada Nabi Muhammad

2
783

BincangSyariah.Com – Dalam riwayat Imam Bukhari dikisahkan bahwa permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah Saw adalah dengan datangnya mimpi dalam tidur Rasulullah, mimpi itu datang seperti cahaya subuh.

Semenjak datangnya mimpi yang laksana cahaya subuh itu, Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih gua Hira untuk beribadah di malam hari (tahannus) dalam beberapa waktu lamanya. Beliau baru akan kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali. Beliau biasanya dibantu Khadijah mempersiapkan bekal.

Sampai akhirnya datang wahyu saat Beliau di gua Hiro, Malaikat datang seraya berkata, “Bacalah?” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa baca”.

Maka Malaikat itu memegang dan memeluk beliau dengan sangat kuat kemudian melepaskannya dan berkata lagi, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa baca,”

Malaikat itu melakukannya hingga tiga kali, lalu berkata lagi, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah).”

Nabi Saw lalu kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khawailidh seraya berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!”.

Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah, “Aku mengkhawatirkan diriku”. Khadijah menenangkan Rasulullah seraya berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim.”

Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah.

Saat itu Waraqah sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata, “Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini.”

Baca Juga :  Belajar Ulumul Quran: Perbedaan Tafsir dan Takwil     

Waraqah berkata, “Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami,”

Maka Rasulullah menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waraqah berkata, “Ini adalah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu.”

Rasulullah Saw bertanya, “Apakah aku akan diusir mereka?”

Waraqah menjawab, “Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti (dimusuhi). Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan semampuku.”

Ternyata benar, Waraqah tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatrah (kekosongan) wahyu.

Pada kali berikutnya ketika Nabi Muhammad Saw dalam perjalanan kembali dari Gua Hira, wahyu yang kedua datang. Saat itu ketika sedang berjalan beliau mendengar suara dari langit, beliau lalu memandang ke arahnya dan ternyata Malaikat yang pernah datang kepadanya di gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi.

Karena ketakutan, akhirnya Rasul pun bergegas pulang, dan berkata kepada Khadijah,”Selimuti aku. Selimuti aku”.

Maka Allah Swt menurunkan wahyu, “Wahai orang yang berselimut, sampai firman Allah, dan berhala-berhala tinggalkanlah.” Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan.

2 KOMENTAR

  1. […] Sebagai seorang manusia, tentu Nabi merasakan rasa takut seperti manusia pada umumnya saat pertama kali merasakan sesuatu hal yang tidak umum terjadi pada manusia. Pada potongan hadis di bawah disebutkan bahwa Nabi merasa takut terhadap dirinya. Ulama berbeda pendapat mengenai maksud Nabi takut tersebut. Menurut Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, makna takut yang paling tepat di sini adalah Nabi takut meninggal, atau sakit parah disebabkan peristiwa penerimaan wahyu tersebut. Berikut kisah Nabi pertama kali menerima wahyu di gua hira. (Baca: Kronologi Permulaan Datangnya Wahyu kepada Nabi Muhammad) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here