Kritik terhadap Bertrand Badie Soal Modernisasi Politik di Dunia Muslim

0
356

BincangSyariah.Com – Telah disinggung dalam artikel sebelumnya yang mengulas pemikiran Bertrand Badie dalam bukunya Les Deux États: Pouvoir et Société en Terre de L’Islam tentang bagaimana dunia Islam bagi Badie tidak mengalami proses modernisasi politik seperti yang terjadi di Barat. Hal demikian dikarenakan bagi Badie, dunia Islam tidak mengenal otoritas gereja sebagai lawan untuk otoritas raja.

Ketika konflik antara peranan gereja dan negara di Barat mengambil penyelesaiannya lewat jalur pemisahan wilayah antara keduanya dan sebagai akibatnya memunculkan  teori tentang kontrak sosial, muncullah political sphere di Eropa yang memungkinkan lahirnya institusi-institusi di luar negara sebagai penyeimbang sekaligus pengontrol kebijakan pemerintah.

Di dunia Islam, jutsru elemen-elemen sosialnya tidak mengalami proses kesejarahan semacam ini sehingga jika dilihat secara political sphere-nya terkesan bahwa raja adalah negara dan negara adalah raja. Belum lagi ketika dikaitkan dengan agama, raja seolah membangun imajinasinya sebagai institusi yang anti-kritik karena dirinya mengklaim telah mendapat otoritas dari Tuhan.

Akibatnya, muncullah di negara-negara yang mayoritas Muslim ini para pemimpin otoriter dan totaliter. Konsekuensinya, negara bukanlah cerminan dari kehendak dan kepentingan rakyat. Negara tidak lain hanyalah cerminan kehendak raja dan keluarganya. Jelas bagi Badie kondisi ini sangat kontras sekali dengan negara-negara Barat yang merupakan cerminan dari kehendak rakyat.

Hasil pengamatan Bertrand Badie ini sebenarnya jika dilihat secara substansinya tidak menyajikan hal baru. Pasalnya, modernisasi politik di Eropa tidak lain hanyalah produk dari pertarungan antara raja dan gereja di satu sisi dan pertarungan antara raja  dan kalangan Borjuis yang makin meningkat pengaruhnya di sisi yang lain.

Adapun pengamatan Badie yang menyinggung ketiadaan prasyarat objektif yang memungkinkan terjadinya modernisasi politik di negeri-negeri Muslim dan semua ini dikembalikan kepada faktor ketiadaan peranan gereja/gereja di masyarakat Muslim tentu merupakan hasil kesimpulan yang keliru. Kecuali jika keberadaan gereja ini menjadi prasyarat yang pasti bagi munculnya proses modernisasi politik tapi ini tentu tidak mungkin.

Baca Juga :  Umat Beragama di Era Revolusi Industri 4.0

Pengamatan Badie ini seolah mengingatkan kita pada pandangan Max Weber tentang kebangkitan kapitalisme di Eropa. Weber melihat bahwa etika Protestan yang berkembang seiring dengan semangat reformasi agama oleh Martin Luther di abad ketujuh belas dan yang mendorong para penganutnya untuk bekerja keras, berhemat, hidup sederhana  telah memunculkan apa yang disebutnya sebagai semangat kapitalisme, semangat yang didasarkan kepada nilai surplus, perencanaan yang tepat, tindakan yang rasional dan seterusnya. Singkatnya bagi Weber kapitalisme dalam kebangkitannya mensyaratkan hadirnya etika protestan terlebih dahulu.

Jika kita gunakan analogi terbalik seperti yang dikemukakan Bertrand Badie dalam bukunya Les Deux États dan tentu masih dalam kerangka Weberian, dapat dikatakan bahwa kapitalisme tidak akan bangkit di dunia Arab dan dunia Islam karena tidak adanya reformasi agama yang terjadi di dunia Islam ini seperti yang terjadi di Eropa oleh Martin Luther. Pengamatan ini jelas menegaskan terlebih dahulu bahwa kapitalisme tidak akan bangkit kecuali dengan satu prasyarat, yakni adanya reformasi agama dengan model yang diperkenalkan Luther dan Calvin. Tentu pandangan ini akan ditolak oleh berbagai ahli.

Kasus yang terjadi di Jepang membuktikan dengan sendirinya bahwa pandangan seperti ini keliru. Bahkan ada sosiolog yang menyatakan bahwa etika Protestan sebenarnya tidaklah menjadi sebab kebangkitan kapitalisme. Adanya kapitalisme karena ekonomi Eropa di saat itu berkembang ke arah akumulasi kapital sehingga membangkitkan kapitalisme Eropa.

Berangkat dari sini, kita bisa mengajukan tafsiran lain terhadap proses modernisasi politik dan sistem kapitalisme di Eropa. Kita bisa melihat bahwa modernisasi politik dan sistem kapitalisme yang sebenarnya muncul secara beriringan tidak akan terjadi kalau seandainya pertarungan atau konflik antar kekuatan sosial di tubuh internal masyarakat Eropa terganggu oleh ancaman dari luar yang menghalang-halangi perkembangannya.

Baca Juga :  Rasulullah Tegur Sahabatnya yang Bersikap Rasis

Menariknya di Eropa pada Abad Pertengahan justru kekuatan asing itu ialah dunia Islam yang menjadi ancaman luar bagi mereka namun ancamannya bukan pada level yang sifatnya fisik tapi lebih kepada kesadaran atau ingatan. Tentu ancaman luar yang hanya pada level kesadaran ini mendorong Eropa untuk bersatu dan maju dalam berbagai bidang, terutama politik dan ekonomi.

Lain halnya dengan dunia Arab-Islam, faktor eksternal merupakan faktor yang paling berpengaruh bagi fenomena kemunduran dan kemandegan Islam. Faktor eksternal ini termanifestasikan ke dalam berbagai bentuk serangan-serangan mematikan dan menghancurkan terhadap dunia Arab mulai dari Hulagu Khan, perang Salib sampai ke imperialisme Eropa modern. Serangan terhadap dunia Islam inilah yang membawa umat Islam kepada kemunduran di berbagai bidang, terutama di bidang politik dan pengetahuan. Inilah faktor eksternal yang paling menentukan masa depan modernisasi politik di dunia Islam.

Berangkat dari fenomena ini, kita mungkin dapat mengajukan pertanyaan: apa jadinya modernisasi politik di Eropa kalau seandainya ada kekuatan asing atau kekuatan luar yang mengancam dan membatasi ruang geraknya sebagaimana imperealisme Barat yang menghancurkan dan membatasi ruang gerak kemajuan dan modernisasi di dunia Arab-Islam? Bagaimana nasib industrialisasi di Eropa dan dampaknya berupa rangkaian pertarungan sosial yang berimplikasi kepada kemajuannya jika tidak ada bahan-bahan mentah industri dari dunia Arab-Islam yang diakumulasi oleh penjajahan?

Bagaimana nasib dunia Islam saat ini kalau seandainya Barat atau Eropa membiarkan maju langkah-langkah modernisasi politik Muhammad Ali di Mesir dan tidak mengintervensi secara politik, ekonomi dan militer? Bagaimana pula kondisi Arab saat ini kalau Eropa tidak mendukung pendirian negara Israel di jantung dunia Arab? Bagaimana nasib dunia Islam kalau seandainya Barat tidak berusaha menjatuhkan Musaddiq di Iran dan mengalahkan Abdul Naser di Mesir?

Baca Juga :  Kante: Pemenggal Bola yang Murah Senyum

Jelaslah dari sini bahwa ketiadaan modernisasi politik di dunia Arab modern tidak hanya dapat ditafsirkan melalui kemasalaluannya namun juga dapat dijelaskan melalui kekiniannya. Bahkan kehadiran Barat yang imperialis sebagai kekuatan internasional gerak lajunya didasarkan kepada usaha-usaha menghalangi kemajuan dunia Arab-Islam dan Dunia Ketiga pada umumnya.

Kendati demikian, tidak berarti kita mengabaikan faktor-faktor internal yang tidak boleh dikecilkan dampak dan peranannya. Namun, tetap saja, imperialisme Barat selalu hadir sebagai penghalang terbesar bagi kemajuan di dunia Islam saat ini dan menjadi faktor terbesar yang membendung arus modernisasi politiknya sehingga wajarlah political sphere di dunia ini hanya diisi oleh raja. Allahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here