Kritik Penafsiran Syahrur atas Ayat Istri Membangkang Suami; Tafsir Surah an-Nisa Ayat 34     

1
521

BincangSyariah.Com – Belum lama ini, beredar kontroversi pandangan pemikir Islam asal Suriah, Muhammad Syahrur. Terlebih setelah Abdul Aziz menulis sebuah disertasi tentang penafsiran Muhammad Syahrur terhadap ayat milkul yamin (Surah al-Mu’minun [23]: 5-6). Selama ini, Syahrur memang dikenal dengan pemikiran-pemikirannya yang kontroversial. Tidak hanya milkul yamin, pandangan Syahrur dalam tema lain yang juga berbeda adalah dalam tema nusyuz. (Baca: Tafsir Surah an-Nisa Ayat 19; Sayangi Pasangan Hidup Kita)

Kata nusyuz (tidak termasuk bentuk turunannya) dapat dijumpai sebanyak dua kali dalam al-Qur’an, Surah an-Nisa’ [4]: 34 dan 128 (al-Mu’jam al-Mufahras li alfaz al-Qur’an al-Karim, hlm. 418-419). Meski demikian, Surah an-Nisa’ (4): 34-lah yang kerapkali menjadi pokok rujukan dalam tema nusyuz. Pandangan penafsiran Syahrur pada ayat ini menarik untuk dicermati ulang dan dikritisi. Khususnya pemaknaan kalimat wadhribuhunna dalam ayat tersebut.

Ulama dahulu dan sekarang umumnya memahami kalimat wadhribuhunna dalam Surah an-Nisa’ (4): 34 sebagai pemukulan adab terhadap istri yang bersikap nusyuz. Al-Qurṭubī misalnya, berpandangan bahwa yang dimaksud dengan kata “waḍribuhūnna”  dalam surah an-Nisa’ (4): 34 ialah pemukulan adab yang tidak menyakitkan, yaitu pemukulan yang tidak menimbulkan retaknya tulang (memar), atau menimbulkan luka pada kulit seperti tikaman dan sesamanya. Tujuan pemukulan ini adalah kebaikan atau kemaslahatan, bukan yang lain (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, v: 172).

Bahkan para ulama bersepakat (ijmak) bahwa pemukulan merupakan salah satu cara menyikapi istri yang berbuat nusyuz (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, XL: 295). Ibn Qasim mengatakan bahwa para ulama telah sepakat mengenai kebolehan suami memukul istri yang bersikap nusyuz, kebolehan ini berlaku setelah tahap menasehati dan pisah ranjang tidak berhasil membuat istri berhenti bersikap nusyuz (Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi’i, VI: 455).

Baca Juga :  Madinah dan Indonesia: Nasionalisme yang Harus Kita Rawat

Tetapi Syaḥrur mengemukakan pandangan tafsir yang berbeda atas surah an-Nisa’ (4): 34. Menurutnya, kalimat wadhribuhunna dalam ayat tersebut seharusnya diartikan dengan semacam ‘bertindak tegas terhadap mereka’. Tindakan tegas dalam pandangan Syahrur bisa diambil melalui mekanisme “arbitrase”. Mekanisme semacam ini serupa dengan menyikapi suami yang bersikap nusyuz yang terdapat dalam surah an-Nisā’ (4): 128 (al-Kitab wa al-Qur’an: Qira’ah Mu’asirah, hlm. 619-623).

Namun sejauh pembacaan penulis, kecuali Syahrur dengan makna tegas dan Abdul Majid Ahmad dengan makna menjauh (Dharb al-Mar’ah Hal Huwa Hilla li al-Khilafat al-Jauziyyah, Ru’yah Ijtihadiyyah Qur’aniyyah Mu’ashirah, hlm. 25), semua ulama memaknai wadhribuhunna dengan pemukulan. Syahrur berarti hendak mengatakan bahwa tahapan menghadapi istri yang bersikap nusyuz ialah dengan menasehatinya, kemudian mendiamkannya (pisah ranjang), lalu bersikap tegas. Tahapan ini berbeda dengan pandangan para ulama pada umumnya.

Penafsiran Syahrur atas ayat tentang nusyuz memang telah memperhatikan maksud atau pesan utama ayat itu (yakni kemanusiaan). Tetapi penafsiran Syahrur memiliki titik lemah, yaitu terletak pada keengganan memperhatikan makna historis atau original meaning kalimat wadhribuhunna. Padahal  dalam kaedah tafsir, seorang penafsir selain harus menangkap maqashid  (signifikansi) di balik ayat, tetapi juga harus menjaga makna asal (original meaning) di saat ayat itu turun (baca: memperhatikan dan menimbang asbāb an-nuzul).

Seperti kita tahu, konteks turunnya an-Nisa’ (4): 34 berkenaan dengan kasus Habibah binti Zaid bin Abi Zuhair (istri sahabat Nabi dari kalangan Ansar). Habibah melapor kepada Nabi bahwa ia telah ditampar oleh suaminya, Sa’ad bin al-Rabi’. Habibah kemudian mengadu kepada Nabi bersama ayahnya. Saat pertama, Nabi membolehkan untuk meng-qisas suaminya. Namun kemudian Habibah dipanggil kembali dan Nabi bersabda bahwa malaikat Jibril AS telah mewahyukan ayat ini (an-Nisa’ [4]: 34), Nabi kemudian bersabda: “Kita menginginkan suatu, dan Allah menghendaki sesuatu, dan apa yang Allah kehendaki adalah yang terbaik” (Ibn Aḥmad al-Wahidi, Asbab an-Nuzul Al-Qur’an, hlm. 152).

Baca Juga :  Cinta Menaklukkannya

Dalam penafsiranya atas ayat nusyuz, Syahrur terlalu mengandalkan analisis kebahasaan. Bagi Syahrur kata dharaba dalam wadhribuhunna, tidak bisa diartikan sebagai pemukulan fisik jika tidak dibarengi dengan objek bagian tubuh seperti lengan, kepala, atau leher. Kata dharaba jika disusul dengan kata ganti perempuan seperti pada kasus ayat an-Nisa’ (4): 34, maka bisa diartikan dengan arti “ambil langkah tegas dalam kasus ketidaktaatan itu”. Setelah semua upaya nasihat dan pisah ranjang tidak membawa hasil. Langkah tegas atau sikap tegas ini ditempuh sebelum upaya penyelesaian akhir melalui perceraian.

Menurut Fatimah bint Muhamad, Hadis-Hadis sahih (dan banyaknya syarh atau komentar para ulama) mengenai pemukulan yang tidak membekas, pemukulan haruslah menggunakan kayu siwak atau ujung pakaian, tanggung jawab seorang suami ketika pemukulan mengakibatkan terlukanya istri, semuanya menunjukan bahwa pemukulan yang dimaksud dalam ayat (an-Nisā’ [4]: 34,) merupakan pemukulan hakiki, bukan majazi (Wilayah aj-Jauz fi Ta’dib aj-Jauzah bi adhDharb Hududuha wa Akamuha fi Syari’ah al-Islamiyah, hlm. 405).

Fatimah memandang bahwa menafsiri al-Qur’an dengan Hadis tetap merupakan metode penafsiran terbaik. Maka tidak seharusnya penafsiran hanya mengandalkan analisis ketepatan kalimat (kebahasaan), tanpa melihat lebih jauh konteks pembicara dan pendengar seperti yang terdapat dalam Hadis. Menurut Fatimah, surah an-Nisa’ (4): 34 merupakan ayat denotatif (hakiki), bukan konotatif (majazi). Penyematan (hakiki) semacam ini, berimbas pada tertolaknya pemaknaan yang ditawarkan oleh Syahrur.

1 KOMENTAR

  1. […] “Sesungguhnya taubat (diterima) di sisi Allah diperuntukkan bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan dengan kebodohan, kemudian mereka bertaubat dalam waktu dekat. Maka mereka itulah yang diterima taubatnya oleh Allah. Allah itu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. an-Nisa:17). (Baca: Kritik Penafsiran Syahrur atas Ayat Istri Membangkang Suami; Tafsir Surah an-Nisa Ayat 34) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here