Kritik Cak Nun atas Ungkapan “Hormatilah Orang Berpuasa”

4
1700

BincangSyariah.Com – Kita sering dengar kalimat “hormatilah orang yang berpuasa” di kalangan masyarakat. Secara sadar atau tidak kata-kata itu telah menggejala ketika memasuki bulan puasa. Terlebih dikatakan kepada orang yang tidak melaksanakan puasa.

Bahkan, sebagian masyarakat bukan hanya meminta untuk dihormati, tetapi juga menutup paksa warung-warung yang buka ketika bulan Ramadan. Tidak hanya masyarakat yang menutup paksa warung-warung, aparat pun kerap melakukan penutupan.

Kalimat “hormatilah orang yang berpuasa” secara jelas menunjukan permintaan penghormatan kepada orang lain. Konteks permintaan tersebut adalah meminta orang lain untuk tidak makan atau minum sembarangan. Emha Ainun Nadjib atau biasa kita sebut dengan Cak Nun salah seorang budayawan memberikan kritik kepada siapa pun yang mengatakan kalimat tersebut.

Pasalnya, orang yang mengatakan tersebut sudah menjatuhkan kehormatannya dengan meminta pengorhamatan kepada orang lain. Sedangkan, menurut Cak Nun, puasa mengajarkan kepada kita untuk menghormati orang lain, bukan meminta penghormatan.

Dalam ceramahnya satu tahun silam lalu, ia mengatakan, “kita berpuasa untuk menghormati orang lain, bukan untuk dihormati orang lain, ngono (begitu). Bulan puasa kok, hormatilah orang yang berpuasa, gunane wong puoso iku den koe sinauh ngormati wong, ora njalok dihormati wong (gunannya orang yang berpuasa itu agar kamu bisa menghormati orang lain, tidak meminta penghormatan orang).  Hanya orang yang tidak terhomat yang meminta penghormatan orang lain, ngono (begitu) loh.”

Maka dari itu kita dianjurkan untuk tidak meminta penghormatan kepada orang lain. Karena sebagaimana diucapkan Cak Nun, bahwa hanya orang yang tidak terhormat yang meminta penghormatan orang lain. Ini merupakan pilihan bagi kita, apakah memilih untuk menjadi orang terhormat atau tidak.

Meminta penghormatan pun sangat tidak terhormat, apalagi penutupan warung-warung secara paksa. Jika masih ada orang yang melakukannya, maka mereka sebenarnya tidak bisa menangkap tujuan berpuasa seseunggunya.

Baca Juga :  Mengapa Muharam Ditetapkan Sebagai Bulan Pertama Tahun Hijriyah?

Bagaimana tidak, puasa mengajarkan untuk menahan diri dari perbuatan yang dilarang, dan pemaksaan adalah salah satunya. Tetapi larangan tersebut tentu tidak hanya berlaku ketika puasa saja, hanya saja, ketika larangan tersebut dilakukan saat berpuasa, maka kurang sempurna hasil dari pada puasanya.

Yang terbaik adalah kita saling menghormati satu sama lain. Kalaulah mereka yang tidak berpuasa, makan dan minum di tempat umum, maka biarkanlah mereka seperti itu, biarkanlah mereka sadar dengan sendirinya.

Tetapi kita harus menghormati mereka, tanpa harus memaksa dan meminta penghormatan, karena itu merupakan hak dan mereka memang tidak berkewajiban untuk berpuasa. Akhirnya, bagaimanapun kita berpuasa untuk menghormati orang lain dan ketika kita telah melakukannya, maka kita pun akan dihormati.

Wallahu’alam.

4 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
    Itu menurut hadist atau menurut cak nun ajah,,ko gk ada dalil isi ceramah caknun nyh,,
    Jamaah caknun tolong baca hadist dan Al-Qur’an.

  2. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
    Itu menurut hadist atau menurut cak nun ajah,,ko gk ada dalil isi ceramah caknun nyh,,
    Jamaah caknun tolong baca hadist dan Al-Qur’an.
    Buka Warung di Siang Ramadhan

    Ada yang menyarankan toleransi untuk orang yang tidak berpuasa. Bagaimana pandangan ustaz.. Bolehkah kita buka warung untuk melayani orang yang tidak puasa?. Mohon pencerahannya.

    Jawab:

    Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

    Seringkali orang berlindung dengan kata toleransi dengan maksud menihilkan aturan syariat islam. Di bali, muslimah dilarang berjilbab. Lembaga keuangan syariah digugat keberadaannya. Karyawan muslim, kurang mendapatkan kebebasan dalam beribadah. Semua beralasan dengan satu kata, toleransi.

    Di kupang, NTT, keberadaan masjid digugat. Untuk mendirikan masjid baru, prosedurnya sangat dipersulit. Demi toleransi.

    Di daerah muslim minoritas, orang islam sering mejadi ‘korban’ penganut agama lain. Semua untuk mewujudkan tolerasi.

    Sayangnya, ini tidak berlaku untuk acara nyepi di Bali yang sampai menutup bandara. Atau topi santa bagi karyawan muslim, ketika natal.

    Kita bisa melihat, adakah reaksi negatif dari kaum muslimin?

    Ini membuktikan bahwa umat islam Indonesia adalah umat paling toleran. Sementara umat non muslim minoritas selalu menuntut toleran…

    Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari bahaya para tokoh yang bersembunyi di balik kata toleransi.

    Menjual Makanan Di Siang Hari Ramadhan

    Kita akan menyebutkan beberapa ayat, yang bisa dijadikan acuan untuk membahas acara makan di siang hari ramadhan.

    Pertama, Allah melarang kita untuk ta’awun (tolong-menolong) dalam dosa dan maksiat.

    Allah berfirman,

    وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

    “Janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan maksiat.” (QS. al-Maidah: 2).

    Sekalipun anda tidak melakukan maksiat, tapi anda tidak boleh membantu orang lain untuk melakukan maksiat. Maksiat, musuh kita bersama, sehingga harus ditekan, bukan malah dibantu.

    Tidak berpuasa di siang hari ramadhan tanpa udzur, jelas itu perbuatan maksiat. Bahkan dosa besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diperlihatkan siksaan untuk orang semacam ini

    “Dia digantung dengan mata kakinya (terjungkir), pipinya sobek, dan mengalirkan darah.” (HR. Ibnu Hibban, 7491; dishahihkan Al-A’dzami)

    Siapapun pelakunya, tidak boleh didukung. Sampaipun orang kafir. Karena pendapat yang benar, orang kafir juga mendapatkan beban kewajiban syariat. Sekalipun andai dia beramal, amalnya tidak diterima, sampai dia masuk islam.

    An-Nawawi mengatakan,

    والمذهب الصحيح الذي عليه المحققون والأكثرون : أن الكفار مخاطبون بفروع الشرع ، فيحرم عليهم الحرير ، كما يحرم على المسلمين

    Pendapat yang benar, yang diikuti oleh para ulama ahli tahqiq (peneliti) dan mayoritas ulama, bahwa orang kafir mendapatkan beban dengan syariat-syariat islam. Sehingga mereka juga diharamkan memakai sutera, sebagaimana itu diharamkan bagi kaum muslimin. (Syarh Shahih Muslim, 14/39).

    Diantara dalil bahwa orang kafir juga dihukum karena meninggakan syariat-syariat islam, adalah firman Allah ketika menceritakan dialog penduduk surga dengan penduduk neraka,

    إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ . فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ . عَنِ الْمُجْرِمِينَ . مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ . قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ . وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ

    Kecuali golongan kanan, berada di dalam syurga, mereka tanya-menanya, tentang (keadaan) orang-orang kafir. Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. (QS. al-Muddatsir: 39 – 44)

    Dalam obrolan pada ayat di atas, Allah menceritakan pertanyaan penduduk surga kepada penduduk neraka, ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk neraka?’

    Jawab mereka: “Karena kami tidak shalat dan tidak berinfak.”

    Padahal jika mereka shalat atau infak, amal mereka tidak diterima.

    Inilah yang menjadi landasan fatwa para ulama yang melarang menjual makanan kepada orang kafir ketika ramadhan. Karena dengan begitu, berarti kita mendukungnya untuk semakin berbuat maksiat.

  3. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh
    Maaf, mungkin bagi cak nun tidak masalah untuk tetap berpuasa dalam restoran
    Tetapi tentunya tidaklah demikian bagi sebagian umat, karena diantara adalah masih pemula atau anak2, sekali lagi maaf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here