BincangSyariah.Com- Ketegangan teluk yang memposisikan Qatar sebagai pihak yang tertuduh mendukung gerakan terorisme rupanya bukan hanya gertakan belaka. Sejumlah Negara Timur Tengah, seperti Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain telah menyatakan keikut-sertaannya bersama Saudi dalam memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Qatar. Maskapai penerbangan dari dan ke Qatar sudah ditutup dan duta besar Qatar dari negara-negara itu telah dirumahkan. Kedua kejadian di atas kiranya cukup sebagai bukti keseriusan pemutusan hubungan diplomatik dan bukan hanya isapan jempol belaka.

Boleh jadi kita melihat ketegangan itu sebagai buntut panjang dari perebutan kekuasaan Arab Spring yang sempat digoreng dengan berbagai isu-isu keagamaan, termasuk isu Sunni-Syiah sebagaimana yang terjadi di Suriah. Ikhwanul Muslimin beserta gerakan-gerakan pro-kemerdekaan Palestina bisa jadi isu yang dapat dimainkan secara ideologis-dogmatis bagi ketegangan Saudi-Qatar.

Akan tetapi untuk kali ini, isu-isu keagamaan semacam itu jelas tidak laku lagi diperdagangkan. Percayalah bahwa ada kekuatan besar yang bermain dan membayangi perebutan kekuasaan, dominasi, dan kekayaan yang sedang terjadi di Timur Tengah saat ini.

Bukankah sering muncul tuduhan bahwa ideology takfiri dan jihadis yang identik dengan terorisme itu muncul dari tanah Hijaz, Saudi.  Namun ternyata justru wajah terorisme itulah yang dijadikan Saudi sebagai alasan kali ini.

Bisa jadi sangat benar bahwa ISIS, Al-Qaedah dan sejumlah gerakan terorisme yang serupa adalah gerakan yang berideologi takfiri dan jihadis, namun tidak mudah mengidentifikasi secara tegas dan hitam putih untuk ketegangan teluk kali ini. Nyatanya, mereka-mereka sendiri juga saling berseteru dengan isu yang sama, radikalisme dan terorisme, entah dari mana emberionya.

Indonesia, sebagai Negara berpenduduk muslim terbanyak, seharusnya dapat cepat dalam memberikan reaksi nyata terhadap perseteruan di Timur Tengah ini. Sebab satu fakta yang tidak dapat dinafikan adalah jika perseturuan ini dibiarkan berlarut, umat Islam dunia secara keseluruhan adalah pihak yang paling dirugikan.

Baca Juga :  Ini Pesan Rasulullah untuk Pelakor

Citra Islam semakin buruk seiring negara-negara berpenduduk mayoritas Islam itu semakin sengit dalam perseteruannya. Phobia Islam akan semakin dalam menghujam dalam dan sulit disembuhkan di dalam nalar bawah sadar masyarakat dunia secara internasional.

Indonesia dengan ‘Islam Nusantara’ yang dibanggakan itu harus segera mengambil peran. Bukan dalam rangka mendukung salah satu kubu yang berseteru, akan tetapi dengan memaksimalkan usaha rekonsiliasi antara kedua kubu beserta pendukungnya. Muslim Nusantara tidak seharusnya ikut memperkeru situasi di Timur Tengah dengan analisis ideologis dan dogmatisnya yang hanya akan menambah sengit perseteruan antara kubu-kubu dalam Islam itu sendiri.

Muslim Nusantara harus mampu menunjukkan perannya yang berarti dalam mengimpor kesantunan, moderasi, dan perdamaian yang konon selalu dibanggakan dalam bingkai NKRI ini.

Jangan hanya diam menontot bagai supporter pertandingan, kemudian di saat usai berteriak-teriak, kamilah pemenangnya. Pemenang adalah mereka yang ikut andil dan mempunyai peran, bukan mereka yang hanya mendaku. Tunjukkan kepada dunia bahwa Islam Nusantara ala NKRI di bumi pertiwi ini mampu berbuat untuk umat Islam dunia. Entah bagaimana pun cara dan mekanismenya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here