Kontroversi Manfaat Kurma Ajwa sebagai Penangkal Racun dan Sihir

0
1012

BincangSyariah.Com – Siapa yang tidak mengenal buah kurma? Buah yang berasal dari Jazirah Arab tersebut sangat digemari oleh semua orang dari berbagai belahan negara, khususnya negera-negara muslim. Rasa manisnya yang khas membuat manisnya kurma sulit tergantikan oleh manisnya buah lain. Buah kurma mengandung nutrisi yang sangat menguntungkan bagi tubuh, seperti karbohidrat, serat, protein, zat besi, vitamin B6 dan lainnya.

Buah kurma yang sangat favorit khususnya pada musim haji dan bulan ramadhan tersebut memiliki berbagai macam jenis, misalnya kurma ajwa, kurma madu mesir, kurma sukkari, kurma tunisia, kurma naghal, kurma medjool, kurma khanaizi dan lain sebagainya.

Di antara berbagai jenis kurma yang dijual di pasaran, kurma ajwa atau dikenal dengan kurma Nabi merupakan primadona dan sangat favorit di lidah penikmat kurma. Hal itu karena selain rasa dan teksturnya yang sedikit berbeda dari kurma pada umumnya,  kurma ajwa disebut secara khusus manfaatnya oleh Nabi saw. Beliau bersabda :

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma ajwa pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir (HR. Bukhari & Muslim)

Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang kesahihannya tidak diragukan. Perbedaan diantara ulama dalam menyikapi hadist diatas justru terkait maksud dan relevansinya mengamalkan hadist tersebut sepeninggal Nabi Saw. Dalam hal ini, ada dua pendapat ulama dalam menjelaskan hadist diatas.

Pendapat pertama, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’ad dan At-Thibi dalam Syarah Mashobih, hadis itu harus dipahami secara dhohir bahwa kurma ajwa memang memiliki keutamaan atas jenis kurma yang lain. Keutamaan itu berlangsung sejak zaman Rasulullah Saw, sekarang dan seterusnya.

Baca Juga :  Hadis Tempat Dajjal Menjemput Kematian

Senada dengan pendapat diatas, apa yang dikemukakan oleh Imam An-Nawawi dalam syarah muslim (14/3), beliau berkata, “Dalam hadist ini terdapat keutamaan kurma ajwa Madinah, keutamaan mengkonsumsi tujuh butir pada pagi hari, dan keistimewaan kurma ajwa Madinah atas kurma yang lain. Adapun bilangan tujuh sebagaimana diajarkan oleh Syari’ (Rasulullah Saw) dalam banyak hal, kami tidak mengetahui hikmahnya. Maka wajib kita beriman dengannya, meyakini keutamaan (bilangan tujuh) dan adanya hikmah di dalamnya. Hal ini sebagaimana bilangan sholat, nishob zakat dan lainnya. Inilah yang benar dalam menyikapi hadist ini”.

Pendapat yang kedua dikemukakan oleh sebagian ulama bahwa hadist diatas hanya berlaku pada zaman Rasulullah Saw, tidak sepeninggal beliau. Hal ini karena hadist itu sulit dipahami maknanya secara medis. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Abul Abbas Al-Qurtubi dalam kitab Al-Mufhim dan Imam Al-Maziri dalam Kitab Al-Muallim.

Ulama yang berpendapat dengan pendapat kedua ini tidak menolak hadist tersebut diatas, hanya saja mereka mengkhususkan pengamalan hadist tersebut pada zaman Rasulullah Saw. Dalam hal ini, Imam Al-Maziri berkata, “Hadist ini termasuk sesuatu yang sulit dimengerti dari sudut pandang ilmu medis. Jika memang dari sisi medis mengkonsumsi kurma dapat menyelamatkan dari racun tentulah Rasulullah Saw tidak membatasi dengan tujuh butir kurma dan tidak terbatas hanya kurma ajwa (yang memiliki khasiat demikian). Boleh jadi keutamaan itu hanya berlaku pada zaman Rasulullah Saw atau bagi mayoritas orang-orang di zaman itu. Karena, saya tidak menemukan keberlangsungan manfaat itu di zaman kita sekarang pada umumnya”.

Banyak ulama yang menentang dan melemahkan pendapat kedua ini. Mereka memperingatkan kita agar tidak tertipu dengan pendapat tersebut. Karena tidak ada dalil yang mengindikasikan adanya hadist yang berlaku hanya pada zaman Rasulullah saw. Selain itu, keumuman redaksi hadist diatas dengan sendirinya menolak pendapat bahwa hadist diatas hanya berlaku di zaman Rasulullah Saw.

Baca Juga :  Sejarah Awal Pelaksanaan Ibadah Haji

Lebih jauh, Imam Qodhi Iyadh dalam kitab Ikmalul Muallim Bifawaidi Muslim (6/531) menjelaskan, “Kestimewaan kurma ajwa Madinah dalam menangkal racun dan sihir menghilangkan kemusykilan, seperti sebagian tanaman obat di beberapa hutan yang ada di sebagian negara dimana tanaman sejenis di negara lain tidak memiliki khasiat sebagai obat. Hal itu karena tanah dan udara turut mempengeruhi tanaman tersebut”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here