Hari Inovasi, Ini Kontribusi Dunia Islam untuk Ilmu Oftamologi

0
217

BincangSyariah.com – Zakaria Virk, sejarawan sains Kanada adalah intelektual yang istikamah mengumpulkan hasil-hasil penemuan tokoh-tokoh di dunia Islam pada Abad Pertengahan. Salah satu yang berhasil dia inventarisasi adalah kontribusi umat Muslim terhadap ilmu oftamologi, ilmu tentang penyakit-penyakit di mata.

Dalam sejarah dunia Arab dan Islam, penelitian dan penemuan di berbagai bidang keilmuan berkembang pesat pada abad ke-8 sampai ke-12. Pada periode ini, banyak sekali buku-buku berjilid yang dihasilkan sampai penemuan-penemuan baru terkait berbagai macam bidang ilmu, salah satunya kedokteran.

Lebih khusus, bidang tentang mata serta penyakit-penyakit medis padanya juga mendapat perhatian luas. Para fisikawan-ahlimata di kalangan Muslim memberikan jejak-jejak temuan penting dalam perkembangan pengobatan mata. Dimulai dari penjelasan lapisan dan struktur mata, penemuan istilah retina yang diartikan sebagai organ dan sumbernya dari buku karya Ibn Sina, sampai penemuan jarum suntik oleh Ammar bin ‘Ali dari Mosul, Irak.

Di antara ilmuwan dari dunia Islam yang berkontribusi di bidang pengobatan mata adalah al-Tabari, Ali bin ‘Abbas al-Majusi (w. 994 M), al-Zahrawi (w. 1013 M), ‘Ali bin Isa, Al-Razi, Ibn Sina, sampai Ibn al-Haytsam (w. 1039 M). Mengatakan “dari dunia Islam”, untuk menyatakan bahwa di masa itu ilmuwan tidak hanya dari kalangan muslim, tapi juga ada yang beragama lain seperti Kristen atau Yahudi. Mari kita coba ulas singkat beberapa ulama dan kontribusinya.

Hunayn bin Ishaq (w. 873 M) adalah orang pertama yang mencoba menjelaskan anatomi mata lewat bukunya ‘Asyr Maqaalat fi al-‘Ayn (sepuluh makalah soal mata). Hunayn bukan beragama Islam. Ia adalah seorang Kristen Nestorian yang hidup di masa Kekhalifan ‘Abbasiyah, dinasti yang memang menggenjot penelitian ilmiah/sains tapi di saat yang sama bersikap keras pada ulama yang tidak sepakat dengan dinasti ini. Kembali ke Hunayn, gambar anatomi mata yang dibuatnya kemudian dibawa ke Eropa dan sampai saat ini model buatannya masih digunakan di dunia kedokteran dengan beberapa pencanggihan model. Hunayn juga ilmuwan yang menjelaskan soal kista dan tumor.

Baca Juga :  Mengenal Syekh Sulaiman Ar-Rasuli: Ulama Pejuang Kemerdekaan dari Minangkabau

Abu Bakar Al-Razi (w. 923 M) dikenal di Eropa dengan sebutan The Arab Galen. Ia adalah alim yang menjelaskan adanya reaksi retina dan pupil (bagian hitam mata) terhadap cahaya. Dalam kitabnya, al-Manshuri, al-Razi mendokumentasikan soal bagaimana mengobati katarak dengan menggunakan gelas kaca. Dalam karya babonnya, al-Hawi ada bagian tentang optamologi. Ia menuliskan beberapa buku lain tentang mata seperti fi kayfiyyat al-abshar (cara kerja mata), kitab fi hay’at al-‘ayn (buku tentang struktur mata), kitab fi ‘ilaj al-‘ayn bi al-hadid (buku tentang pengobatan mata dengan alat besi).

Abu Mansur al-Qumri (w. 990 H) asal Khurasan, Iran. Guru dari Ibn Sina ini punya buku berjudul al-Ghina wa al-Muna. Di buku ini, ia menjelaskan kenapa pandangan menjadi lemah, di antaranya disebabkan oleh membaca huruf kecil, melihat objek bercahaya, atau terlalu banyak makan gula dalam waktu yang lama. Yang terakhir ini disebut diabetes di masa sekarang.

Abu al-Qasim al-Zahrawi (w. 1013 M). Ia adalah perintis ilmu bedah modern. Ia juga menjelaskan soal operasi katarak dengan detail. Dalam bukunya al-Tasrif, ia membagi mata menjadi dua belas bagian termasuk katup mata. Ia juga yang menjelaskan soal chemosis (radang mata), penyakit di kornea seperti ulkus yang menyebabkan sakit kepala dan mata yang berair terus.

Ammar bin Ali al-Mosuli (w. 1010 M, di Kairo). Ia adalah fisikawan di bawah kekhalifahan al-Hakim pada Dinasti Fatimiyah. Karyanya di bidang pengobatan mata adalah al-Muntakhib fi ‘Ilaaj al-‘Ayn (Materi-Materi Pilihan tentang Pengobatan Mata). Pada karyanya ini, ia menjelaskan dengan detail 48 penyakit mata beserta kasus-kasus klinis, temuan-temuan personalnya, sampai instrumen penanganannya dalam bentuk pembedahan. Ia adalah ilmuwan pertama yang mencoba mengobati katarak dengan cara suction (penghisapan).

Baca Juga :  Pendapat Ibn Rusyd tentang Perempuan

Abu ‘Ali al-Husayn bin Abdullah Ibn Sina (w. 1037 M). Penulis al-Qanun fi al-Thibb ini bukunya terus digunakan untuk buku ajaran kedokteran di Eropa dari abad ke-12 sampai  ke-17. Sampai tahun 1537, Universitas Vienna masih menjadikannya sebagai textbook ilmu kedokteran. Ia adalah orang pertama yang menjelaskan adanya enam otot yang mengontrol gerakan mata, melebar dan mengecilnya pupil, serta fungsi saluran air mata.

Ibn al-Haytham (w. 1039 M di Kairo), juga hidup di masa Dinasti Fathimiyyah. Ia juga punya perhatian khusus terhadap mata. Salah satu penemuannya adalah cahaya bukan berasal dari mata, tapi dari objek yang pantulannya masuk ke dalam mata. Ia juga yang menemukan bahwa cara kerja mata bersifat dioptric. Penemuannya ini kelak akan menjadi inspirasi dalam pembuatan kamera.

Masih banyak lagi temuan dan inovasi yang tercatat berasal dari dunia Muslim. Semoga kita dapat terus belajar sehingga dapat terus mengembangkan ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak. Dan, selamat hari Inovasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here