Kontribusi Pemikiran Said Nursi dalam Pertahanan Islam di Tukri

2
13

BincangSyariah.Com – Berdasarkan sebuah karya dengan judul “al-Lama’at dan The Word” yang ditulis oleh Said Nursi terbitan tahun 2008, dijelaskan bahwa beliau dilahirkan pada tahun 1877 M di daerah Turki bagian Timur, kemudian wafat di ‘Urfa pada tahun 1960 M. Said Nursi merupakan anak ke empat dari tujuh saudara. Adapun ayahnya bernama Mirza merupakan seorang ahli tasawuf.

Beliau banyak belajar keilmuan agama Islam dengan berbagai guru terkemuka di madrasah bersama seorang guru masyhur yang bernama Syekh Muhammad Celali. Akan tetapi, pembelajaran Said Nursi tersebut hanya bertahan selama tiga bulan. Said Nursi di madrasah tersebut banyak belajar dasar-dasar ilmu keislaman sebagai permulaan.

Selanjutnya, Said Nursi belajar ke berbagai guru terkemuka di berbagai wilayah. Selain itu, beliau juga banyak terlibat diskusi ilmiah bersama para ulama di Bitlis, Cizre, Mardin dan ulama lain yang pernah ia singgahi. Atas dasar kegigihannya dalam mendalami berbagai disiplin ilmu, akhirnya Said Nursi tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berkualitas. Ia dikenal sebagai ulama yang pemikirannya kontekstual dengan zaman.

Memasuki tahun 1925 M  terjadilah kemunduran kekhalifahan Turki Usmani yang cukup signifikan. Menurut Mustafa Kemal, Turki hanya dapat bangkit kembali melalui modernisasi yang bergerak cepat. Mustafa Kemal dan elit politik lainnya juga berpandangan bahwa Islam merupakan simbol keterbelakangan yang bertanggungjawab terhadap kekalahan final periode Turki Usmani.

Kondisi sosial politik Turki telah terjadi perubahan sejak kekalahan Partai Rakyat Republik dalam pemilihan umum pada tahun 1950 tepatnya di bulan Mei. Pada masa itu pula Partai Rakyat Demokrat berkuasa di bawah pemerintahan Adnan Monderes. Melihat kemunduran yang terjadi di Tukri pada saat itu, Said Nursi merasa sangat gelisah, sehingga mendorongnya untuk melakukan gerakan-gerakan sebagai pertahanan Islam.

Pada periode tersebut, kekhalifahan Turki Utsmani mengalami titik kelemahannya, sedangkan para cendekiawan Barat peradabannya semakin berkembang dengan pesat. Dengan demikian, masyarakat Turki menjadi lebih mudah untuk dipengaruhi, karena budayanya pada saat itu terasa bertolak belakang dengan ajaran yang dibawa oleh Islam. Pristiwa tersebut tentunya menjadi salah satu faktor jatuhnya nilai-nilai Islam di Turki.

Melihat problematika tersebut, Said Nursi terus berupaya untuk mengembalikan kejayaan di wilayah Turki. Atas peristiwa itu pula, berhasil mendorong Said Nursi untuk melakukan perubahan serta pengembanan pola pikirnya. Awalnya, beliau mengedepankan ajaran nilai-nilai sufistik dalam menyebarkan ajaran Islam di Turki, akan tetapi berdasarkan peristiwa yang sedang terjadi berliau perpandangan bahwa berpikir kritis dan rasionalis akan gerakan politik Islam sangat diperlukan.

Said Nursi melakukan berbagai gerakan yang menekankan perpaduan antara tradisional dan modern, dengan tujuan agar umat Islam dapat segera menyesuaikan perkembangan zaman. Beliau berusaha keras menerapkan nilai-nilai Islam yang komprehensif demi mengembalikan dan mempertahankan kejayaan Turki. Dalam sebuah naskah yang berjudul “The Risale Nur Movement (is it A Sufi Order, A Political Society, or Community)” karya Ahmed Akgundus dijelaskan terkait gerakan-gerakan yang digagas oleh Said Nursi yaitu sebagai berikut;

Pertama, Said Nursi menekankan adanya komunitas-komunitas tertentu berlandaskan nilai-nilai Islam. Menurut beliau, komunitas yang telah terbangun dengan baik akan menciptakan komunikasi lebih besar dan cepat berkembang. Berdasarkan perjalanan intelektualnya, saat berkunjung ke Istambul pada tahun 1907 M beliau berusaha mengomunikasikan kepada pemerintah atas keinginannya dalam membangun sebuah institusi pendidikan yang bernilai Islam.

Kedua, Said Nursi menekankan kepada masyarakat bahwa rasa percaya diri merupakan kunci awal sebuah kesuksesan, karena rahmat Allah SWT akan selalu menyertai orang-orang yang tidak berputus asa. Oleh karena itu, apabila bangsa Turki berani dan mampu untuk bangkit dari keruntuhannya, maka rasa percaya diri merupakan salah satu faktor utamanya.

Ketiga, Said Nursi menegaskan bahwa beliau tidak anti terhadap demokrasi. Sebagai salah satu sistem kepemerintahan modern, maka ia tidak pernah melakukan bantahan terhadap adanya sistem demokrasi. Akan tetapi, Said Nursi sangat menyayangkan bahwa nilai-nilai agama seharusnya menjadi nafas dalam sistem demokrasi justru dijauhkan dengan dalih pembangunan Turki yang dilakukan oleh rezim sekuler.

Keempat, Said Nursi menegaskan bahwa kekerasan dalam kepemerintahan harus dihindari. Beliau berpandangan, kekerasan tidak akan pernah bisa menyelesaikan permasalahan dengan baik. Oleh karena itu, meskipun ia memiliki banyak murid di Turki namun tidak pernah melakukan mobilisasi kekerasan untuk melawan kepemerintahan. Bahkan, pada saat Said Nursi berada diperasingan (dipenjara) tidak pernah ia melakukan pemberontakan dengan jalan kekerasan.

Kelima, menjalin ikatan persaudaraan yang unggul berlandaskan pada nilai-nilai keamanan dan kestabilan. Menurut pandangan Said Nursi bahwa keamanan akan terjadi apabila masyarakatnya mampu menjalin hubungan persaudaran yang baik serta kuatnya sikap saling menghargai dan menghormati.

Adapun cara-cara yang telah dilakukan oleh Said Nursi dalam melakukan pembelaan terhadap nilai-nilai keislaman tersebut berdasarkan Alquran surat al-Hajj ayat 39-40.

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ   

Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka didzalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong merek itu. (QS. al-Hajj: 39).

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Yaitu orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (QS. al-Hajj: 40).

Atas kepeduliannya yang sangat tinggi terhadap pembelaan Islam di Turki berhasil mendorongnya untuk banyak berkontrsibusi. Selain melalui gerakan-gerakan yang telah beliau lakukan, juga melalui tulisan dengan judul Risalah Nur. Karya tersebut memuat ajaran nilai-nilai Islam secara komprehensif untuk mempertahan kejayaan negara yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Dapat kita ambil kesimpulan bahwa Said Nursi merupakan ulama yang sangat berjasa dalam mengembalikan dan mempertahankan kejayaan Turki melalui nilai-nilai keislaman yang dijadikan nafas dalam sistem kepemerintahan. Beliau yakin bahwa apabila dalam sistem kepemerintahan menerapkan nilai-nilai keislaman yang baik dan benar, maka suatu kejayaan akan didapatkan.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here