BincangSyariah.Com – Kajian hadis di Indonesia dimulai abad ke-17 dengan munculnya kitab Hidayah Al-Habib fi Targhib wa Tarhib karya Nuruddin Al Raniri. Perkembangan selanjutnya memasuki masa vakum, hal ini dikarenakan kondisi bangsa Indonesia yang sedang dijajah oleh Belanda. Barulah pada abad ke-20 terbitlah kitab Manhaj Dhawi Al Nazar karya Mahfudh Termas. Pada abad inilah Indonesia menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam kajian hadis.

Selanjutnya adalah kitab Risalah Ahlu Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah, yang merupakan mutiara agung dari KH Hasyim Asy’ari. Kitab tersebut muncul sebagai respons dari kondisi keberagaman masyarakat kala itu. Karya tersebut sangat berpengaruh dan menjadi rujukan utama dalam kajian hadis ketika itu.

Ulama yang dikenal sebagai pribadi sederhana ini bernama Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ’Abd al-Wahid ibn ’Abd al- Halim, yang biasa dikenal dengan KH Hasyim Asy’ari. Beliau dilahirkan di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur, tanggal 24 Dhulqaidah 1287 H (14 Februari 1871 M.). Ayahnya, Asy’ari adalah pendiri Pesantren Keras, 8 KM dari Jombang. Sementara kakeknya Kyai Usman, adalah kyai terkenal dan pendiri Pesantren Gedang di Jombang yang didirikan tahun 1850-an. Sementara itu, dari pihak ibu, masih keturunan Raja Brawijaya, seorang raja di Pulau Jawa. Dipercaya bahwa ia keturunan Raja Muslim Jawa, Jaka Tingkir, dan Raja Hindu Majapahit, Brawijaya VI.

Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang sangat memegang teguh ajaran Islam dengan tradisi pesantren yang sangat kuat. Setelah mendapatkan pendidikan di pesantren di bawah bimbingan orang tua dan kakeknya sampai remaja, KH Hasyim Asy’ari juga mengembara ke berbagai pesantren di Jawa dan Madura. Pada tahun 1893, KH Hasyim Asy’ari kemudian melanjutkan pendidikan di Mekkah selama 7 tahun, di bawah bimbingan Syaikh Mahfudh Termas, ulama Indonesia yang pertama mengajar Shahih Bukhari di Mekkah. Darinya KH Hasyim Asy’ari mendapatkan ijazah mengajar Shahih Bukhari yang merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadits dari 23 generasi penerima karya ini.

Baca Juga :  Hadis Syam Tempat Berkumpul Manusia di Akhir Zaman

KH Hasyim Asy’ari juga belajar fikih mazhab Syafi’i di bawah bimbingan Ahmad Khatib yang juga ahli dalam bidang astronomi dan ilmu falak. Setelah cukup lama menuntut ilmu di Mekkah, KH Hasyim Asy’ari memutuskan kembali ke tanah air. Di Indonesia, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng pada tahun 1899 M. Tidak hanya melalui pendidikan dan pesantren, beliau juga mendirikan organisasi masa (Ormas) Islam yang dikenal dengan Nahdhatul Ulama (NU), didirikan pada tanggal 31 Januari 1926.

Kitab Risalah Ahl Al-Sunnah Wal Al-Jama’ah ditulis oleh KH Hasyim Asy’ari di antara tahun 1920-1930 an. Kitab ini menjadi kitab kunci untuk mempelajari pemikiran hadis Hasyim Asy’ari. Pemikiran hadis Hasyim Asy’ari berkisar tentang sunnah dan bid’ah. Beliau memberikan penjelasan kepada umat Islam tentang pentingnya memegang teguh ajaran agama Islam yang bersumber dari Alquran dan Hadis dan menjauhkan dari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan sumber ajaran Islam di atas.

Secara sekilas, pandangan Hasyim Asy’ari tentang Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah mencerminkan corak metodologi konvensional yang digunakan oleh para teolog (mutakallimin) Muslim era klasik. Dengan menggunakan identifikasi yang dilakukan oleh Fazlur Rahman, corak metodologi dimaksud bercirikan hal-hal sebagai berikut:

(1) bertujuan menetapkan akidah “aliran yang selamat” (al-firqah al-najiyyah) melawan aliran sesat; (2) menjelaskan perbedaan di antara berbagai aliran; (3) menjelaskan pendapat orang-orang Islam dan perbedaan di antara mereka yang salat; (4) menyajikan akidah berbagai aliran kaum Muslimin dan orang-orang musyrik; (5) mengikuti kaidah-kaidah golongan salaf secara konsisten; mengutamakan al-itba’ (kepengikutan terhadap pendahulu) tanpa pengembangan (al-ibda’); dan (6) menghimpun kandungan buku-buku klasik yang berserakan.

Persoalan lain yang menjadi sorotan Hasyim Asy’ari adalah bid’ah. Mengenai bid’ah ini merupakan lawan dari kata sunnah, dengan merujuk pendapat Syaikh Zaruq dalam kitab Uddah al-Murid, Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa bid’ah adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian agama, padahal sebenarnya bukan, baik secara formal maupun hakikat.

Baca Juga :  Empat Tipe Manusia terkait Urusan Dunia

Berbeda dengan kalangan yang menganggap bahwa, seluruh perkara baru adalah bid‘ah dan sekaligus sesat tanpa terkecuali, bagi Hasyim Asy’ari tidak semua muhadathat berstatus bid‘ah. Dalam bahasa berbeda dapat dinyatakan, tidak semua muhadathat adalah bid‘ah, meskipun tidak terdapat dalil yang jelas (sharih), namun bisa jadi tetap bersandar pada syariat. Sandaran dimaksud dapat dengan menggunakan berbagai pendekatan metodologis yang ada, misalnya melalui mekanisme penganalogian (qiyas). Hal ini berarti, penerjemahan terhadap teks-teks otoritatif (hadits) tentang bid’ah harus menggunakan pendekatan yang lebih menyeluruh atau tidak hanya tekstual semata.

Melalui karyanya tersebut, KH Hasyim Asy’ari berhasil meletakkan dasar-dasar kajian hadis dan solusi teologis bagi persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Bisa dikatakan bahwa kitab Risalah Ahlu Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah berperan sebagai filtrasi terhadap fenomena keberagaman yang sedang berkembang di Indonesia dalam menghadapi tantangan modernitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here