BincangSyariah.Com – Haji merupakan rukun Islam kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa. Sehingga pergi haji ke Makkah menjadi dambaan setiap umat Muslim di dunia.
Terlebih di dalam hadis ṣaḥīḥ riwayat al-Bukhārī menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. menjanjikan surga bagi ibadah haji yang mabrur sebagai berikut: .

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Dari Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda: “Ibadah Umrah yang satu dengan ibadah umrah yang kedua itu kafarat (penghapus dosa kecil) antara kedua umrah tadi, dan haji yang mabrur tidak ada balasan kecuali surga.”(HR. Albukhari).

Keutamaan haji tersebut menggiurkan umat Islam untuk tidak hanya haji sekali saja. Ditambah lagi hal ini menjadi bisnis empuk perusahaan travel dengan menawarkan naik haji plus dan umrah dengan memasang iklan sejumlah pejabat publik dan artis terkenal di depan ka’bah.
Fenomena kemaruk haji dan umrah inilah yang kemudian menjadikan semasa hidupnya almarhum Ali Mustafa “kesal” melihat orang-orang kaya yang berkali-kali naik haji dan umrah untuk memenuhi dahaga ibadahnya.

Kekesalannya itu ia tulis di dalam bukunya Haji Pengabdi Setan, “Ketika banyak anak yatim terlantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak rumah Allah roboh, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah Swt.?

Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita?, apakah haji kita mengikuti Nabi Saw.? kapan Nabi Sw. memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau, sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, berarti ibadah haji kita bukan karena Allah Swt., melainkan karena menuruti perintah setan.”

Baca Juga :  Mengenal Hasbi Ash Shiddiqiey: Penggagas Fiqh Mazhab Indonesia

Oleh karena itu Ali Mustafa memfatwakan agar umat Islam cukup pergi haji sekali. Argumen yang dibangun adalah ibadah haji baru diwajibkan kepada umat Islam pada tahun 6 H. Walau begitu, Nabi Saw. dan para sahabat belum menjalankan ibadah haji, karena saat itu Makkah masih dikuasai kaum musyrik.

Pada tahun 7 H. pun Nabi Saw. juga tidak melaksanakan haji. Setelah Nabi Saw.menguasai Makkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadhan 8 H., sejak itu beliau berkesempatan beribadah haji. Tetapi Nabi Saw. tidak beribadah haji pada 8 H. itu.
Nabi Saw. juga tidak haji pada tahun 9.

Baru pada tahun 10 H. menjalankan ibadah haji. Dan tiga bulan kemudian beliau wafat. Itu artinya Nabi Saw. memiliki kesempatan ibadah haji tiga kali, tahun 7, 8 dan 9 H.
Namun kenyataannya Nabi Saw. hanya haji sekali, dan Nabi Saw. juga berkesempatan umrah beribu-ribu kali, tetapi beliau hanya melaksanakan umrah tiga kali, dan umrah wajib bersama haji sekali.

Pendapat Ali Mustafa tentang haji cukup sekali ini juga berbasis pada riwayat al-Bukhari berikut ini:

عَنْ قَتَادَةَ سَأَلْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَمْ اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ عُمْرَةُ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ حَيْثُ صَدَّهُ الْمُشْرِكُونَ وَعُمْرَةٌ مِنْ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ حَيْثُ صَالَحَهُمْ وَعُمْرَةُ الْجِعِرَّانَةِ إِذْ قَسَمَ غَنِيمَةَ أُرَاهُ حُنَيْنٍ قُلْتُ كَمْ حَجَّ قَالَ وَاحِدَةً

“Dari Qatadah; aku bertanya kepada Anas bin Malik ra. “Berapa kali Nabi Saw. beribadah umrah?, Anas menjawab, “Empat kali”, yaitu; pertama umrah Hudaibiyyah (6 H.) di bulan Dzū al-Qa‟dah saat dihalang-halangi kaum musyrikin, kedua, umrah yang dilakukan pada tahun berikutnya (7 H.) di bulan Dzū al-Qa‟dah, ketiga, umrah ji‟ranah pada saat pembagian harta rampasan perang (ghanimah) Ḥunaīn. Aku bertanya lagi, “Berapa kali Nabi Saw. beribadah haji? Anas menjawab, “Satu kali.”(HR. Albukhari)
Sehingga menurut Ali Mustafa tipikal haji dan umrah berkali-kali bukan ajaran Nabi Saw. Sedangkan yang diajarkan Nabi Saw. adalah memprioritaskan ibadah ibadah sosial dari pada ibadah sunnah (individual).

Baca Juga :  Wali yang Tidak Tahu Dirinya Wali

Seperti tiga hal yang diperhatikan Nabi Saw. setelah hijrah dan menetap di Madinah, yaitu memperhatikan pasukan jihad fi sabilillah yang memerlukan biaya, menyantuni anak yatim dan janda-janda yang ditinggal suaminya gugur di medan perang, dan menanggung biaya sahabat-sahabat Nabi Saw. yang tidak memiliki apa-apa kecuali dirinya sendiri.

Mereka belajar pada Nabi Saw. dan tinggal di al-Ṣuffah masjid Nabawi dan berjumlah ratusan. Mereka dikenal dengan nama ahl al-Ṣuffah. Tiga hal inilah yang lebih diprioritaskan oleh Nabi Saw., bukan pergi haji berkali-kali atau menggiring jamaah sahabat umrah tiap bulan.

Ali Mustafa juga berhujjah dengan pendapat ulama dari kalangan Tabiin seperti Muhammad bin Sirrīn, Ibrahim al-Nakhā‟ī, dan Mālik bin Anas yang mengatakan bahwa beribadah umrah setahun dua kali hukumnya makruh, karena Nabi Saw dan ulama salaf tidak pernah melakukannya.

Bahkan menurut Ali Mustafa kepergian haji dan umrah berkali-kali bukan lagi makruh, melainkan haram di tengah rata-rata keadaan umat Islam saat ini yang sangat memprihatinkan. Karena Ali Mustafa sangat memperhatikan kaidah fiqh “al-Muta‟addiyah afḍal min al-qāṣirah” (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual). Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here