Tauhid Menurut Abu Hasan Al Asy’ari

3
3698

BincangSyariah.com – Kegaduhan pasca-pembakaran bendera HTI di Garut menuai polemik tentang apa, bagaimana, dan di mana tauhid itu harus dijunjung? Berikut pemaparan singkat mengenai konsep tauhid menurut Abu Hasan Al Asy’ari.

Abu Hasan Al Asy’ari dikenal sebagai ulama moderat Ahlussunnah wal Jamaah. Beliaulah yang mengembangkan ajaran mengenai 20 sifat wajib Allah, dan 20 sifat mustahil bagi Allah. Metode mengenai 20 sifat wajib dan 20 sifat mustahil bagi Allah itu sangat familiar bagi kita, karena di masjid-masjid hal itu sering dilantunkan dan disambung dengan salawat.

Dikutip dari buku Madzhab Ukhuwah karangan Samsul Arifin dan Taufiq Maulana, seseorang yang ingin mengenal Allah maka ia harus harus mengkaji dan mempelajari terlebih dahulu ke-20 sifat wajib dan mustahil bagi Allah. Hal itu sebagai dasar untuk mengenal kerangka utuh pemikiran Abu Hasan Al Asy’ari mengenai tauhid.

Konsep tauhid menurut Abu Hasan Al Asy’ari meliputi tiga aspek: zat, sifat, dan perbuatannya. Dalam 20 sifat wajib dan mustahil bagi Allah, dijelaskan secara zahir tentang apa itu zat, sifat, dan perbuatan bagi Allah. Misalnya, sifat Qudrat (berkuasa) bagi Allah ialah suatu kekuasaan yang bersifat mutlak yang tak terukur batasannya. Sifat Qudrat itu termaktub dalam dalil naqli salah satunya pada Q.S. Al Baqarah ayat 20: “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”

Pada periode pertama pembuatan takwil persoalan akidah yang di dalamnya termasuk konsep tauhid, beliau memfokuskan hal itu dengan menghubungkannya dengan ayat-ayat mutasyabihat. Misalnya di dalam Alquran terdapat kata yaddu (tangan) Allah, hal itu tidak serta merta dapat diartikan secara tekstual, melainkan harus ditakwilkan terlebih dahulu. Maka menurutnya, barang siapa yang mengartikan itu sebagai “tangan Allah”, berarti orang tersebut dianggap kafir karena secara tidak langsung Allah disamai dengan makhluk (yang bertangan).

Baca Juga :  Menelusuri Dalil Halal Bihalal dalam Islam

Konsep tauhid Abu Hasan Al Asy’ari dilandasi dengan dasar Alquran dan hadis yang dielaborasikan dengan pemahaman rasional moderat. Yang mana pasca wafatnya beliau, para pengikutnya (Asy’ariyah) membuat istilah mengenai attakwil dan attanzih. Attakwil diartikan sebagai interpretasi terhadap makna implisit ayat, sedang attanzih berarti mensucikan Allah dari segala hal yang mengarah pada unsur makhluk.

Jika hal ini dirujuk pada kasus pembakaran bendera HTI oleh Banser NU, jika pembakaran itu diniatkan sebagai bentuk upaya mensucikan Allah, maka hal itu sudah sesuai dengan metode tanzih Abu Hasan Al Asy’ari. Karena seperti kita tahu, polisi telah menetapkan organisasi HTI sebagai ormas terlarang di Indonesia. Dan menurut Banser NU, pembakaran bendera tersebut merupakan upaya mengembalikan izzah kalimat tauhid dari ranah politik praktis.

Jika kita memahami khazanah pemikiran para ulama Islam, maka sejatinya kita akan paham bahwa orang beriman ialah mereka yang di hati dan perbuatannya tertanam dan tertulis kuat jiwa tauhid, bukan tertulis di bendera dan memanfaatkannya untuk kepentingan kerdil.

Wallahu a’lam.

3 KOMENTAR

  1. Bakar kalimat tauhid udah termasuk bagian dari pemahaman Abu Hasan Al Asy’ari ?

    NGACOK…!!!!!!!

    Admin Islam Nusantara!!!!!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here