Konsep Kemaksuman Para Wali dalam Pandangan Sufi

1
674

BincangSyariah.Com – Dalam artikel “Benarkah Para Wali Allah Maksum seperti Nabi?” telah dikatakan bahwa al-Qusyairi dalam Lata’if al-Isyarat dan ar-Risalah-nya mencoba memberikan basis legitimasi yang cukup kuat bagi kemaksuman para wali Allah.

Namun, kemaksuman yang diulas oleh al-Qusyairi ini tampaknya hanya terbatas pada tataran terhindarnya para wali Allah dari melakukan dosa-dosa dan maksiat-maksiat. Sebab, jika mereka melakukan maksiat, akan hilanglah asrar ilahiyyah (rahasia ketuhanan) yang telah mereka dapatkan sebelumnya. Jadi seorang wali pastinya ialah maksum dari dosa dan maksiat.

Dalam artikel tersebut, sebenarnya masih tersisa pertanyaan yang perlu didiskusikan lebih lanjut. Kita mungkin akan bertanya-tanya kepada Imam al-Qusyairi, sang punggawa sufi Ahlu Sunnah ini, apakah kemaksuman para wali dari melakukan dosa akan berimplikasi juga kepada kemaksuman ilmu, ilham atau hasil kasyaf yang mereka sebarkan? Sebut saja, apakah kemaksuman para wali juga berimbas kepada kemaksuman ilmu mereka dari kesalahan dan kekeliruan dan itu artinya mereka tidak pernah keliru dalam menyampaikan ajaran hasil kasyaf?

Jika kita melihat persoalan ini dari kerangka kemaksuman para nabi dimana mereka terhindar dari dosa dan maksiat dan juga terhindar dari kesalahan dan kekeliruan ketika menyampaikan wahyu dari Allah, tentunya dengan mengikuti kerangka kemaksuman kenabian ini, jawaban yang tepat,  ialah bahwa para wali Allah juga maksum dari kesalahan dan kekeliruan ketika menyampaikan ajaran-ajaran dari hasil kasyafnya.

Meski dalam ar-Risalah dan Lata’if al-Isyarat karya al-Qusyairi, tidak akan kita temukan jawaban secara tegas mengenai persoalan maksumnya ilmu para wali dari kekeliruan dan kesalahan, namun jika kita menelaah lebih jauh karya-karya sufi lainnya, misalnya seperti al-Luma karya Sirajuddin at-Thusi, al-Futuhat al-Makkiyyah karya Ibnu Arabi dan al-Yawaqit wal Jawahir karya Imam as-Sya’rani, akan kita temukan jawaban yang tegas: ilmu para wali yang didapat dari kasyaf ialah maksum dan itu artinya terhindar dari kekeliruan.

Baca Juga :  Menjadi Wali Karena Sering Memperingati Maulid Nabi

Kemaksuman ilmu para wali ini lahir dari kedekatan mereka dengan Allah SWT. Dengan kedekatan ini, hati mereka selalu tersinari oleh pancaran-pancaran ilahi. Orang suci atau wali yang selalu dekat dengan pancaran ilahi akan terhindari dari kegelapan dosa dan kekeliruan. Karena alasan ini pula lah, Ibnu Arabi dalam kitab al-Futuhat al-Makkiyyah mempertegas ketidakmungkinan ilmu-ilmu yang didapatnya melalui pancaran ilahi ini dari kesalahan dan kekeliruan.

Jadi kalau misalnya berbicara mengenai ilmu ketuhanan yang didasarkan kepada olah pikir seperti yang dilakukan oleh para ahli ilmu kalam, Ibnu Arabi tentu langsung menilainya sebagai tidak mungkin lepas dari kekeliruan dan kesalahan tapi jika ilmu ketuhanan ini didasarkan kepada olah batin/kasyaf yang dilakukan oleh para wali, tentu tidak mungkin salah. Untuk mempertegas ini, perlu kiranya kita kutipkan pandangan Ibnu Arabi terkait kemaksuman ilmu-ilmu yang didapatnya dari oleh spiritual:

ليس عندي بحمد الله تقليد لأحد غير رسول الله صلعم فعلومنا كلها محفوظة من الخطأ.

“Dengan mengucap puji syukur kepada Allah, aku tidak pernah taklid kepada siapapun selain kepada Rasulullah langsung. Jadi ilmu-ilmu kami semuanya terjaga dari kemungkinan salah dan keliru.”

Kutipan ini mempertegas bahwa para wali tidak akan mungkin salah dan keliru ketika mereka menyampaikan ajaran-ajarannya. Hal demikian karena yang mereka sampaikan semuanya berasal dari pancaran hidayah ilahi sehingga dengan cahaya ilahi ini mereka mendapat keterjagaan dari Allah SWT, baik keterjagaan dari maksiat dan dosa maupun keterjagaan dari kekeliruan dalam menyampaikan ajaran-ajaran kewalian.

Berangkat dari kutipan-kutipan Ibnu Arabi dalam kitab al-Futuhat al-Makkiyyah-nya, Imam as-Sya’rani dalam al-Yawaqit wal Jawahir kemudian memberikan komentarnya demikian:

فهذه النقول تدل على أن كلام الكمل لا يقبل الخطأ من حيث هو والله أعلم.

Baca Juga :  Laits bin Sa'ad; Sahabat Imam Malik Asal Mesir yang Kaya dan Dermawan

“Kutipan-kutipan ini (maksudnya tentang keterjagaan ilmu yang  para wali ajarkan dari kesalahan) menunjukkan bahwa ilmu-ilmu wali tidak akan mungkin terjerumus dari kekeliruan dan kesalahan.”

Tentu yang disampaikan oleh Imam as-Sya’rani dalam al-Yawaqit wal Jawahir ini mempertegas kembali yang disampaikan oleh Ibnu Arabi dalam kitab al-Futuhat al-Makkiyyah, yakni bahwa para wali tidak akan mungkin melakukan kekeliruan dan kesalahan, baik kekeliruan pada tataran ilmu yang mereka ajarkan maupun dalam tataran perilaku yang mereka lakukan. Benarkah demikian? Allahu A’lam sayangnya saya bukan wali.

1 KOMENTAR

  1. […] Ayat di atas juga menunjukkan bahwa para Nabi adalah orang yang ma’shum, terjaga dari kesalahan dalam memberi fatwa dan hukum, karena Allah mewajibkan semua orang untuk tunduk lahir-batin pada hukum mereka. Perintah Allah tersebut menafikan kesalahan yang terjadi atas para nabi tersebut. (Baca: Konsep Kemaksuman Para Wali dalam Pandangan Sufi) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here