Konflik di Suriah dan Kekuatan Rezim Bashar Al-Assad

0
15

BincangSyariah.Com – Konflik di Suriah muncul pada 2011. Hingga saat ini, konflik belum mereda. Konflik yang muncul di negara Suriah disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor paling menonjol adalah kekuatan rezim presiden Bashar Al-Assad dan intervensi asing.

Sekilas Tentang Suriah

Negara Suriah modern didirikan setelah Perang Dunia I sebagai mandat dari negara Prancis. Pada April 1946, Suriah berhasil merdeka dan menjadi sebuah negara republik parlementer.

Setelah kemerdekaan tersebut, negara Suriah modern mengalami kekacauan yang sebagian besar disebabkan oleh kudeta yang berlangsung pada periode 1949 sampai dengan 1971.

Total luas wilayah Suriah adalah 185.180 km persegi dengan mayoritas wilayahnya adalah gurun. Letak negara Suriah yang strategis dan potensi kekayaan alam menjadikan Suriah sebagai negara yang diperebutkan oleh berbagai kekuatan politik baik regional maupun global.

Suku mayoritas di Suriah adalah Arab dengan persentase 90,3%. Sisanya adalah suku Kurdi, Armenia dan lain-lain dengan persentase 9,7%. Dari seluruh penduduk Suriah, pemeluk Islam tercatat berjumlah 87% dengan persentase Sunni 74% dan Syiah 13%. Penganut Kristen sekitar 9%, dan pengikut Druze berjumlah 3 sampai 7%.

Suriah berhasil menjelma menjadi negara pecontohan bagi seluruh negara di dunia sebagai negara yang merdeka dengan ekonomi yang terpusat. Di Suriah, kondisi hidup masyarakatnya berhasil berkembang secara mandiri tanpa neoliberalisme dan dominasi ekonomi Barat.

Perkembangan Politik

Ghafur dalam penelitiannyayang berjudul Problematika Kekuatan Politik Islam di Yaman, Suriah, dan Aljazair (2015) mencatat bahwa setelah kudeta selesai, Hafez Al-Assad kemudian disetujui sebagai Presiden Suriah melalui referendum yang berlangsung pada tahun 1971 sampai tahun 2000.

Hafez Al-Assad bersama saudaranya Rifyad Assad berhasil membawa negara Suriah melewati masa-masa sulit Perang Enam Hari melawan Israel pada 1967. Sepeninggal Hafez Al- Assad pada 2001, pemimpin Suriah kemudian digantikan oleh sang putra, Bashar Al-Assad sejak 17 Juli 2000.

Rezim Bashar Al-Assad didukung oleh Partai Ba’ath yang didirikan pada 7 April 1947 di Damaskus oleh Michel Aflaq (Kristen), Salah al-Din al- Bitar (Sunni Muslim) dan Zaki al-Arsuzi (Alawite).

Transisi kepemimpinan dari Hafez Al-assad ke putranya Bashar Al-Assad pada tahun 2000 membuat masyarakat Suriah menaruh harapan besar akan adanya reformasi politik yang dapat mengakomodir berbagai kepentingan di Suriah.

Bashar Al-Assad membawa perekonomian Suriah menuju banyak kemajuan dan mampu mencukupi kebutuhan pangan secara mandiri sejak 2006. Sayangnya, kemajuan ekonomi di Suriah tidak memberi jaminan negara tersebut akan kebal terhadap revolusi. Hal ini disebabkan karena korupsi yang telah mengakar di lingkungan elit politiknya.

Suriah mulai kesulitan mencapai kebutuhan nasional pada saat bencana kekeringan ekstrem melanda kawasan Timur Tengah. Kondisi yang perlahan memperburuk perekonomian akhirnya menimbulkan frustasi di tengah masyarakat yang pada akhirnya menginginkan terjadinya perubahan di Suriah.

Salah satu faktor yang mendorong hal tersebut adalah Presiden Bashar Al-Assad tidak berbuat banyak untuk meringankan dampak bencana yang terjadi. Faktor lain yang menjadi alasan mengapa konflik di Suriah terjadi adalah masalah sekterian.

Gejolak Konflik

Puncak konflik di Suriah yang dialami masyarakatnya bermula dari aksi pembakaran diri oleh Hasan Ali Akleh pada 26 Januari 2011 yang terinspirasi oleh kasus pembakaran diri di Tunisia. Aksi tersebut menimbulkan rasa marah di hati masyarakat Suriah.

Konflik di Suriah kembali mencuat pada 6 Maret 2011 di mana muncul perlawanan di Kota Deraa yang dilakukan oleh para orang tua karena anak-anaknya di tahan oleh polisi setempat. Alasan penahanan tersebut adalah karena anak-anak membuat grafiti dengan tulisan As-Shaab Yoreed Eskaat el Nizam yang berarti rakyat ingin menumbangkan rezim.

Lima belas orang anak yang ditahan tersebut disiksa saat berada di dalam penjara. Penyiksaan tersebut menyulut emosi rakyat Suriah dan menimbulkan demonstrasi yang lebih keras terhadap pemerintah.

Demontrasi tersebut kemudian direspons oleh pemerintah dengan kekerasan dan menjadi berita utama di media massa internasional terutama media arus utama. Banyak media melaporkan berita dengan masif tanpa melihat fakta dan cenderung mengaburkan kebenaran.

Banyak media yang menyebutkan bahwa demo di kota Deraa dihadapi secara brutal oleh rezim Bashar Al-Assad. Sejak saat itulah stigma kebrutalan Assad dalam menghadap demonstran damai mulai menyebar ke seluruh dunia.

Kecaman atas konflik di Suriah kemudian muncul dari dunia internasional terhadap pemerintah Assad untuk segera menghentikan kekerasan yang dilakukan oleh rezim. Upaya untuk menggulingkan presiden Bashar Al-Assad dilakukan sejak Maret 2011.

Proses kudeta yang terjadi melibatkan kelompok oposisi hingga pihak Barat seperti negara Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Uni Eropa dan Kanada yang menyerukan Assad untuk meletakkan jabatannya.

Presiden Bashar Al-Assad yang berhasil terpilih kembali di tahun 2014 membuktikan bahwa pemerintahannya masih didukung oleh sebagian besar masyarakat, tokoh-tokoh agama, dan kekuatan militer yang membuat kudeta atas dirinyadinilai cukup sulit.

Tentara Suriah atau Syrian Arab Army (SAA) adalah kekuatan utama yang dimiliki oleh Bashar Al-Assad dalam menghadapi tekanan kuat dari kelompok-kelompok oposisi.

Bashar Al-Assad berkomitmen tetap memerangi teroris yang menduduki beberapa kota di Suriah dan ia yakin akan bisa merebut kembali negaranya yang terkoyak oleh perang.

Efek Arab Spring

Konflik di Suriah adalah efek domino dari fenomena Arab Spring yang melanda kawasan Timur Tengah pada 2010. Konflik di Suriah relatif lebih lama dan masih berlangsung hingga saat ini, berbeda dengan yang terjadi di sejumlah negara Timur Tengah dan Afrika Utara.

Konflik internal di Suriah muncul pada awal Maret 2011 saat sejumlah pemuda Deraa menulis dengan kata-kata anti pemerintah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Para pemuda tersebut ditangkap oleh kepala sekolah dan dinas intelejen serta dipenjarakan. Pemerintah Suriah kemudian mengumumkan pembentukan komite investigasi pada 24 Maret 2011.

Presiden Bashar Al-Assad memerintahkan agar seluruh demonstran yang ditahan untuk dibebaskan. Tapi, perintah tersebut tidak menghilangkan kemarahan orang tua yang anaknya dipenjarakan dan menimbulkan demonstrasi tidak kian meluas.

Para demonstran kemudian mencetuskan untuk membentuk oposisi dan menurunkan rezim penguasa. Kelompok oposisi yang terbentuk dalam konflik tersebut terbagi menjadi dua yakni kelompok pro-reformasi dan kelompok yang berasal dari gerakan Islam radikal. Tiga kelompok oposisi pro-reformasi di Suriah adalah sebagai berikut:

Pertama, kelompok oposisi pro-reformasi yakni kelompok oposisi yang tergabung dalam Free Syrian Army (FSA) yang dipimpin oleh Kolonel Riadh Assad. FSA adalah kelompok angkatan bersenjata pihak oposisi negara Suriah.

Anggota kelompok oposisi ini terdiri dari mantan militer Assad yang membelot dan sukarelawan rakyat sipil. FSA mendapat dukungan senjata dan dana dari Amerika Serikat.

Kedua, SNC atau saat ini lebih dikenal dengan Syrian National Coalition for Opotition and Revolutionary Force (SNCORF) di bawah pimpinan Abdul Basith Saida, seorang akademisi Kurdi.

Kelompok yang kedua ini memiliki tujuan memperluas basis politik kelompok oposisi ditingkat internasional dan mendukung langkah-langkah penggulingan Bashir Al-Assad melalui intervensi internasional.

Ketiga, The National Coordination Committee for Democratic Change (NCC) yang dipimpin Hassan Abdul Azhim. Kelompok ketiga tersebut mendukung perubahan rezim tapi tidak dengan cara intervensi asing.

Baca: Tiga Faktor Terjadinya Konflik di Timur Tengah

Tiga kelompok oposisi yang mucul dari gerakan Islam Radikal yang juga menentang pemerintahan Bashar Al-Assad adalah kelompok oposisi radikal pecahan ISIS yakni Jabhah Al-Nusrah yang menginginkan pendirian negara Khalifah.

Ada juga Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang ingin memperluas pengaruhnya di Suriah dan menjelma menjadi gerakan transnasional yang memiliki anggota di luar Suriah.

Kelompok-kelompok yang menjadi oposisi pemerintah Suriah tersebut secara nyata didukung oleh negara-negara Arab dan Amerika Serikat melalui Syrian Support Group yang bermarkas di Doha.

Keterlibatan para kelompok oposisi demokratis dan sekuler pada pemilu dan referendum yang diadakan pada 2011 membuktikan bahwa pihak oposisi demokratis dan pemerintahan Bashar Al-Assad telah berdamai.

Tapi, adanya kelompok oposisi radikal dan teroris seperti FSA, Jabhat al Nusrah dan ISIS membuat konflik di Suriah masih berjalan sampai sekarang. Gencatan senjata yang ditawarkan pemerintah tidak diinginkan oleh para oposisi radikal. Kelompok oposisi hanya menginginkan konflik yang bersifat zero sum game di mana tidak ada kerjasama atau kompromi dalam konflik yang terjadi.

Saat ini, kekuasaan Bashar Assad menguat di tahun kesepuluh perang yang meluluhlantakkan Suriah. Tapi, kerusakan yang timbul tetap gagal menggusur Presiden Bashar Al-Assad dari kekuasaannya.[]

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here