Kondisi Ulama Saat Melemahnya Dinasti Murabithun (2)

0
1527

BincangSyariah.Com – Selain hanya mementingkan aspek jihad dan merebaknya perbuatan keji di masyarakat, melemah dan mundurnya Murabithun juga disebabkan oleh hal-hal lain. Kemunduran juga tidak hanya berasal dari perbuatan masyarakat biasa atau politikus saja, melainkan juga dari dari ulamanya. Berikut gambaran kondisi ulama saat melamahnya dinasti Murabihun,

Pertama, debat kusir antara ulama dan orang-orang awam. Para ulama tidak mampu untuk mengerti apa yang sebaiknya dibicarakan dan dibahas bersama masyrakat apa yang tidak. Terlebih orang awam, mereka juga tak mengerti apa yang dibicarakan oleh para ulama. Tidak seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, beliau selalu berbicara sesuai dengan kapasitas lawan bicaranya. Sehingga ucapannya bisa didengarkan oleh siapapun. Baik orang badui, orang pandai, orang awam, laki-laki maupun perempuan. Bahkan anak-anak sekalipun. Karena Nabi selalu berpaya menyesuaikan diri dengan lawan bicaranya dan tidak bersikap jemawa.

Kedua, banyaknya ulama yang memilih hidup mengisolir dari masyarakat. Para ulama pada masa Dinasti Murabithun cenderung membahas hal-hal yang furu’, tidak membahas hal-hal yang primer. Kecenderungan tersebut membuat mereka tidak dengan masyarakat dan tidak mengetahui permasalahan yang dialami oleh masyarakat. Hal-hal seperti perbuatan dosa, bencana, dan sebagainya luput dari perhatian para ulama. Keadaan ini sungguh tidak mencerminkan tokoh agama sebagai teladan maupun penanggung jawab sosial. Kemudian muncullah tren hidup mengisolir diri dari masyarakat.

Padahal saat itu penjualan minuman keras sedang marak secara terang-terangan. Penarikan pajak yang sebenarnya di luar kewajiban membayar zakat sangat memberatkan masyarakat. Para pejabat berbuar zalim, melakukan nepotisme, akan tetapi tiada satupun ulama yang mencegahnya. Muncul permainan alat musik dengan tarian para perempuan membuka aurat. Maraknya fenomena tersebut tak digubris oleh ulama. Mereka justru sibuk membicarakan teologi, berdebat tentang Murji’ah, Mu’athilah, dan perdebatan yang menimbulkan perdebatan.

Baca Juga :  Peninggalan Unik Muslim Zaragoza; Istana Ja’fariyah dan Arco del Dean

Ketiga, krisis ekonomi. Akibat kelalian mereka terhadap perkara yang urgen dan justru tenggelam pada kesenangan duniawi yang sesaat, mereka akhirnya mengalami krisis ekonomi. Roda pemerintahan tidak berjalan dengan baik dan ekonomi merosot. Pada tahun 1138 terjadi banjir besar di wilayah Tangier, salah satu kota di Maroko yang memakan banyak korban jiwa. Sebelumnya juga terjadi serangan belalang di ladang pertanian selama 5 tahun dari tahun sejak tahun 1132 M sampai 1137. Bencana tersebut membuat produksi pangan menurun dan kekurangan stok makanan pokok.

Di tahun yang sama pula, yaitu 1132 M, terjadi wabah yang terjadi dan memakan banyak korban sampai tewas. Bahkan sebelum bencana-bencana tersebut melanda, telah terjadi kebakaran besar di pasar kain di Cordova yang letaknya terhubung dengan pasar Baz. Kita bisa lihat, berbagai macam bencana tersebut telah memakan banyak harta dan jiwa manusia dan menyebabkan perekonomian rakyat memburuk.

Dalam kitabnya, Dr. Raghib as-Sirjani berpendapat bahwa krisis, polemik, bencana alam yang terjadi di Andalusia dan Maroko yang berada di bawah pemerintahan Dinasti Murabithun disebabkan karene hubungan mereka yang begitu renggang dengan Allah. Ketidakberkahan tersebut dihasilkan oleh hubungan mereka yang tidak baik dengan Allah. Kemudian ia mengutip surat al-A’raf [7]: 96,

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Sama halnya dengan apa yang diucapkan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya sebelum terjadi peristiwa banjir bandang. Cerita tersebut tercantum dalam surat Nuh  ayat 10-13:

Baca Juga :  Beberapa Kerajaan Islam Lainnya di Andalusia

٩  فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا ١٠ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا ١١ وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا ١٢  مَّا لَكُمۡ لَا تَرۡجُونَ لِلَّهِ وَقَارٗا ١٣

Artinya: 10. maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun (11) niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat (12) dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (13) Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here