Kitab Minhāj ath-Ṭālibīn dan Pengaruhnya di Nusantara: Refleksi atas Disertasi Mahmood Kooria

1
57

Bincangsyariah.Com – Minhaj At-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muttaqīn merupakan salah satu karya terbesar dalam bidang fiqh yang ditulis oleh ulama besar kenamaan mazhab Syafi’i, Abu Zakariyya ibn Syaraf al-Huzami an-Nawawī asy-Syāfi’ī (1277-1233 H/ 631-676 M) yang lebih dikenal dengan nama Imam An-Nawawī.

Sebagaimana diketahui, Imam An-Nawawi merupakan ulama yang menguasai berbagai disiplin keilmuan Islam. Ia menulis banyak karya dalam berbagai bidang seperti fiqh, hadis, ‘ulum al-hadits, akidah, tata bahasa Arab (gramatikal), ushul al-fiqh, dan sejumlah bidang keilmuan lainnya. Bagi mereka yang konsen dalam mengkaji fiqh mazhab Syafi’i, an-Nawawi mendapatkan predikat sebagai muharrir al-mazhab wa muhadzzibuhu, sebuah gelar yang menunjukkannya sebagai ulama garda terdepan dalam mazhab Imam Syafi’i. Tidak sampai disitu, dalam literatur-literatur fiqh mazhab Syafi’i yang ditulis setelah masa beliau seringkali dikatakan bahwa jika ada ungkapan “Syaikhāni” dalam kitab-kitab Syāfi’iyyah, maka yang dimaksud dengan dua Syaikh itu adalah Imam An-Nawawi dan Imam Ar-Rafi’i.

Imam An-Nawawi sendiri menulis sekian karya di bidang fiqh yang akan saya sebut sebagian disini. Karya-karyanya bisa dibilang menjadi rujukan primer bagi siapapun yang mau mendalami mazhab Syafi’I hari ini. Sebut saja misalnya Al-Majmū’ fi Syarh al-Muhadzzab (sebuah komentar cukup panjang dan rinci atas karya Abū Ishāq Asy-Syairāzī, kendati tidak sampai selesai), Raudhah Ath-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muttaqīn, Al-Īdhah fi al-Manāsik, Minhāj ath-Ṭalibīn wa ‘Umdat al-Muttaqīn, dan lain sebagainya.

Artikel ini tidak hendak membahas sosok Imam an-Nawawī. Artikel ini justru hendak menyajikan refleksi atas sebuah disertasi yang mencoba menjelaskan mengapa salah satu karya an-Nawawi menjadi satu-satunya kitab fikih kanonik dalam mazhab Syafi’i> yang digunakan di semua wilayah yang disebut-sebut umat Islamnya memeluk mazhab Syafi’ī, termasuk Indonesia. Disertasi yang dimaksud adalah karya dari Mahmood Kuria yang berjudul Cosmopolis of Law: Islamic Legal Ideas and Text Across The Indian Ocean and Eastern Mediterranean World. Disertasi tersebut telah diujikan di tingkat doktoral di Universitas Leiden, Belanda yang diujikan pada tahun 2016 lalu. Mahmood Kuria dalam disertasi ini mengungkapkan banyak hal yang berkaitan dengan sirkulasi teks-teks fiqh di dataran Laut Mediterania dan Samudera India. Kitab fiqh yang ditelitinya dalam disertasinya ini adalah karya Imam An-Nawawī berjudul Minhāj ath-Ṭālibīn.

Sebagai seorang santri yang cukup lama menggeluti kitab-kitab fiqh baik saat diajarkan di kelas maupun saat mengikuti diskusi dalam forum Bahtsul Masail, kitab-kitab fiqh yang di dalamnya termasuk karya Imam An-Nawawī ini merupakan kitab yang tak asing. Oleh karena itu, begitu mendapatkan informasi mengenai hasil penelitian Mahmood Kooria ini, saya ingin segera membacanya. Ingin mengetahui lebih jauh temuan-temuan akademik yang dihasilkan dalam risetnya.

Popularitas dan Sirkulasi Kitab Minhāj ath-Ṭālibīn: Dari Laut Mediterania sampai Samudera Hindia

Sebagai pengenalan, Minhāj at-Ṭalibīn ditulis sebagai semacam ringkasan atas kitab Al-Muharrar karya Imam Ar-Rafi’ī. Sedangkan kitab Al-Muharrar sendiri merupakan ringkasan atas rangkaian kitab-kitab fiqh yang ditulis oleh Imam Al-Ghazālī, yaitu Al-Basīṭ, Al-Wasīṭ, dan Al-Wajīz. Ketiganya secara berurutan merupakan proses ringkasan yang dilakukan al-Ghazālī terhadap Niḥāyat al-Maṭlab, karya fiqh yang monumental yang ditulis guru al-Ghazali, Imam ‘Abd al-Mālik al-Juwaynī atau yang biasa dikenal dengan nama Imam Al-Haramain. Karya Imam Al-Haramain ini merupakan induk dari kitab fiqh yang ditulis oleh ulama mazhab Syafi’i>, yang dimana ditujukan sebagai sebuah pedoman fiqh mazhab ini.

Struktur dan Genealogi Kitab Fiqh Mazhab Syāfi'ī
Struktur dan Genealogi Kitab Fiqh Mazhab Syāfi’ī
(diolah dari berbagai sumber)

Kitab Minhāj ath-Ṭālibīn ditulis oleh Imam An-Nawāwī pada abad ke-13 M di kota Damaskus, Syiria, wilayah yang berada di dekat pantai Mediterania Timur (Mahmood: 119). Meskipun ia merupakan sebuah ringkasan atas ringkasan-ringkasan kitab fiqh yang ditulis sebelumnya, Mahmood mengamati bahwa kitab ini justru mendapatkan apresiasi dan paling banyak tersebar di hampir segenap penjuru daerah umat Islam yang bermazhab Syafi’i. Bukan hanya itu, sebagaimana dikatakan Mahmood, sejak selesai ditulisnya karya ini menjadi memperoleh popularitas dan mengubah sejumlah hukum-hukum fikih yang ditulis sebelumnya. Bahkan ia merupakan kitab fiqh mazhab Syafi’i pertama yang mendapatkan komentar (commentaries/syarah), superkomentar (supercommentaries/hāsyiyah), ringkasan (abridgement/mukhtaṣar), puisi (poetic/naẓam) dalam jumlah yang sangat besar. Artinya, produksi pengetahuan, dalam hal ini produksi kitab-kitab fiqh bagi generasi setelah Imam An-Nawāwī, semakin pesat di satu sisi, sekaligus bermula dari kitab Minhāj ath-Ṭālibīn di sisi lain.

Dalam artikel ini saya tidak akan membahas apakah proses produksi pengetahuan dari matn ke syarh kemudian hāsyiyah, mukhtashar, dan lain sebagainya apakah termasuk bagian dari repetisi dalam pengertian positif sebagai dampak anjuran dan fatwa tertutupnya pintu ijtihad atau bukan.Yang jelas sebagaimana ditunjukkan oleh Mahmood Kooria dalam disertasinya, bahwa syarah-syarah (karya komentar) atas kitab Minhāj ath-Ṭalibīn yang ditulis oleh misalnya Ibn Hajar al-Haitamī dalam Tuhfat al-Muhtāj, kemudian Fath al-Mu’īn karya Zainuddin al-Malībārī yang meskipun tidak secara langsung mengomentari Minhāj, tetap melakukan inovasi-inovasi (baca: ijtihad) yang disesuaikan dengan konteks sosial yang mengitari dimana kitab syarah itu ditulis. Dan memang di bab awal dalam disertasinya ini, Mahmood mendiskusikan agak panjang mengenai problem tuduhan repitisi dan imitasi dalam tradisi penulisan syarah, hasyiyah ini.

Ada banyak pertanyaan penelitian yang diajukan oleh Mahmood Kuria di setiap chapter dalam disertasinya ini. Namun, pertanyaan utama yang ia ajukan dalam disertasinya ini adalah sejauh mana aspek kontinuitas dan diskontinuitas hukum Islam dalam mazhab Syāfi’ī ini terjadi? Mengapa genealogi teks/kitab tertentu, dalam hal ini al-Minhāj karya an-Nawāwī bisa begitu dominan bagi para ahli fikih dalam menjawab persoalan-persoalan keseharian umat Islam? Bagaimana mazhab Syāfi’ī bisa menyebar ke seluruh penjuru daratan Samudera India dan dataran laut Mediterania dan menjadi praktik hukum standar di masa pramodern?  Dan bagaimana proses pembentukan hukum yang lengkap di sebuah Kawasan “pinggiran” (peripheral) yang di mana masyarakatnya sangat aktif?

Untuk menjawab pertanyaan yang diajukannya, Mahmood menggunakan pembacaan teks kitab seraya menghubungkannya dengan konteks sosial, ekonomi, politik, dan jejaring keilmuan dalam simpul para sarjana di Damaskus, Kairo, Zanzibar, Mekkah, Hadramaut, Malabar, Aceh dan Jawa. Mahmood juga menggunakan sekaligus mengelaborasi konsep “Longue durée” yang digagas oleh Fernand Braudel. Mahmood mengembangkan konsep tersebut untuk menyelami sirkulasi teks Minhāj.

Minhāj for Shāfi’īsm is what the “Digest” is for Roman Law – Mahmood Kuria

Temuan penelitiannya Mahmood menunjukkan bahwa sirkulasi teks kitab Minhāj ke berbagai belahan dunia berkaitan dengan poros maritim yang menghubungkan antar negara. Terutama terjadi pada abad ketiga belas, enam belas, dan sembilan belas. Struktur dan sistematisasi isi kitab Minhāj yang secara hierarkis (seperti tabel di atas) juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam kanonisasi kitab ini. Hal ini diperkuat dengan karya-karya komentar yang ditulis setelahnya. Mahmood sekurangnya menganalisis beberapa karya komentar baik langsung maupun tidak langsung atas kitab Minhāj ini. Tuhfat al-Muhtāj yang ditulis oleh Ibn Hajar Al-Haitamī merupakan karya komentar terbaik dan otoritatif atas kitab Minhāj juga menjadi salah satu aspek penting dalam sirkulasi teks karya Imam An-Nawāwī ini. Sedangkan Fath al-Mu’īn, Nihāyat az-Zayn, dan I’anah ath-Ṭālibīn menopang aspek lainnya, terutama dalam apa yang Mahmood sebut sebagai sisipan “peripheral/pinggiran”.

Kritik terhadap Kategori Islam Periferal

Artikel ini tidak mungkin dapat memotret secara utuh disertasi setebal 320-an halaman. Untuk itu, jika Anda penasaran dan berminat atas disertasi ini silakan membacanya sendiri.

Terakhir, kesan saya membaca disertasi ini (meskipun belum dibaca seluruhnya) sungguh luar biasa menyenangkan. Pembaca diajak mengelana ke berbagai daerah, melintasi ruang dan waktu. Mahmood bukan hanya menyuguhkan persoalan kosmopolitanisme hukum Islam di Kawasan Samudera Hindia dan Laut Mediterania, melainkan menyajikan berbagai hal terkait masyarakat Muslim di Kawasan tersebut. Ia misalnya dengan sangat tajam melancarkan kritik kepada para sarjana yang telah membuat kategorisasi pusat Islam dan pinggiran (peripheral). Pusat Islam adalah Hijaz dan kawasan lain seperti Asia Tenggara disebut pinggiran, yang pada akhirnya menarik kesimpulan bahwa bahwa Islam pinggiran sudah tidak orisinal, sinkretik.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here