Kitab Kuning: Pembentuk Pandangan Hidup ala Pesantren

2
2127

BincangSyariah.Com – Kitab kuning atau dalam istilah lain kitab ‘gundul’ merupakan salah satu karakteristik keilmuan Islam klasik yang ada di pesantren. Kitab ini mampu berdialog dengan zaman panjang segala kearifan lokal yang beragam. Kemampuan kitab kuning ini tidak hanya bertumpu dalam keilmuan, melainkan juga mampu menghadapi dan menyelesaikan problematika sosial.

Di sisi lain kitab kuning tidak bisa kita pahami serta merta tanpa dibekali perangkat keilmuan yang memadai. Karenanya seorang pakar gramatika asal mesir, Syekh Syarafuddin Yahya al-‘Imrithi (w.989 H) menyatakan dengan tegas:

والنحو أولى أولا أن يعلما # إذ الكلام دونه لن يفما

Tata bahasa atau gramatika Arab lebih utama untuk dipelajari, karena teks (kitab kuning) tidak akan dipahami tanpa itu (nahwu dan sharaf).

Problem solving yang banyak ditawarkan kitab kuning mampu menjawab segala macam persoalan sosial, politik, budaya dan lain-lain. Seperti bahtsul masail yang menjadi tradisi rutin di pesantren, yang mana kitab selalu menjadi rujukan dan pijakan utama setelah Alquran dan Hadis. Jika dalam setiap kesimpulan hukum tidak dilengkapi dalil kitab kuning atau ijma’ maka itu tidak bisa dijadikan keputusan hukum yang sah dan kredibel.

Kitab kuning selalu memberikan pencerahan dan pemahaman agama melampaui teks, dan santripun dalam memahami kitab kuning tidak berhenti di teks. Maka bukan sesuatu yang langka jika banyak dari kalangan santri yang kritis, jeli, teliti, dan penasaran dengan sesuatu yang baru dan yang belum pasti. Tidak sedikit juga dari kaum santri yang secara tidak sadar mereka mengikuti teori Socrates pada bagian tugas filsafat “selalu mempermasalahkan jawaban” artinya kehadiran santri dan kitab kuning mampu memberikan pemahaman dari berbagai sudut pandang dan wawasan yang komprehensif.

Baca Juga :  Mengenal K.H. Achmad Baidhowi Asro

Ilmu yang terdapat dalam kitab kuning adalah nilai-nilai moral antara lain, inklusivitas dan toleransi. Maka perbedaan pendapat dan pandangan di kalangan para ulama terdahulu menunjukkan pluralitas pandangan yang sama sekali bukan hal tabu. Seperti perbedaan antara ulama Syafi’iyah, Hanabilah, Malikiyah, Hanafiyah dan antara teologi Asya’riyah dan Maturidiyah yang menjadi rujukan umum dari pesantren.

Yang jauh lebih penting dan menarik, kitab kuning merupakan manifestasi dari khazanah keilmuan aktor intelektual dari produk ijtihadi atau hasil dialog dengan zaman. Keberadaan kitab kuning merupakan upaya kontekstualisasi nilai dan ajaran islam ke dalam kehidupan konkret melalui proses negosiasi dengan realitas kehidupan. Seperti diktum pendapat dan keputusan hukum Imam Syafi’i selama masih di Irak (qoul qodim) dan ketika sudah menetap di Mesir (qoul jadid) ini salah satu contoh kecil yang tak bisa dielakkan.

Dari masa ke masa, pesantren selalu melihat perkembangan dan merespons kehidupan untuk mengeksplorasi keilmuan dan menciptakan produk hukum. Dengan pendekatan yang jauh dari sekadar pemahaman teks dan literalisme menunjukkan bahwa pesantren dengan kitab kuning yang menjadi ciri khas sangat terbuka dengan beragam pandangan, toleransi, moderasi. Ini salah satu karakteristik pesantren yang dapat mewarnai dan bisa menampilkan wajah Islam yang sebenarnya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here